Kamis, 10 Desember 2015

TEORI ETNOMETODOLOGI

ETNOMETODOLOGI
Etnometodologi adalah salah satu teori yang dipayungi oleh paradigma definisi sosial. Paradigma ini dilandasi analisis Weber tentang tindakan sosial (social action). Analisis Weber dan Durkheim sangat terlihat jelas. Jika Durkheim memisahkan struktur dan institusisosial, sebaliknya Weber melihat ini menjadi satu kesatuan yang membentuk tindakan manusia yang penuh arti atau makna. “Tindakan sosial merupakan tindakan individu yang mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain. Sebaliknya, tindakan individu yang diarahkan kepada benda mati atau objek fisik semata tanpa dihubungkan dengan tindakan orang lain bukan suatu tindakan sosial.”(Ritzer, 2009: 38).
Etnometodologi dicetuskan oleh Harold Garfinkel di akhir tahun 1940-an tetapi baru menjadi sistematis setelah diterbitkan karyanya yang berjudul Studies in Ethnomethodology pada tahun 1967. Garfinkel adalah dosen pada UCLA di West Coast. Akan tetapi baru dikenal oleh kalangan luas (oleh profesi-profesi lain) pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Karyanya tersebut telah menarik minat sosiolog diantaranya Blum, Cicourel, Douglas, McHugh, Sacks, Schegloff, Sudnow, Wieder, Wilson dan Zimmerman.
Garfinkel melukiskan sasaran perhatian etnometodologi adalah realitas objektif fakta sosial, fenomena fundamental sosiologi karena merupakan setiap produk masyarakat setempat yang diciptakan dan diorganisir secara alamiah, terus menerus, prestasi praktis, selalu, hanya, pasti dan menyeluruh, tanpa henti dan peluang menghindar, menyembunyikan diri, melampaui atau menunda. Garfinkel mememunculkan etnometodologi sebagai bentuk ketidaksetujuannya terhadap pendekatan-pendekatan sosiologi konvensional selalu dilengkapi asumsi, teori, proposisi, dan kategori yang membuat peneliti tidak bebas didalam memahami kenyataan social menurut situasi dimana kenyataan sosial tersebut berlangsung.
Garfinkel sendiri mendefenisikan etnometodologi sebagai penyelidikan atas ungkapan-ungkapan indeksikal dan tindakan-tindakan praktis lainnya sebagai kesatuan penyelesaian yang sedang dilakukan dari praktek-praktek kehidupan sehari-hari yang terorganisir. Etnometodologi Grafinkel ditujukan untuk meneliti aturan interaksi sosial sehari-hari yang berdasarkan akal sehat. Apa yang dimaksudkan dengan dunia akal sehat adalah sesuatu yang biasanya diterima begitu saja, asumsi-asumsi yang berada di baliknya dan arti yang dimengerti bersama.
Garfinkel disaat awal memunculkan atau mengembangkan studi ini sedang mendalami fenomenologi Alfred Schutz pada New School For Social Research. Terdapat dugaan kuat bahwa fenomenologi Schutz sangat mempengaruhi etnometodologi Grafinkel (Zeitlin, 1995). Ini terbukti dari asumsi sekaligus pendirian dari etnometodologi itu sendiri. Bagi Schutz, dunia sehari-hari merupakan dunia intersubjektif yang dimiliki bersama orang lain dengan siapa kita berinteraksi. Dunia inter subjektif itu sendiri terdiri dari realitas-realitas yang sangat berganda, dimana realitas sehari-hari tampil sebagai realitas yang utama. Schutz memberikan perhatian pada dunia sehari-hari yang merupakan common sense. Realitas seperti inilah yang diterima secara taken for granted dimana mengesampingkan keragu-raguan, kecuali realitas yang dipermasalahkan. Pembahasan realitas common sense Schutz ini memberi Garfinkel suatu perspektif melaksanakan studi etnometodologsekaligus sebagai dasar teoritis bagi riset-riset etnometodologi lainnya. Yang dimaksud realitas sosial oleh Schutz adalah “keseluruhan objek dan kejadian-kejadian di dunia kultural dan sosial, yang dihidupkan oleh pikiran umum manusia yang hidup bersama dengan sejumlah hubungan interaksi. Itu adalah dunia objek kultural dan institusi sosial di mana kita semua lahir, saling mengenal, berhubungan sejak permulaan (Poloma, 1994).
Sementara pengaruh Parsons dalam etnometodologi adalah teori aksi/tindakan yang diperkenalkan oleh Parsons. Dalam teori tindakannya, Parsons berpendapat bahwa motivasi yang mendorong suatu tindakan individu selalu berdasarkan pada aturan atau norma yang ada dalam masyarakat dimana seorang individu hidup. Motivasi aktor tersebut menyatu dengan model model normatif yang ditetapkan dalam sebuah masyarakat yang ditujukan untuk mempertahankan stabilitas sosial itu sendiri. Asumsi Parsons ini senada dengan pendirian etnometodologi, terutama dari Garfinkel dan Douglas yang mengatakan bahwa seseorang di dalam menetapkan sesuatu apakah tindakan/perilaku, bahasa, respon atau reaksi selalu didasarkan pada apa yang sudah diterima sebagai suatu kebenaran bersama dalam masyarakat (common sense).
 Pemahaman lebih mendalam tentang sifat dasar etnometodologi akan bisa didapatkan dengan meneliti upaya pendirinya Harold Garfinkel untuk mendefinisikannya. Sebagaimana Durkheim, Garfinkel menganggap fakta sosial sebagai fenomena sosiologi fundamental. Namun fakta sosial menurut Garfinkel sangat berbeda dari fakta sosial menurut Durkehim. Menurut Durkheim, fakta sosial berada di luar dan memaksa individu. Pandangan ini cenderung melihat aktor dipaksa atau ditentukan oleh struktur dan pranata sosial dan sedikit sekali kemampuannya atau tidak mempunyai kebebasan untuk memuat pertimbangan. Sebaliknya etnometodologi membicarakan obyektivitas fakta sosial sebagai prestasi anggota, sebagai produk aktivitas metodologis anggota. Dengan kata lain etnometodologi memusatkan perhatian pada organisasi organisasi kehidupan sehari-hari.
Etnometodologi Grafinkel ditujukan untuk meneliti aturan interaksi sosial sehari-hari yang berdasarkan akal sehat. Apa yang dimaksudkan dengan dunia akal sehat adalah sesuatu yang biasanya diterima begitu saja, asumsi-asumsi yang berada di baliknya dan arti yang dimengerti bersama. Inti dari etnometologi Granfikel adalah mengungkapkan dunia akal sehat dari kehidupan sehai-hari. Garfinkel mememunculkan etnometodologi sebagai bentuk ketidaksetujuannya terhadap pendekatan-pendekatan sosiologi konvensional selalu dilengkapi asumsi, teori, proposisi, dan kategori yang membuat peneliti tidak bebas didalam memahami kenyataan social menurut situasi dimana kenyataan sosial tersebut berlangsung. Dengan demikian, etnometodologi bukanlah makrosoiologi dalam arti yang dimaksud Durkheim, tetapi bukan juga sebagai mikrososiologi. Sehingga etnometodologi memusatkan perhatian pada aktivitas sehari-hari individu.
Setting Institusional
          Studi sosiologi konvensional tentang setting institusional memusatkan perhatian pada strukturnya, aturan formalnya dan prosedur resmi untuk menerangkan apa yang dilakukan orang di dalamnya. Mereka menggunakan institusi untuk menyelesaikan tugas dan menciptakan institusi itu sendiri. Orang menggunakan prosedur yang berguna bukan hanya untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga untuk mengahsilkan institusi.
           Studi etnometodologi yang pertama kali dilakukan terjadi dalam setting ‘sambil lalu’ dan non-institutional, seperti di rumah. Kemudian, studi etnometodologi berkembang untuk mempelajari praktik-praktik keseharian dalam setting institutional yang lebih luas, seperti di pengadilan, klinik medis dan kantor polisi. Tujuan studi semacam ini untuk memahami cara masyarakat dalam setting tersebut melakukan tugas-tugas resminya dalam proses pembentukan institusi. Studi sosiologi konvensional dalam setting-setting institusional semaam ini terpusat pada struktur, aturan formal, dan prosedur resmi mereka untuk menjelaskan apa yang orang lakukan di dalamnya (Ritzer, 2009).
Analisis Percakapan
          Analisis perakapan adalah usaha memahami secara rinci struktur fundamental interaksi melalui percakapan. Percakapan adalah aktivitas interaksi yang menunjukkan aktivitas yang stabil dan teratur yang merupakan kegiatan yang dapat dianalisis (Zimmerman dalam Ritzer, 2009). Analisis percakapan lebih memusatkan perhatian pada hubungan antara ucapan dalam percakapan ketimbang hubungan antara pembicara dan pendengar. Sasaran perhatian percakapan terbatas pada mengenai apa yang dikatakan dalam percakapan itu sendiri dan bukan kekuatan eksternal yang membatasi percakapan. Lebih lanjut Zimmerman (dalam Ritzer, 2009), merangkum dasar-dasar analisis percakapan dalam lima premis.
Pertama, Analisis percakapan mensyaratkan adanya kumpulan dan analisis data yang mendetail. Data ini meliputi tidak hanya kata-kata tetapi juga keragu-raguan, desah nafas, sedu sedan, gelak tawa, perilaku non verbal dan berbagai aktivitas lain. Semua itu menggambarkan perbuatan percakapan aktor yang terlibat.
Kedua, Bahkan detail percakapan harus dianggap sebagai suatu prestasi. Aspek-aspek percakapan tidak diatur oleh etnometodolog, aspek tadi diatur oleh aktivitas metodis dari para aktor itu sendiri. Ketiga, Interaksi pada umumnya dan percakapan pada khususnya mempunyai sifat-sifat yang stabil dan teratur hingga keberhasilan para aktor akan dilibatkan.
Keempat, Landasan fundamental dari percakapan adalah organisasi yang sequential. Kelima, Keterikatan bidang interaksi percakapan diatur dengan dasar lokal atau dengan bergilir.
Adapun bentuk analisis percakapan yang dikaji adalah sebagai berikut;
1.    Percakapan-percakapan Telepon
       Pengenalan dan pengakuan percakapan dengan telepon tak berbeda dari percakapan dengan tatap muka, namun pihak-pihak yang berbicara melalui telepon tak mengalami kontak visual. Schegloff menemukan bahwa pembukaan percakapan sering sangat terus terang dan terkesan baku.
2.    Membuat Tertawa
       Glenn (dalam Ritzer, 2009) meneliti prakarsa tertawa bersama dalam percakapan yang banyak orang. Meski Jefferson memusatkan perhatian pada interaksi dua orang, keberadaan sejumlah orang menyebabkan masalah tertawa menjadi kompleks. Glennmenyatakan bahwa bila dalam interaksi dua orang pembicara biasanya tertawa duluan,dalam interaksi banyak orang biasanya seseorang selain pembicaralah yang tertawaduluan. Dalam interaksi dua orang, pembicara sebenarnya terpaksa tertawa duluankarena hanya ada satu orang dapat melaksanakan fungsi itu. Dalam interaksi banyak pihak, banyak orang lain yang dapat tertawa duluan, berarti pembiara lebih mengambil risiko untuk tidak menjadi pemrakarsa tertawa duluan.   
3.    Mengundang Tepuk Tangan
   Heritage dan Davia Greatbatch (dalam Ritzer, 2009) mempelajari kepandaian berpidato  politisi Inggris (berasal dari karya yang dikembangkan Z. Maxwell Atkinson, 1984a, 1984b) dan menemukan muslihat dasar yang digunakan cara untuk menimbulkan tepuk tangan pendengarnya. Mereka menyatakan, tepuk tangan ditimbulkan oleh pernyataan yang secara lisan (a) untuk menekankan dan dengan demikian membunga-bungai isinya melatarbelakangi materi pembicaraan dan (b) untuk memproyeksikan kejelasan pendirian yang disampaikan” (Heritage dan Greatbatch, dalam Ritzer, 2009). Penekanan menerangkan kepada pendengar bahwa tepuk tangan adalah tepat dan peringatan sebelumnya memungkinkan pendengar mulai bertepuk tangan serentak. Dalam menganalisis pidato politik di Inggris, Heritage dan Greatbatch menemukan tujuh muslihat berpidato:
a)       Membandingkan. Contoh, politisi mungkin menyatakan: “terlalu banyak
dihambur-hamburkan untuk perang, terlalu sedikit yang digunakan untuk
 perdamaian.” Pernyataan demikian menimbulkan tepuk tangan karena
untuk menekankan maksud yang sama, mula-mula dikatakan dalam kalimat negatif dan kemudian disusul dengan kalimat positif. Pendengar  pun mampu mengantisipasi bila suatu pernyataan harus disambut dengan tepuk tangan. Biasanya ketika pertengahan kedua pernyataan dibentangkan sebenarnya telah lengkap di pertengahan pertama. 
b)       Daftar; sebuah daftar isu politik, terutama daftar tiga bagian yang sering digunakan politisi, memberikan penekanan dan penyelesaian masalah yang dapat diantisipasi oleh pendengar.
c)      Solusi yang membingungkan. Politisi mula-mula mengemukakan teka-teki kepada pendengar, kemudian baru menawarkan solusinya. Dengan mengemukakan isu ganda ini akan memberikan penekanan dan pendengar dapat mengantisipasi penyelesaian pernyataan di akhir solusinya.
d)      Pokok berita-bagian pokok; di sini politisi mengusulkan untuk membuat sebuah pernyataan dan kemudian membuatnya.
e)      Kombinasi. Meliputi penggunaan dua atau lebih muslihat yang telah dikemukakan di atas.
f)        Pengambilan posisi; mula-mula pembicara membeberkan keadaan tertentu yang diharapkannya akan sangat menyentuh perasaan pendengar. Keadaan itu mula-mula disajikan tanpa dibumbui dengan penilaian. Baru di akhir  pembicaraanlah pembicara mengemukakan pendiriannya mengenai keadaan itu.
g)      Pengejaran. Ini terjadi bila pendengar gagal menggapai pesan tertentu. Pembicara mungkin secara aktif mengejar tepuk tangan, misalnya dengan mengulang pernyataan tentang masalah pokoknya.
               Mereka menyimpulkan bahwa muslihat ini berakar dan dapat ditemukan didalam interaksi sehari-hari, dalam percakapan biasa sekalipun. Implikasinya adalah bahwa kita semua menggunakan muslihat ini sehari-hari membangkitkan reaksi positifdari orang yang berinteraksi dengan kita.
4.     Mengolok-olok atau ejekan (booing)
      Steven Clayman (dalam Ritzer, 2009) meneliti ejekan sebagai pengungkapan celaan dalam  pidato di depan publik. Bila tepuk tangan memungkinkan pendengar menggabungkan diri dengan pembicara, ejekan adalah tindakan sebaliknya. Dengan mengejek,  pendengar memisahkan diri dari pembicara. Ada dua cara mendasar yang dapat menimbulkan tanggapan berupa tepuk tangan dan ejekan sebagai akibat kebebasan pembuatan keputusan secara individual, atau sebagai produk saling memonitor  perilaku anggota sebuah kumpulan pendengar. Ejekan lebih disebabkan saling memonitor di antara anggota pendengar ketimbang hasil pengambilan keputusan secara individual.
5.        Munculnya Interaksi dari Kalimat dan Cerita
      Para pembicara memberi perhatian yang teliti kepada para pendengar ketika mereka sedang berbicara. Ketika para pendengar bereaksi secara verbal, raut muka, atau dengan bahasa tubuh. Berdasarkan reaksi-reaksi itu, sang pembicara menyesuaikan kalimat yang ia keluarkan. Reaksi-reaksi itu memberikan informasi apakah maksudnya tercapai atau tidak, jika tidak tercapai, ia mengubah struktur kalimatnya.
6.        Integrasi pembicaraan dan aktivitas nonvokal
      Seseorang menyampaikan sesuatu kepada orang lainnya tidak hanya melalui omongan, tetapi juga dengan bahasa tubuhnya yaitu dalam cara mengatur tubuh dan kegiatan-kagiatannya selama bercerita.
7.         Malu (dan percaya diri)
      Ada prosedur khas yang kita gunakan untuk berkenalan dengan orang yang tidak kita kenal. Orang yang malu dan percaya diri memodifikasi prosedur-prosedur itu. Oleh karena itu, orang yang malu dan percaya diri menggunakan strategi-strategi  percakapan yang berbeda.
Studi Atas Institusi
1.         Wawancara Kerja
      Beberapa pakar etnometodologi mengalihkan perhatian mereka ke dunia pekerjaan. misalnya, Button (dalam Ritzer, 2009) meneliti wawancara pekerjaan. Tidak mengherankan, ia melihat wawancara sebagai percakapan yang berurutan dan “sebagai kepandaian praktis yang diletakkan kedua belah pihak pada suasana itu”(Button dalam Ritzer, 2009). Persoalan yang dibahas dalam studi ini meliputi hal-hal yang dapat dilakukan pewawancara, setelah jawaban diberikan, beralih kepertanyaan lain, dan dengan cara demikian mencegah orang yang diwawancarai kembali dan mengoreksi jawabannya semula. pertama, pewawancara dapat menyatakan bahwa wawancara secara keseluruhan sudah selesai. kedua, pewawancara dapat mengajukan pertanyaan lain yang mengalihkan pembicaraan ke arah yang berlainan. ketiga, pwawancara dapat menilai jawaban yang diberikan sedemikian rupa sehingga orang yang diwawancarai menghindar dari keinginan untuk ditanyai kembali.
2.     Negosiasi Eksekutif
       Anderson, Hugnes dan Sharrock (dalam Ritzer, 2009) meneliti ciri negoisasi di kalangan eksekutif bisnis. Salah satu temuan mereka tentang negoisasi di kalangan eksekutif bisnis ini adalah mereka sangat logis, obyektif dan impersonal:
3.    Panggilan Pusat Gawat Darurat
       Whalen dan Zimmerman (dalam Ritzer, 2009) meneliti panggilan telepon demikian mengarahkan pada pengurangan kata pembukaan percakapan telepon. Dalam percakapan telepon normal kita biasanya menemukan secara berurutan jawaban panggilan, pengenalan, jati diri, salam, dan “apa kabar”. Dalam panggilan darurat, rentetan pembukaan percakapan dikurangi dan pengenalan, salam dan “apa kabar” ditiadakan.
       Dalam studi serupa, Whalen Zimmerman dan Whalen (dalam Ritzer, 2009) melihat kepercakapan telepon gawat darurat yang gagal, yang menyebabkan keterlambatan pengiriman ambulans dan kematian seorang wanita. Meski media massa mengutuk penerima telepon dalam insiden ini, Whalen Zimmerman dan Whalen menemukan masalahnya pada sifat khusus dari percakapan telepon gawat darurat. Jadi, sifat percakapan khusus itulah, bukan kemampuan penerima telepon yang menjadi “penyebab”perbedaan pemahaman.
4.    Resolusi Perselisihan Melalui Mediasi
       Angela Garcia (dalam Ritzer, 2009) menganalisi penyelesaian konflik dalam sebuah program di carfornia yang dirancang untuk mengetahui berbagai jenis percekcokan-antara tuan tanah dan penyewa menyangkut sejumlah kecil uang, dan percekcokan dikalangan anggota keluarga atau teman. Tujuan akhir analisis garcia adalah untuk membandingkan cara penyelesaian konfilik yang sudah terlembaga yang terjadi dalam percakapan biasa. Kesimpulan utama garcia adalah bahwa lembaga penengah membuat penyelesaian konflik yang jauh lebih mudah dengan melenyapkan proses yang menyebabkan meningginya tingkat percekcokan dalam percakapan biasa. Bila argumen muncul dalam mediasi, prosedur yang ada, yang tak ada dalam percakapn biasalah yang membuat konflik berakhir.
       Mediator terutama berupaya membatasi kemungkinan dakwaan dan sangkalan langsung oleh kedua belah pihak yang bercekcok perang mulut seperti itu besar kemungkinanannya menyebabkan konfilik dan mediator berupaya mencegah terjadinya dan segera bertindak begitu mulai.untuk menghentikan perang mulut,mediator dapat mencobah mengubah pokok pebicaraan,mengalihkan arah pertanyaan atau sanksi percekcokan.
       Berbeda dengan Clayaman dalam studinya tentang ejekan, garcia tak menyatakan bahwa struktur interaksi dalam mediasi serupah dengan struktur interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Menurut garcia, aturan interaksi dalam stem mediasi sangat berbeda. Tetapi, seperti Clayaman dan analis percakapan, Garcia (dalam Ritzer, 2009) melihat kunci untuk memahami apa yang terjadi dalam struktur sosial atau normatif mediasi.

Tekanan Dan Kendala Dalam Etnometodologi
          Kemunculan etnometodologi sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap pendekatan-pendekatan sosiologi konvensional yang dianggapnya mengekang kebebasan peneliti. Peneliti konvensional selalu dilengkapi asumsi, teori proposisi dan kategori yang membuat peneliti tidak bebas di dalam memahami kenyataan sosial menurut situasi dimana kenyataan social tersebut berlangsung. Etnometodologi ditujukan untuk meneliti aturan interaksi sosial sehari-hari yang berdasarkan akal sehat, yaitu sesuatu yang biasanya diterima begitu saja, asumsi asumsi yang berada di baliknya dan arti yang dimengerti bersama.
          Para sosiolog memandang etnometodologi terlalu memusatkan perhatian pada masalah sepele dan mengabaikan masalah yang sangat penting yang dihadapi masyarakat kini. Atkinson (dalam Ritzer, 2009), mengemukakan bahwa etnometodologi terus menyambut campuran ketidakpahaman dan permusuhan yang tak dapat disangkal yang perlu diperhitungkan apabila menyangkut teori, metode, dan tindakan empiris penelitian sosiologi. Ia yakin bahwa etnometodologi telah melupakan akar fenomenologisnya dan mengurangi perhatiannya terhadap kesadaran dan proses kognitif. Etnometodologi lebih memusatkan perhatian pada ciri struktur percakapan itu sendiri.
          Etnometodologi mendapat kritik dari Pollner karena kehilangan refleksivitas radikal aslinya. Refleksivitas mengarah pada pandangan bahwa semua aktivitas sosial adalah prestasi, termasuk aktivitas pakar etnometodologi. Etnometodologi berada berada di pinggiran sosiologi. Artinya, ketika keberadaannya semakin diterima, pakar etnometodologi cenderung mengabaikan kebutuhan menganalisis karya mereka. Akibatnya, etnometodologi terancam bahaya kehilangan kemampuan menganalisis dan mengkritik dirinya sendiri dan hanya menjadi bidang lain dari teori yang sudah mapan saja.    
          Menurut Raho (2007), bahwa dalam mengembangkan dan memperluas ide-ide, etnometodologi  mengemukakan pandangan yang berbeda tentang dunia. Sehingga, ia bisa menjadi paradigma alternatif dalam sosiologi. Namun untuk melihat pandangan yang berbeda tersebut dari konsep yang telah ada perlu menghubungkan antara etnometodologi dengan akar-akar intelektualnya.
          Pertama, Jika interaksionisme simbolik menekankan proses penciptaan makna, namun mengakui adanya keberadaan dunia eksternal yang bersifat obyektif dalam bentuk norma, nilai, peran, dan struktur sosial. Akan tetapi etnometodologi memusatkan perhatian pada bagaimana interaksi menciptakan diantara para aktor perasaan akan dunia faktual yang berada di luar sana. Kedua, Sedangkan analisis dramaturgi yang digagas oleh Erving Goffman, menekankan betapa pentingnya proses manajemen kesan dan tidak peduli dengan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dari aksi tersebut. Analisis ini berpusat pada bentuk interaksi itu sendiri dan bukannya pada struktur-struktur yang diciptakan, dipertahankan, atau diubah. Contohnya, Goffman tertarik membuat analisa tentang bagaimana aktor mengesahkan konsep tentang dirinya, membenarkan tindakan-tindakannya melalui isyarat, bagaimana mereka menjaga jarak dengan penonton, atau bagaimana memanipulasi untuk memperlancar keadaan. Meskipun etnometodologi setuju dengan konsep Goffman tentang teknik yang dilakukan aktor untuk menciptakan kesan dalam dunia sosial, tetapi minat etnometodologi bukanlah tentang manajemen kesan individu, melainkan bagaimana aktor-aktor menciptakan perasaan akan realitas yang sama. Ketiga, Harus diakui bahwa banyak konsep etnometodologi yang diambil dari fenomenologi konsep Husserl dan Schutz. Namun etnometodologi menyesuaikan analisis fenomenologi dengan isu tentang bagaimana keteraturan sosial dipertahankan dengan praktek-praktek yang biasa dilakukan aktor untuk menciptakan sense bahwa mereka menghayati dunia kehidupan sehari-hari yang sama.


SUMBER:
§  Margaret M. Poloma, 1994. Sosiologi Kontemporer, Jakarta: Rajawali Pers
§  Raho Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
§  Ritzer George, J. Goodman Douglas. 2019. Teori Sosiologi. Jakarta: Kencana.
§  Yusuf, Hamdani. 2014. Teori Etnometodologi – Metode Comic Membuat Penonton Bertepuk Tangan di Panggung Stand Up Comedy Indonesia. Diakses pada 17 November 2015 from :

§  Zeitlin, Irving. 1995. Memahami Kembali Ssosiologi. Yogyakarta: UGM Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar