Kamis, 10 Desember 2015

Teori Pilihan Raional & Money Politic

TEORI PILIHAN RASIONAL
            Menurut James Coleman yang mengembangkan teori pilihan rasional, individu bertindak berdasarkan pilihan rasionalnya untuk memenuhi tujuan dan hasil yang ingin diacapai. Tujuan tersebut bisa tercapai dengan menggunakan sumber daya yang dimilikinya dan memaksimalkan kegunaan dari sumber daya tersebut untuk keberhasilan tujuannya. Rasionalitas sendiri menurut Coleman, antara individu yang satu dengan individu yang lain itu tidak sama karena dipengaruhi oleh cara memandang suatu permasalahan yang berbeda. Rasional menurut seseorang dan tidak rasional menurut orang lain. Semua itu seharusnya dikembalikan kepada pelaku tersebut jangan mengukurnya dari sudut pandang orang lain (Coleman dalam Hariyanto 2004).
            Teori Pilihan Rasional Coleman menekankan bahwa seorang individu melakukan sebuah tindakan yang mana tindakan tersebut akan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk mencapai sebuah tujuan. Artinya, tindakan seseorang itu merupakan tindakan purposif atau memiliki tujuan. 
            Coleman juga menyebutkan dua elemen penting dalam teori pilihan rasionalnya yaitu pelaku dan benda/sumber daya yang mana hubungan keduanya adalah kuasa dan kepentingan (Ritzer, 2009). Sumber daya yang dimaksud adalah suatu barang atau benda yang akan digunakan oleh aktor tersebut untuk mendukung tindakannya dalam mencapai sebuah tujuan. Biasanya, sumber daya ini kadang-kadang belum dimanfaatkan secara penuh oleh pemiliknya. Misalnya seseorang yang memiliki lahan pertanian sebagai sumberdaya yang dimilikinya, dan dia menjalankan kuasa atas kepemilikan terhadap lahan tersebut untuk memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi, terkadang pemilik lahan tersebut tersebut tidak sepenuhnya memiliki kemampuan untuk bertani, sehingga untuk dapat memenuhi kebutuhannya dia menggunakan lahan pertaniannya sebagai penghasil sumberdaya yang lain dengan disewakan pada petani lain, yang tentunya dia mendapatkan hak berupa pembayaran sewa lahan.
            Dalam teori pilihan rasional, individu didorong oleh keinginan atau tujuan yang mengungkapkan 'preferensi'. Mereka bertindak dengan spesifik, mengingat kendala dan atas dasar informasi yang mereka miliki tentang kondisi di mana mereka bertindak. Paling sederhana, hubungan antara preferensi dan kendala dapat dilihat dalam istilah-istilah teknis yang murni dari hubungan dari sebuah sarana untuk mencapai tujuan. Karena tidak mungkin bagi individu untuk mencapai semua dari berbagai hal-hal yang mereka inginkan, mereka juga harus membuat pilihan dalam kaitannya dengan tujuan mereka berdua dan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan ini. Teori pilihan rasional berpendapat bahwa individu harus mengantisipasi hasil alternatif tindakan dan menghitung bahwa yang terbaik untuk mereka. Rasional individu memilih alternatif yang akan memberi mereka kepuasan terbesar.
            Inti dari penjelasan teori pilihan rasional ini adalah bahwa tindakan dan tujuan memiliki hubungan satu sama lain. Sebuah tindakan akan dikatakan rasional bila tindakan tersebut memiliki tujuan, dan kecenderungannya tidak akan ada suatu pilihan tindakan tanpa memiliki tujuan. Teori pilihan rasional memusatkan perhatian pada aktor. Aktor dipandang sebagai manusia yang mempunyai tujuan. Artunya, aktor mempunyai tujuan dan tindakan tertentu pada upaya untuk mencapai tujuannya itu. Aktor dipandang mempunyai pilihan. Teori pilihan rasional tidak menghiraukan apa yang menjadi pilihan atau apa yang menjadi sumber pilihan aktor, yang terpenting adalah kenyataan bahwa tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan pilihan aktor.
·        Perilaku Kolektif
Teori pilihan rasional dapat menganalisis perilaku kolektif, meskipun sifat perilaku kolektif tak stabil dan kacau. Teori pilihan rasional dapat menjelaskan penyebab adanya perilaku kolektif yang liar dari seorang atau beberapa aktor terhadap aktor lain. Menurut teori pilihan rasional, adanya perilaku yang demikian dikarenakan mereka berupaya memaksimalkan kepentingan mereka.  Adanya upaya memaksimalkan kepentingan  individual tersebut menyebabkan keseimbangan kontrol antara beberapa aktor dan menghasilkan keseimbangan dalam masyarakat. Namun, dalam perilaku kolektif, adanya upaya memaksimalkan kepentingan individu tak selalu menyebabkan keseimbangan sistem.
·        Norma
Menurut  Coleman, norma diprakarsai dan dipertahankan oleh beberapa orang. Mereka memahami keuntungan dibentuknya norma tersebut, dan kerugian apabila terjadi pelanggaran terhadap norma. Aktor berusaha memaksimalkan utilitas mereka, sebagian dengan menggerakkan hak untuk mengendalikan diri mereka sendiri dan memperoleh sebagian hak untuk mengendalikan aktor lain. Tetapi ada pula keadaan  di mana norma berperan menguntungkan orang tertentu dan merugikan orang lain. Dalam kasus tertentu, aktor menyerahkan hak (melalui norma) untuk mengendalikan tindakan orang lain. Selanjutnya keefektifan norma tergantung pada kemampuan melaksanakan consensus tersebut. Konsensus dan pelaksanaannyalah yang mencegah tanda-tanda ketidakseimbangan perilaku kolektif.
·        Aktor Korporat
Ada berbagai aturan dan mekanisme agar dapat berpindah dari pilihan individu menuju pilihan kolektif. Coleman beragumen bahwa aktor korporat dan aktor manusia memiliki tujuan. Terlebih lagi dalam struktur korporat seperti organisasi, aktor manusia bisa mengejar tujuan mereka yang berbeda dengan tujuan korporat. Sebagai seorang teoritisi pilihan rasional, Coleman mulai dari individu dan dari gagasan bahwa semua hak dan sumber daya tersedia pada level ini. kepentingan individu menetukan seluruh peristiwa. Didunia modern aktor korporat semakin penting.
Bagi Coleman, perubahan sosial terpenting adalah munculnya aktor korporat untuk melengkapi aktor “pribadi alami”. Keduanya dipandang sebagai aktor karena “mengontrol sumber daya dan peristiwa, kepentingan akan sumber daya dan peristiwa, serta kapabilitas untuk bertindak merealisasikan kepentingan–kepentingan tersebut melalui control”. Coleman membedakan struktur primordial yang didasarkan pada keluarga, dengan struktur yang bertujuan. Struktur primordial mengalami kegagalan ketika fungsi – fungsi mereka mulai tersebar dan diambil alih oleh aktor korporat. Sehingga tujuan karya Coleman adalah memberikakn landasan bagi konstruksi struktur sosial yang layak dilakukan, ketika struktur primordial tempat bergantung orang mulai punah.
Money Politic dan Pilihan Rasional
            Sekitar seminggu lagi, tepatnya pada tanggal 9 Desember 2015 kita akan kembali menikmati pesta demokrasi dengan dihelatnya Pilkada serentak di seluruh Indonesia, baik untuk memilih Gubernur, Bupati maupun Walikota. Pesta demokrasi ini melibatkan warga negara yang memiliki hak pilih sebagai objek sekaligus subjek demokrasi. Para pemilih inilah yang akan menentukan siapa yang berhak untuk memimpin seuatu daerah dalam jangka lima tahun ke depan.
Warga negara yang memilki hak pilih ini menjadi target pasangan calon yang bertarung di Pilkada untuk ikut mendukung dan memilih dirinya sebagai pemimpin suatu daerah. Seringkali untuk memenuhi ambisinya memenangkan pertarungan di Pilkada, seorang calon menghalalkan berbagi cara, misalnya melalui money politic. Pilihan tindakan (strategi) money politic ini sebenarnya dapat dipahami, karena memang tindakan calon tersebut demi memuluskan tujuannya menjadi pemenang Pilkada.
Sifat dasar dari makhluk rasional adalah kalkulasi untung rugi yang menjadi dasar setiap tindakannya, dan berdasar pertimbangan untung rugi ini pula calon yang bertarung di Pilkada ini mendasarkan pilihan strategi money politic sebagai cara untuk memenangkan Pilkada. Dengan modal sumber daya yang dimilikinya, ia memobilisasi massa untuk memilih dirinya di Pilkada.
Dengan pertimbangan untung rugi yang seperti ini pula, pemilih menurut teori pilihan rasional tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan untuk dapat memperoleh hasil. Rasionalitas masyarakat muncul ketika mereka berfikir keuntungan apa yang akan mereka dapatkan ketika mereka menggunakan hak pilihnya. Padahal disisi lain mereka sudah jelas mengeluarkan ongkos dalam Pilkada. Ongkos dalam hal ini sudah pasti tenaga dan waktu, bahkan bisa jadi uang. Misalnya untuk transportasi menuju TPS. Masyarakat mulai berfikir apakah barang yang mereka dapatkan nantinya sebanding dengan ongkos yang mereka keluarkan. Selain itu, seringkali muncul semacam anekdot-anekdot lucu, misalnya anggapan kapan lagi pemimpin akan memberikan bantuan (uang) secara sukarela pada warganya, sekaranglah saatnya, karena suara mereka hanya akan diperhatikan dan dibutuhkan Cuma lima tahun sekali.
Praktik money politic dalam Pemilu dapat dilihat dari pandangan teori pilihan rasional James S. Coleman. Coleman mengangap bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang dipengaruhi oleh tujuan dan nilai yang diinginkan oleh mereka. Selanjutnya menurut Coleman dalam teori pilihan rasional ada dua unsur yang terlibat yakni aktor dan sumber daya (Ritzer, 2009). Uang menjadi salah satu motivasi bagi seseroang untuk berpartisiapsi dalam politik. Dalam Pilkada sendiri yang dinamakan aktor adalah warga negara (pemilik hak pilih) dan para calon kepala daerah. Sedangkan sumber daya yang dimaksud adalah uang dan jabatan politik. Coleman menjelaskan adanya interaksi antara aktor dan sumber daya. Masing-masing aktor dapat mengendalikan sumber daya. Baik pemilik hak pilih maupun calon kepala daerah dapat mengendalikan jabatan politik. Masyarakat memiliki hak untuk menentukan siapa calon yang akan terpilih. Sedangkan kepala daerah juga memiliki kemampuan untuk memengaruhi pilihan masyarakat. Disinilah kemudian kedua aktor tersebut saling memengaruhi dan membutuhkan untuk mecapai tujuan masing-masing
            Masyarakat dan para calon kepala daerah sama-sama memiliki kepentingan terhadap sumber daya yakni uang dan jabatan politik sehingga dapat saling memengaruhi. Calon kepala daerah memberikan penawaran yang memberikan keuntungan kepada masyarakat. Disisi lain masyarakat memberikan penawaran berupa dukungan suara untuk memenangkan pasangan calon. Masyarakat dan calon kepala daerah akhirnya terlibat sebuah hubungan untuk memenuhi kepentingannya masing-masing. Sehingga praktik politik uangpun tidak dapat terhindarkan. Hak pilih menjadi sesuatu yang bisa ditukar dengan sumberdaya (uang dan barang). Dengan adanya transaksi tersebut maka kedua aktor ini akan sama-sama mendapatkan sumber daya yang mereka inginkan. Dimana pemilih dalam hal ini akan mendapatkan uang sedangkan calon kepala daerah akan mendapatkan jabatan politik yakni berupa kemenangan dalam Pilkada.





(Bagi calon kepala daerah, money politik adalah hal yang rasional)

 


                (Masyarakat bahkan terang-terangan menyatakan menerima money politic)



Sumber:
·        Fakhrurrodzi. 2015. Rasionalitas dalam Pilkada Langsung di Riau. Artikel. Diakses pada 01 Desember 2015 from: http://www.riauonline.co.id/2015/09/30/rasionalitas-dalam-pemilihan-kepala-daerah-langsung
·        Hariyanto, Eko. 2014. Pilihan Rasional dan Modal Sosial Petani. Jurnal Sosiologi Universitas Brawijaya. Malang. Diakses 01 Desember 2015 from: https://www.academia.edu/8334431/Jurnal_Eko_Hariyanto_0911210038_FISIP-Sosiologi
·        Margaret M. Poloma, 1994. Sosiologi Kontemporer, Jakarta: Rajawali Pers
·        Raho Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher
·        Ritzer, George and Douglas J. Goodman, 2009, Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir, Yogyakarta: Kreasi Wacana

·        Zeitlin, Irving. 1995. Memahami Kembali Ssosiologi. Yogyakarta: UGM Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar