Kamis, 17 April 2014

Prasasti Duka

Yang punah bersama pengkhianatan adalah cinta, juga harapan. Yang mati dari cinta adalah kasih sayang. Di antaranya lahir kebencian juga dendam. Tapi apa yang lebih menyedihkan daripada jatuh cinta lantas ditinggalkan? Barangkali tak ada yang lebih paham dari ombak-ombak yang membawa buih pada tepian pantai. Namun apa guna bersajak dan berbahasa dengan indah ketika hati yang kau harapkan bisa menjadi pelabuhan, berubah menjadi medan laga pertempuran?

Barangkali luka itu sudah terlalu, hingga segala sapa adalah peringatan perang, dan segala perhatian adalah dusta.

Pernahkah kuceritakan padamu tentang perigi yang kering di samping rumah? Tentang yang tak berguna kala bukan waktunya? Perigi yang megganggu kala kemarau, dengan segala debu dan sampah yang ada di dalamnya. Tapi kita tahu, tak segala hal mesti berguna setiap saat dan tak semua hal mesti bermanfaat setiap waktu. Perigi yang kubenci itu toh tetap melaksanakan tugasnya menghalau genangan air saat musim hujan. Juga menjauhkan segala kotoran dan sisa cairan yang tak dibutuhkan. Ia tetap bekerja meski aku membencinya.

Apa yang lebih menerima dari mendung? Segalanya dibuat muram dan kelam tanpa pilihan. Hidup menyedian pentas yang tak bisa kita pilih lakonnya. Barangkali demikian titah yang disenyapkan Yang Maha kepada tiap hidup. Aku belajar menuliskan duka dengan kata-kata yang barangkali sudah bosan dan muak kau baca. Aku menulis dengan apa yang aku pahami sebagai kebencian, luka juga pengharapan. Kau boleh membenciku hari ini, esok dan seterusnya. Tapi tiap akhir babak ada lakon yang akan kita hadapi bersama. Pengadilan.

Kau tahu aku tak pernah meminta agar lakon ini dipentaskan bersamamu. Aku hanya jatuh cinta, lantas percakapan itu mengalir. Seperti juga perigi yang aku benci keberadaannya saat kemarau. Tak ada yang tersisa dari kita kecuali segala kebencian yang menumpuk. Tak ada lagi sisa doa, gelak tawa dan tegur sapa. Kita sepasang kesunyian yang menyekam bara untuk terbakar sendirian.

Takdir membawa kita di persimpangan yang menakik jarak kita semakin jauh. Kukira begitu baiknya. Kita merawat luka masing-masing untuk belajar bahwa setiap perasaan, cinta juga benci, adalah kesementaraan. Luka adalah fana, demikian pula kebahagiaan. Yang abadi adalah menunggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar