Kamis, 17 April 2014

Kamu dan Luka

Setiap orang berhak bahagia. Juga kamu.

Kamu boleh mengaku penyuka perih. Manusia yang mengakrabi luka dan kegetiran. Tapi tiap tiap manusia memiliki takdir untuk bahagia dan kebahagiaan itu diawali dengan menghargai diri sendiri. Kamu tahu? Tidak ada luka yang tidak bisa sembuh, ia meninggalkan bekas, tapi ia bisa disembuhkan. Mungkin kamu sesekali akan merasakan ngilu. Tapi siapa yang tidak? Siapa yang tidak pernah terluka? Bahkan saat makan ice cream kau pun bisa mengalami flu, itu luka yang lain bukan?

Kebahagiaan itu bukan anugerah tuhan. Ia hasil dari persamaan matematik yang kelewat sederhana untuk dimengerti filsafat. Kamu hanya perlu bersikap baik, punya akal sehat dan tidak terlalu banyak berpikir. Luka hadir dari usaha mengingat kenangan yang tidak perlu. Kamu tahu itu, kita paham ini, tapi kamu si penyuka luka lebih gemar mengikis tubuhmu sendiri untuk menyesapi borok itu sendirian.

Kamu tahu bahwa aku pernah berharap untuk mencintaimu dengan sempurna. Tapi kita berdua tahu. Tidak pernah ada cinta yang benar benar adiluhung. Selalu ada sumbing dan bopeng muka perasaan yang kita sebut cinta. Namun ini tak berarti kamu boleh menjadi egois dan memenuhi kesenangan sendiri dengan sepuas-puasnya. Kamu adalah cerminan hidup orang lain atas dirimu sendiri. Kamu tak memiliki hak merebut kebahagiaan orang lain untuk kebahagiaanmu sendiri.

Pada akhirnya akan ada sunyi yang kita rasakan sendiri. Kesunyian itu merebut kebahagiaanmu. Tapi percayalah, akan ada bagian lain dari dirimu yang tahan menghadapinya. Setiap sepi mendewasakanmu. Pelan-pelan ia mengajarimu untuk tegak berdiri sendiri dan menjadi dewasa dengan sebaik-baiknya. Kesunyian itu membentuk hidupmu, menciptakanmu dari tanah liat yang basah, buruk rupa dan tak berbentuk menjadi kehidupan yang lain.

Cinta tidak menyakiti, tapi tentu saat mencintai kita bisa merasakan sakit. Tidak ada kehendak menyakiti dalam cinta, kamu tahu itu. Lebih dari siapapun di dunia, kamu tahu bahwa tak ada orang lain yang berhak merebut pasangan orang lain. Tapi kamu tahu aku tak punya kesadaran demikian. Kita belajar untuk berdiri dan berlari, tapi seringkali kita dibiarkan jatuh untuk belajar bangkit sendiri. Luka tak bisa dihindari, tapi kita, kamu dan aku bisa memilih untuk tidak melukai orang lain.

Kini aku hanya mampu merindukanmu diam diam. Kita belajar bicara tanpa bahasa. Kata-kata sudah terlampau tengik untuk bisa dipercaya. Aku mencintaimu dengan segala keburukan dan kedhaifanku. Manusia bisa jadi lemah, tapi ia bisa memilih untuk belajar kuat demi yang dicintai. Aku memilih untuk jadi lemah dan bodoh. Kamu bisa mengerti ini. Maka belajarlah untuk tidak menjadi bodoh sayangku. Kamu punya pilihan untuk tidak menyakiti.

Post Scriptum: Tulisan ini dibuat sebagai hadiah dari Cici untuk Ay yang berulang tahun tepat hari ini dan juga untuk wisuda Ay minggu kemarin. Ay segalanya buat Cici. #ketjupbasah hahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar