Aku ingin menceritakan kepadamu satu kisah sakit hati seorang ksatria.
Ksatria tersebut bernama Basusena. Sering pula dijuluki Sutaputra,
yang berarti anak kusir. Atau, jika kau pernah membaca kisah pewayangan
barang sedikit, kau akan lebih mengenalnya dengan nama Karna. Putra
Batara Surya yang dibuang oleh ibu kandungnya dan ditemukan hanyut di
sungai oleh si kusir kereta, Adirata. Selanjutnya, Karna diangkat anak
oleh Adirata. Dia "dibaptis" masuk ke dalam golongan kusir yang dianggap
rendah dan tanpa seorang pun mengetahui fakta bahwa dia adalah seorang
ksatria.
Sebelum aku melanjutkan cerita, aku hanya ingin memastikan kau paham
bahwa tujuanku menulis ini adalah agar kau tahu betapa menyakitkannya
dipandang rendah dengan sebelah mata.
Karna tentu begitu akrab dengan hal tersebut. Sebagai anak kusir,
dia terbiasa memperoleh perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka
yang berkasta lebih tinggi. Tak sekalipun dia dihargai layaknya sesama
manusia. Sayembara untuk memperistri Drupadi yang telah dia menangkan
ditolak mentah-mentah oleh calon istri yang jijik dengan kondisinya.
Bahkan orang-orang semulia Pandawa pun tak ketinggalan menolak ajakan
bertanding dari Karna dengan satu alasan penuh penghinaan: dia dan
Pandawa tidak berangkat dari golongan yang sederajat.
Sampai di sini, rasanya kita perlu rehat dari dongeng yang aku tahu
bakal membosankan bagimu. Aku baru sadar, kau yang merasa terhormat dan
istimewa takkan peduli pada hal-hal semacam itu. Toh pada dasarnya kau
tidak pernah merasakan bagaimana menyedihkannya diremehkan. Harta dan
kedudukan telah purna kaugenggam sejak dulu. Kau telah memiliki semua
yang dibutuhkan agar tidak memperoleh tatapan sengit dari orang-orang
yang gemar melecehkan.
Biar bagaimanapun kita sama-sama mengerti, propaganda mengenai
dihapusnya konsep kasta dalam dunia modern adalah omong kosong belaka.
Manusia selalu menemukan hal yang dapat dipergunakan untuk membedakan
dirinya dengan manusia lain, untuk merasa eksklusif dan jauh lebih baik
dari golongan di luar dirinya. Merasa gagah di antara para pengangguran,
memarahi pengemis yang mengganggu di trotoar jalan, atau bahkan
menyombongkan diri di hadapan kawan. Bukankah kau sendiri gemar
melakukannya?
Tidak apa-apa. Aku yakin banyak orang, termasuk aku, tak luput dari
dosa macam ini. Tetapi belakangan aku merasa kau (juga aku sendiri)
perlu diingatkan, mereka yang rendah, yang hina di mata kita, juga
memiliki harga diri. Jika kau coba-coba lukai, hati mereka akan
tersakiti. Dan kita semua tau sakit hati berkawan akrab dengan perasaan
bernama dendam.
Bedanya, sakit hati hanya terasa untuk sejenak. Namun dendam bisa
berlangsung sangat lama. Dia mempunyai usia seperti kura-kura yang
kaupunya.
Di padang Kurusetra yang banjir darah, Karna berdiri tegak.
Menggeram. Memandang ke perkemahan Pandawa dengan penuh amarah. Saat itu
sudah dia lupakan sakit hati yang pernah dia terima. Sudah dia
persetankan hina dan cela dari Pandawa kepada dirinya, si anak kusir.
Tapi dendam telah membatu dan harus dia lampiaskan perasaan itu Tak dia
hiraukan apakah Pandawa sedang memperjuangkan haknya dan Kurawa sedang
melanggengkan kelaliman. Dia tetap kukuh membela Kurawa, membela
Duryudana; satu-satunya orang yang mau menghargainya. Bahkan jika itu
berarti dia harus berada di pihak yang berseberangan dengan ibu dan
keluarga kandungnya.
Kau perlu ingat sekali lagi: dendam telah membatu.
Tak perlu kita lanjutkan kelanjutan kisah itu. Tak penting bagimu.
Aku hanya ingin bilang kalau kau tengah berhadapan dengan orang yang
memelihara dendam macam Karna, berhati-hatilah. Dia akan memburu tanpa
lelah. Dia seperti anjing yang siap memangsamu ketika kau lengah. Dan
kautahu dia, anjing itu, adalah aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar