Setiap orang berhak bahagia. Juga kamu.
Kamu boleh mengaku penyuka perih. Manusia yang mengakrabi luka dan
kegetiran. Tapi tiap tiap manusia memiliki takdir untuk bahagia dan
kebahagiaan itu diawali dengan menghargai diri sendiri. Kamu tahu? Tidak
ada luka yang tidak bisa sembuh, ia meninggalkan bekas, tapi ia bisa
disembuhkan. Mungkin kamu sesekali akan merasakan ngilu. Tapi siapa yang
tidak? Siapa yang tidak pernah terluka? Bahkan saat makan ice cream kau
pun bisa mengalami flu, itu luka yang lain bukan?
Kebahagiaan itu bukan anugerah tuhan. Ia hasil dari persamaan
matematik yang kelewat sederhana untuk dimengerti filsafat. Kamu hanya
perlu bersikap baik, punya akal sehat dan tidak terlalu banyak berpikir.
Luka hadir dari usaha mengingat kenangan yang tidak perlu. Kamu tahu
itu, kita paham ini, tapi kamu si penyuka luka lebih gemar mengikis
tubuhmu sendiri untuk menyesapi borok itu sendirian.
Kamu tahu bahwa aku pernah berharap untuk mencintaimu dengan
sempurna. Tapi kita berdua tahu. Tidak pernah ada cinta yang benar benar
adiluhung. Selalu ada sumbing dan bopeng muka perasaan yang kita sebut
cinta. Namun ini tak berarti kamu boleh menjadi egois dan memenuhi
kesenangan sendiri dengan sepuas-puasnya. Kamu adalah cerminan hidup
orang lain atas dirimu sendiri. Kamu tak memiliki hak merebut
kebahagiaan orang lain untuk kebahagiaanmu sendiri.
Pada akhirnya akan ada sunyi yang kita rasakan sendiri. Kesunyian
itu merebut kebahagiaanmu. Tapi percayalah, akan ada bagian lain dari
dirimu yang tahan menghadapinya. Setiap sepi mendewasakanmu. Pelan-pelan
ia mengajarimu untuk tegak berdiri sendiri dan menjadi dewasa dengan
sebaik-baiknya. Kesunyian itu membentuk hidupmu, menciptakanmu dari
tanah liat yang basah, buruk rupa dan tak berbentuk menjadi kehidupan
yang lain.
Cinta tidak menyakiti, tapi tentu saat mencintai kita bisa merasakan
sakit. Tidak ada kehendak menyakiti dalam cinta, kamu tahu itu. Lebih
dari siapapun di dunia, kamu tahu bahwa tak ada orang lain yang berhak
merebut pasangan orang lain. Tapi kamu tahu aku tak punya kesadaran
demikian. Kita belajar untuk berdiri dan berlari, tapi seringkali kita
dibiarkan jatuh untuk belajar bangkit sendiri. Luka tak bisa dihindari,
tapi kita, kamu dan aku bisa memilih untuk tidak melukai orang lain.
Kini aku hanya mampu merindukanmu diam diam. Kita belajar bicara
tanpa bahasa. Kata-kata sudah terlampau tengik untuk bisa dipercaya. Aku
mencintaimu dengan segala keburukan dan kedhaifanku. Manusia bisa jadi
lemah, tapi ia bisa memilih untuk belajar kuat demi yang dicintai. Aku
memilih untuk jadi lemah dan bodoh. Kamu bisa mengerti ini. Maka
belajarlah untuk tidak menjadi bodoh sayangku. Kamu punya pilihan untuk
tidak menyakiti.
Post Scriptum: Tulisan ini dibuat sebagai hadiah dari Cici untuk Ay
yang berulang tahun tepat hari ini dan juga untuk wisuda Ay minggu
kemarin. Ay segalanya buat Cici. #ketjupbasah hahaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar