Yang punah bersama pengkhianatan adalah cinta, juga harapan. Yang mati
dari cinta adalah kasih sayang. Di antaranya lahir kebencian juga
dendam. Tapi apa yang lebih menyedihkan daripada jatuh cinta lantas
ditinggalkan? Barangkali tak ada yang lebih paham dari ombak-ombak yang
membawa buih pada tepian pantai. Namun apa guna bersajak dan berbahasa
dengan indah ketika hati yang kau harapkan bisa menjadi pelabuhan,
berubah menjadi medan laga pertempuran?
Barangkali luka itu sudah terlalu, hingga segala sapa adalah peringatan perang, dan segala perhatian adalah dusta.
Pernahkah kuceritakan padamu tentang perigi yang kering di samping
rumah? Tentang yang tak berguna kala bukan waktunya? Perigi yang
megganggu kala kemarau, dengan segala debu dan sampah yang ada di
dalamnya. Tapi kita tahu, tak segala hal mesti berguna setiap saat dan
tak semua hal mesti bermanfaat setiap waktu. Perigi yang kubenci itu toh
tetap melaksanakan tugasnya menghalau genangan air saat musim hujan.
Juga menjauhkan segala kotoran dan sisa cairan yang tak dibutuhkan. Ia
tetap bekerja meski aku membencinya.
Apa yang lebih menerima dari mendung? Segalanya dibuat muram dan
kelam tanpa pilihan. Hidup menyedian pentas yang tak bisa kita pilih
lakonnya. Barangkali demikian titah yang disenyapkan Yang Maha kepada
tiap hidup. Aku belajar menuliskan duka dengan kata-kata yang barangkali
sudah bosan dan muak kau baca. Aku menulis dengan apa yang aku pahami
sebagai kebencian, luka juga pengharapan. Kau boleh membenciku hari ini,
esok dan seterusnya. Tapi tiap akhir babak ada lakon yang akan kita
hadapi bersama. Pengadilan.
Kau tahu aku tak pernah meminta agar lakon ini dipentaskan
bersamamu. Aku hanya jatuh cinta, lantas percakapan itu mengalir.
Seperti juga perigi yang aku benci keberadaannya saat kemarau. Tak ada
yang tersisa dari kita kecuali segala kebencian yang menumpuk. Tak ada
lagi sisa doa, gelak tawa dan tegur sapa. Kita sepasang kesunyian yang
menyekam bara untuk terbakar sendirian.
Takdir membawa kita di persimpangan yang menakik jarak kita semakin
jauh. Kukira begitu baiknya. Kita merawat luka masing-masing untuk
belajar bahwa setiap perasaan, cinta juga benci, adalah kesementaraan.
Luka adalah fana, demikian pula kebahagiaan. Yang abadi adalah menunggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar