ETNOMETODOLOGI
Etnometodologi adalah
salah satu teori yang dipayungi oleh paradigma definisi sosial. Paradigma ini
dilandasi analisis Weber tentang tindakan sosial (social action).
Analisis Weber dan Durkheim sangat terlihat jelas. Jika Durkheim memisahkan
struktur dan institusisosial, sebaliknya Weber melihat ini menjadi satu
kesatuan yang membentuk tindakan manusia yang penuh arti atau makna. “Tindakan
sosial merupakan tindakan individu yang mempunyai makna atau arti subjektif
bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain. Sebaliknya, tindakan
individu yang diarahkan kepada benda mati atau objek fisik semata tanpa
dihubungkan dengan tindakan orang lain bukan suatu tindakan sosial.”(Ritzer,
2009: 38).
Etnometodologi
dicetuskan oleh Harold Garfinkel di akhir tahun 1940-an tetapi baru menjadi
sistematis setelah diterbitkan karyanya yang berjudul Studies in
Ethnomethodology pada tahun 1967. Garfinkel adalah dosen pada UCLA di West
Coast. Akan tetapi baru dikenal oleh kalangan luas (oleh profesi-profesi lain)
pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Karyanya tersebut telah menarik minat
sosiolog diantaranya Blum, Cicourel, Douglas, McHugh, Sacks, Schegloff, Sudnow,
Wieder, Wilson dan Zimmerman.
Garfinkel melukiskan sasaran perhatian etnometodologi adalah realitas
objektif fakta sosial, fenomena fundamental sosiologi karena merupakan setiap
produk masyarakat setempat yang diciptakan dan diorganisir secara alamiah, terus menerus, prestasi praktis, selalu, hanya,
pasti dan menyeluruh, tanpa henti dan peluang menghindar, menyembunyikan diri,
melampaui atau menunda. Garfinkel mememunculkan etnometodologi
sebagai bentuk ketidaksetujuannya terhadap pendekatan-pendekatan sosiologi
konvensional selalu dilengkapi asumsi, teori, proposisi, dan kategori yang
membuat peneliti tidak bebas didalam memahami kenyataan social menurut situasi
dimana kenyataan sosial tersebut berlangsung.
Garfinkel sendiri mendefenisikan etnometodologi sebagai penyelidikan
atas ungkapan-ungkapan indeksikal dan tindakan-tindakan praktis lainnya sebagai
kesatuan penyelesaian yang sedang dilakukan dari praktek-praktek kehidupan
sehari-hari yang terorganisir. Etnometodologi Grafinkel ditujukan untuk
meneliti aturan interaksi sosial sehari-hari yang berdasarkan akal sehat. Apa
yang dimaksudkan dengan dunia akal sehat adalah sesuatu yang biasanya diterima
begitu saja, asumsi-asumsi yang berada di baliknya dan arti yang dimengerti
bersama.
Garfinkel
disaat awal memunculkan atau mengembangkan studi ini sedang mendalami fenomenologi
Alfred Schutz pada New School For Social Research.
Terdapat dugaan kuat bahwa fenomenologi Schutz sangat mempengaruhi
etnometodologi Grafinkel (Zeitlin, 1995). Ini terbukti dari asumsi sekaligus
pendirian dari etnometodologi itu sendiri. Bagi Schutz, dunia sehari-hari
merupakan dunia intersubjektif yang dimiliki bersama orang lain dengan siapa
kita berinteraksi. Dunia inter subjektif itu sendiri terdiri dari
realitas-realitas yang sangat berganda, dimana realitas sehari-hari tampil
sebagai realitas yang utama. Schutz memberikan perhatian pada dunia sehari-hari
yang merupakan common sense. Realitas seperti inilah
yang diterima secara taken for granted dimana mengesampingkan
keragu-raguan, kecuali realitas yang dipermasalahkan. Pembahasan realitas common
sense Schutz ini memberi Garfinkel suatu perspektif melaksanakan studi
etnometodologi sekaligus sebagai dasar teoritis bagi riset-riset
etnometodologi lainnya. Yang dimaksud realitas sosial oleh Schutz adalah
“keseluruhan objek dan kejadian-kejadian di dunia kultural dan sosial, yang
dihidupkan oleh pikiran umum manusia yang hidup bersama dengan sejumlah
hubungan interaksi. Itu adalah dunia objek kultural dan institusi sosial di
mana kita semua lahir, saling mengenal, berhubungan sejak permulaan (Poloma,
1994).
Sementara
pengaruh Parsons dalam etnometodologi adalah teori
aksi/tindakan yang diperkenalkan oleh Parsons. Dalam teori tindakannya, Parsons
berpendapat bahwa motivasi yang mendorong suatu tindakan individu selalu
berdasarkan pada aturan atau norma yang ada dalam masyarakat dimana seorang
individu hidup. Motivasi aktor tersebut menyatu dengan model model normatif
yang ditetapkan dalam sebuah masyarakat yang ditujukan untuk mempertahankan
stabilitas sosial itu sendiri. Asumsi Parsons ini senada dengan pendirian
etnometodologi, terutama dari Garfinkel dan Douglas yang mengatakan bahwa
seseorang di dalam menetapkan sesuatu apakah tindakan/perilaku, bahasa, respon
atau reaksi selalu didasarkan pada apa yang sudah diterima sebagai suatu
kebenaran bersama dalam masyarakat (common sense).
Pemahaman
lebih mendalam tentang sifat dasar etnometodologi akan bisa didapatkan dengan
meneliti upaya pendirinya Harold Garfinkel untuk mendefinisikannya. Sebagaimana
Durkheim, Garfinkel menganggap fakta sosial sebagai fenomena sosiologi
fundamental. Namun fakta sosial menurut Garfinkel sangat berbeda dari fakta
sosial menurut Durkehim. Menurut Durkheim, fakta sosial berada di luar dan
memaksa individu. Pandangan ini cenderung melihat aktor dipaksa atau ditentukan
oleh struktur dan pranata sosial dan sedikit sekali kemampuannya atau tidak
mempunyai kebebasan untuk memuat pertimbangan. Sebaliknya etnometodologi
membicarakan obyektivitas fakta sosial sebagai prestasi anggota, sebagai produk
aktivitas metodologis anggota. Dengan kata lain etnometodologi memusatkan
perhatian pada organisasi organisasi kehidupan sehari-hari.
Etnometodologi
Grafinkel ditujukan untuk meneliti aturan interaksi sosial sehari-hari yang
berdasarkan akal sehat. Apa yang dimaksudkan dengan dunia akal sehat adalah
sesuatu yang biasanya diterima begitu saja, asumsi-asumsi yang berada di
baliknya dan arti yang dimengerti bersama. Inti dari etnometologi Granfikel
adalah mengungkapkan dunia akal sehat dari kehidupan sehai-hari. Garfinkel mememunculkan etnometodologi
sebagai bentuk ketidaksetujuannya terhadap pendekatan-pendekatan sosiologi
konvensional selalu dilengkapi asumsi, teori, proposisi, dan kategori yang
membuat peneliti tidak bebas didalam memahami kenyataan social menurut situasi
dimana kenyataan sosial tersebut berlangsung.
Dengan
demikian, etnometodologi bukanlah makrosoiologi dalam arti yang dimaksud
Durkheim, tetapi bukan juga sebagai mikrososiologi. Sehingga etnometodologi
memusatkan perhatian pada aktivitas sehari-hari individu.
Setting
Institusional
Studi sosiologi
konvensional tentang setting
institusional memusatkan perhatian pada strukturnya, aturan
formalnya dan prosedur resmi untuk menerangkan apa yang dilakukan orang di
dalamnya. Mereka menggunakan institusi untuk menyelesaikan tugas dan
menciptakan institusi itu sendiri. Orang menggunakan prosedur yang berguna
bukan hanya untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga untuk mengahsilkan
institusi.
Studi etnometodologi yang
pertama kali dilakukan terjadi dalam setting ‘sambil lalu’ dan
non-institutional, seperti di rumah. Kemudian, studi etnometodologi berkembang
untuk mempelajari praktik-praktik keseharian dalam setting institutional yang
lebih luas, seperti di pengadilan, klinik medis dan kantor polisi. Tujuan studi
semacam ini untuk memahami cara masyarakat dalam setting tersebut melakukan
tugas-tugas resminya dalam proses pembentukan institusi. Studi sosiologi
konvensional dalam setting-setting
institusional semaam ini terpusat pada struktur, aturan formal, dan prosedur
resmi mereka untuk menjelaskan apa yang orang lakukan di dalamnya (Ritzer,
2009).
Analisis Percakapan
Analisis perakapan adalah usaha
memahami secara rinci struktur fundamental interaksi melalui percakapan.
Percakapan adalah aktivitas interaksi yang menunjukkan aktivitas yang stabil
dan teratur yang merupakan kegiatan yang dapat dianalisis (Zimmerman dalam
Ritzer, 2009). Analisis percakapan lebih memusatkan perhatian pada
hubungan antara ucapan dalam percakapan ketimbang hubungan antara pembicara dan
pendengar. Sasaran perhatian percakapan terbatas pada mengenai apa yang
dikatakan dalam percakapan itu sendiri dan bukan kekuatan eksternal yang
membatasi percakapan. Lebih lanjut Zimmerman (dalam Ritzer,
2009), merangkum dasar-dasar analisis percakapan dalam lima premis.
Pertama, Analisis percakapan mensyaratkan
adanya kumpulan dan analisis data yang mendetail. Data ini meliputi tidak hanya
kata-kata tetapi juga keragu-raguan, desah nafas, sedu sedan, gelak tawa, perilaku
non verbal dan berbagai aktivitas lain. Semua itu menggambarkan perbuatan
percakapan aktor yang terlibat.
Kedua, Bahkan detail percakapan harus dianggap sebagai
suatu prestasi. Aspek-aspek percakapan tidak diatur oleh etnometodolog, aspek
tadi diatur oleh aktivitas metodis dari para aktor itu sendiri. Ketiga,
Interaksi pada umumnya dan percakapan pada khususnya mempunyai sifat-sifat yang
stabil dan teratur hingga keberhasilan para aktor akan dilibatkan.
Keempat, Landasan fundamental dari percakapan
adalah organisasi yang sequential. Kelima, Keterikatan bidang interaksi
percakapan diatur dengan dasar lokal atau dengan bergilir.
Adapun bentuk analisis percakapan yang dikaji adalah sebagai berikut;
1.
Percakapan-percakapan Telepon
Pengenalan dan pengakuan percakapan
dengan telepon tak berbeda dari percakapan dengan tatap muka, namun pihak-pihak
yang berbicara melalui telepon tak mengalami kontak visual. Schegloff menemukan
bahwa pembukaan percakapan sering sangat terus terang dan terkesan baku.
2.
Membuat Tertawa
Glenn (dalam Ritzer, 2009) meneliti
prakarsa tertawa bersama dalam percakapan yang banyak orang. Meski Jefferson
memusatkan perhatian pada interaksi dua orang, keberadaan sejumlah orang
menyebabkan masalah tertawa menjadi kompleks. Glennmenyatakan bahwa bila dalam
interaksi dua orang pembicara biasanya tertawa duluan,dalam interaksi banyak
orang biasanya seseorang selain pembicaralah yang tertawaduluan. Dalam
interaksi dua orang, pembicara sebenarnya terpaksa tertawa duluankarena hanya
ada satu orang dapat melaksanakan fungsi itu. Dalam interaksi banyak pihak,
banyak orang lain yang dapat tertawa duluan, berarti pembiara lebih mengambil
risiko untuk tidak menjadi pemrakarsa tertawa duluan.
3.
Mengundang Tepuk Tangan
Heritage
dan Davia Greatbatch (dalam Ritzer, 2009) mempelajari kepandaian berpidato politisi Inggris (berasal dari karya yang
dikembangkan Z. Maxwell Atkinson, 1984a, 1984b) dan menemukan muslihat dasar
yang digunakan cara untuk menimbulkan tepuk tangan pendengarnya. Mereka
menyatakan, tepuk tangan ditimbulkan oleh pernyataan yang secara lisan (a)
untuk menekankan dan dengan demikian membunga-bungai isinya melatarbelakangi
materi pembicaraan dan (b) untuk memproyeksikan kejelasan pendirian yang
disampaikan” (Heritage dan Greatbatch, dalam Ritzer, 2009). Penekanan
menerangkan kepada pendengar bahwa tepuk tangan adalah tepat dan peringatan
sebelumnya memungkinkan pendengar mulai bertepuk tangan serentak. Dalam
menganalisis pidato politik di Inggris, Heritage dan Greatbatch menemukan tujuh
muslihat berpidato:
a)
Membandingkan.
Contoh, politisi mungkin menyatakan: “terlalu banyak
dihambur-hamburkan
untuk perang, terlalu sedikit yang digunakan untuk
perdamaian.” Pernyataan demikian menimbulkan
tepuk tangan karena
untuk menekankan
maksud yang sama, mula-mula dikatakan dalam kalimat negatif dan kemudian
disusul dengan kalimat positif. Pendengar
pun mampu mengantisipasi bila suatu pernyataan harus disambut dengan
tepuk tangan. Biasanya ketika pertengahan kedua pernyataan dibentangkan sebenarnya
telah lengkap di pertengahan pertama.
b)
Daftar; sebuah daftar isu politik, terutama
daftar tiga bagian yang sering digunakan politisi, memberikan penekanan dan
penyelesaian masalah yang dapat diantisipasi oleh pendengar.
c)
Solusi yang membingungkan. Politisi
mula-mula mengemukakan teka-teki kepada pendengar, kemudian baru menawarkan
solusinya. Dengan mengemukakan isu ganda ini akan memberikan penekanan dan
pendengar dapat mengantisipasi penyelesaian pernyataan di akhir solusinya.
d)
Pokok berita-bagian pokok; di sini
politisi mengusulkan untuk membuat sebuah pernyataan dan kemudian membuatnya.
e)
Kombinasi. Meliputi penggunaan dua atau
lebih muslihat yang telah dikemukakan di atas.
f)
Pengambilan posisi; mula-mula pembicara
membeberkan keadaan tertentu yang diharapkannya akan sangat menyentuh perasaan
pendengar. Keadaan itu mula-mula disajikan tanpa dibumbui dengan penilaian.
Baru di akhir pembicaraanlah pembicara
mengemukakan pendiriannya mengenai keadaan itu.
g)
Pengejaran. Ini terjadi bila pendengar gagal
menggapai pesan tertentu. Pembicara mungkin secara aktif mengejar tepuk tangan,
misalnya dengan mengulang pernyataan tentang masalah pokoknya.
Mereka
menyimpulkan bahwa muslihat ini berakar dan dapat ditemukan didalam interaksi
sehari-hari, dalam percakapan biasa sekalipun. Implikasinya adalah bahwa
kita semua menggunakan muslihat ini sehari-hari membangkitkan reaksi
positifdari orang yang berinteraksi dengan kita.
4.
Mengolok-olok
atau ejekan (booing)
Steven
Clayman (dalam Ritzer, 2009) meneliti ejekan sebagai pengungkapan celaan
dalam pidato di depan publik. Bila tepuk
tangan memungkinkan pendengar menggabungkan diri dengan pembicara, ejekan
adalah tindakan sebaliknya. Dengan mengejek,
pendengar memisahkan diri dari pembicara. Ada dua cara mendasar yang
dapat menimbulkan tanggapan berupa tepuk tangan dan ejekan sebagai akibat
kebebasan pembuatan keputusan secara individual, atau sebagai produk saling
memonitor perilaku anggota sebuah
kumpulan pendengar. Ejekan lebih disebabkan saling memonitor di antara anggota
pendengar ketimbang hasil pengambilan keputusan secara individual.
5.
Munculnya Interaksi dari Kalimat dan
Cerita
Para
pembicara memberi perhatian yang teliti kepada para pendengar ketika mereka
sedang berbicara. Ketika para pendengar bereaksi secara verbal, raut muka, atau
dengan bahasa tubuh. Berdasarkan reaksi-reaksi itu, sang pembicara menyesuaikan
kalimat yang ia keluarkan. Reaksi-reaksi itu memberikan informasi apakah
maksudnya tercapai atau tidak, jika tidak tercapai, ia mengubah struktur
kalimatnya.
6.
Integrasi pembicaraan dan aktivitas
nonvokal
Seseorang
menyampaikan sesuatu kepada orang lainnya tidak hanya melalui omongan, tetapi
juga dengan bahasa tubuhnya yaitu dalam cara mengatur tubuh dan
kegiatan-kagiatannya selama bercerita.
7.
Malu
(dan percaya diri)
Ada
prosedur khas yang kita gunakan untuk berkenalan dengan orang yang tidak kita
kenal. Orang yang malu dan percaya diri memodifikasi prosedur-prosedur itu.
Oleh karena itu, orang yang malu dan percaya diri menggunakan strategi-strategi percakapan yang berbeda.
Studi
Atas Institusi
1.
Wawancara Kerja
Beberapa
pakar etnometodologi mengalihkan perhatian mereka ke dunia pekerjaan. misalnya,
Button (dalam Ritzer, 2009) meneliti wawancara pekerjaan. Tidak mengherankan,
ia melihat wawancara sebagai percakapan yang berurutan dan “sebagai kepandaian
praktis yang diletakkan kedua belah pihak pada suasana itu”(Button dalam
Ritzer, 2009). Persoalan yang dibahas dalam studi ini meliputi hal-hal yang
dapat dilakukan pewawancara, setelah jawaban diberikan, beralih kepertanyaan
lain, dan dengan cara demikian mencegah orang yang diwawancarai kembali dan
mengoreksi jawabannya semula. pertama, pewawancara dapat menyatakan bahwa wawancara
secara keseluruhan sudah selesai. kedua, pewawancara dapat mengajukan
pertanyaan lain yang mengalihkan pembicaraan ke arah yang berlainan. ketiga,
pwawancara dapat menilai jawaban yang diberikan sedemikian rupa sehingga orang
yang diwawancarai menghindar dari keinginan untuk ditanyai kembali.
2.
Negosiasi Eksekutif
Anderson, Hugnes dan Sharrock (dalam
Ritzer, 2009) meneliti ciri negoisasi di kalangan eksekutif bisnis. Salah satu
temuan mereka tentang negoisasi di kalangan eksekutif bisnis ini adalah mereka
sangat logis, obyektif dan impersonal:
3.
Panggilan Pusat Gawat Darurat
Whalen dan Zimmerman (dalam Ritzer, 2009)
meneliti panggilan telepon demikian mengarahkan pada pengurangan kata pembukaan
percakapan telepon. Dalam percakapan telepon normal kita biasanya menemukan
secara berurutan jawaban panggilan, pengenalan, jati diri, salam, dan “apa
kabar”. Dalam panggilan darurat, rentetan pembukaan percakapan dikurangi dan
pengenalan, salam dan “apa kabar” ditiadakan.
Dalam studi serupa, Whalen Zimmerman dan
Whalen (dalam Ritzer, 2009) melihat kepercakapan telepon gawat darurat yang
gagal, yang menyebabkan keterlambatan pengiriman ambulans dan kematian seorang
wanita. Meski media massa mengutuk penerima telepon dalam insiden ini, Whalen
Zimmerman dan Whalen menemukan masalahnya pada sifat khusus dari percakapan telepon
gawat darurat. Jadi, sifat percakapan khusus itulah, bukan kemampuan penerima
telepon yang menjadi “penyebab”perbedaan pemahaman.
4.
Resolusi Perselisihan Melalui Mediasi
Angela Garcia (dalam Ritzer, 2009)
menganalisi penyelesaian konflik dalam sebuah program di carfornia yang
dirancang untuk mengetahui berbagai jenis percekcokan-antara tuan tanah dan
penyewa menyangkut sejumlah kecil uang, dan percekcokan dikalangan anggota
keluarga atau teman. Tujuan akhir analisis garcia adalah untuk membandingkan
cara penyelesaian konfilik yang sudah terlembaga yang terjadi dalam percakapan
biasa. Kesimpulan utama garcia adalah bahwa lembaga penengah membuat
penyelesaian konflik yang jauh lebih mudah dengan melenyapkan proses yang
menyebabkan meningginya tingkat percekcokan dalam percakapan biasa. Bila
argumen muncul dalam mediasi, prosedur yang ada, yang tak ada dalam percakapn
biasalah yang membuat konflik berakhir.
Mediator terutama berupaya membatasi kemungkinan
dakwaan dan sangkalan langsung oleh kedua belah pihak yang bercekcok perang
mulut seperti itu besar kemungkinanannya menyebabkan konfilik dan mediator
berupaya mencegah terjadinya dan segera bertindak begitu mulai.untuk
menghentikan perang mulut,mediator dapat mencobah mengubah pokok
pebicaraan,mengalihkan arah pertanyaan atau sanksi percekcokan.
Berbeda dengan Clayaman dalam studinya
tentang ejekan, garcia tak menyatakan bahwa struktur interaksi dalam mediasi
serupah dengan struktur interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Menurut garcia,
aturan interaksi dalam stem mediasi sangat berbeda. Tetapi, seperti Clayaman
dan analis percakapan, Garcia (dalam Ritzer, 2009) melihat kunci untuk memahami
apa yang terjadi dalam struktur sosial atau normatif mediasi.
Tekanan
Dan Kendala Dalam Etnometodologi
Kemunculan etnometodologi sebagai bentuk ketidaksetujuan
terhadap pendekatan-pendekatan sosiologi konvensional yang dianggapnya
mengekang kebebasan peneliti. Peneliti konvensional selalu dilengkapi asumsi,
teori proposisi dan kategori yang membuat peneliti tidak bebas di dalam
memahami kenyataan sosial menurut situasi dimana kenyataan social tersebut
berlangsung. Etnometodologi ditujukan untuk meneliti aturan interaksi sosial
sehari-hari yang berdasarkan akal sehat, yaitu sesuatu yang biasanya diterima
begitu saja, asumsi asumsi yang berada di baliknya dan arti yang dimengerti
bersama.
Para sosiolog memandang etnometodologi terlalu memusatkan
perhatian pada masalah sepele dan mengabaikan masalah yang sangat penting yang
dihadapi masyarakat kini. Atkinson (dalam Ritzer, 2009), mengemukakan bahwa
etnometodologi terus menyambut campuran ketidakpahaman dan permusuhan yang tak
dapat disangkal yang perlu diperhitungkan apabila menyangkut teori, metode, dan
tindakan empiris penelitian sosiologi. Ia yakin bahwa etnometodologi telah
melupakan akar fenomenologisnya dan mengurangi perhatiannya terhadap kesadaran
dan proses kognitif. Etnometodologi lebih memusatkan perhatian pada ciri
struktur percakapan itu sendiri.
Etnometodologi mendapat kritik dari Pollner karena
kehilangan refleksivitas radikal aslinya. Refleksivitas mengarah pada pandangan
bahwa semua aktivitas sosial adalah prestasi, termasuk aktivitas pakar
etnometodologi. Etnometodologi berada berada di pinggiran sosiologi. Artinya,
ketika keberadaannya semakin diterima, pakar etnometodologi cenderung
mengabaikan kebutuhan menganalisis karya mereka. Akibatnya, etnometodologi
terancam bahaya kehilangan kemampuan menganalisis dan mengkritik dirinya
sendiri dan hanya menjadi bidang lain dari teori yang sudah mapan saja.
Menurut Raho (2007), bahwa dalam mengembangkan dan
memperluas ide-ide, etnometodologi
mengemukakan pandangan yang berbeda tentang dunia. Sehingga, ia bisa
menjadi paradigma alternatif dalam sosiologi. Namun untuk melihat pandangan
yang berbeda tersebut dari konsep yang telah ada perlu menghubungkan antara
etnometodologi dengan akar-akar intelektualnya.
Pertama, Jika
interaksionisme simbolik menekankan proses penciptaan makna, namun mengakui adanya
keberadaan dunia eksternal yang bersifat obyektif dalam bentuk norma, nilai,
peran, dan struktur sosial. Akan tetapi etnometodologi memusatkan perhatian
pada bagaimana interaksi menciptakan diantara para aktor perasaan akan dunia
faktual yang berada di luar sana. Kedua,
Sedangkan analisis dramaturgi yang digagas oleh Erving Goffman, menekankan
betapa pentingnya proses manajemen kesan dan tidak peduli dengan tujuan atau
sasaran yang hendak dicapai dari aksi tersebut. Analisis ini berpusat pada
bentuk interaksi itu sendiri dan bukannya pada struktur-struktur yang
diciptakan, dipertahankan, atau diubah. Contohnya, Goffman tertarik membuat
analisa tentang bagaimana aktor mengesahkan konsep tentang dirinya, membenarkan
tindakan-tindakannya melalui isyarat, bagaimana mereka menjaga jarak dengan
penonton, atau bagaimana memanipulasi untuk memperlancar keadaan. Meskipun
etnometodologi setuju dengan konsep Goffman tentang teknik yang dilakukan aktor
untuk menciptakan kesan dalam dunia sosial, tetapi minat etnometodologi
bukanlah tentang manajemen kesan individu, melainkan bagaimana aktor-aktor
menciptakan perasaan akan realitas yang sama. Ketiga, Harus diakui bahwa banyak konsep etnometodologi yang
diambil dari fenomenologi konsep Husserl dan Schutz. Namun etnometodologi
menyesuaikan analisis fenomenologi dengan isu tentang bagaimana keteraturan
sosial dipertahankan dengan praktek-praktek yang biasa dilakukan aktor untuk
menciptakan sense bahwa mereka menghayati dunia kehidupan sehari-hari yang
sama.
SUMBER:
§ Margaret
M. Poloma, 1994. Sosiologi Kontemporer, Jakarta: Rajawali Pers
§ Raho
Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi
Pustaka Publisher.
§ Ritzer
George, J. Goodman Douglas. 2019. Teori Sosiologi. Jakarta:
Kencana.
§ Yusuf,
Hamdani. 2014. Teori Etnometodologi –
Metode Comic Membuat Penonton Bertepuk Tangan di Panggung Stand Up Comedy
Indonesia. Diakses pada 17 November 2015 from :
§ Zeitlin,
Irving. 1995. Memahami Kembali
Ssosiologi. Yogyakarta: UGM Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar