Kamis, 17 April 2014

Dendam Yang Membatu

Aku ingin menceritakan kepadamu satu kisah sakit hati seorang ksatria.

Ksatria tersebut bernama Basusena. Sering pula dijuluki Sutaputra, yang berarti anak kusir. Atau, jika kau pernah membaca kisah pewayangan barang sedikit, kau akan lebih mengenalnya dengan nama Karna. Putra Batara Surya yang dibuang oleh ibu kandungnya dan ditemukan hanyut di sungai oleh si kusir kereta, Adirata. Selanjutnya, Karna diangkat anak oleh Adirata. Dia "dibaptis" masuk ke dalam golongan kusir yang dianggap rendah dan tanpa seorang pun mengetahui fakta bahwa dia adalah seorang ksatria.

Sebelum aku melanjutkan cerita, aku hanya ingin memastikan kau paham bahwa tujuanku menulis ini adalah agar kau tahu betapa menyakitkannya dipandang rendah dengan sebelah mata.

Karna tentu begitu akrab dengan hal tersebut. Sebagai anak kusir, dia terbiasa memperoleh perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka yang berkasta lebih tinggi. Tak sekalipun dia dihargai layaknya sesama manusia. Sayembara untuk memperistri Drupadi yang telah dia menangkan ditolak mentah-mentah oleh calon istri yang jijik dengan kondisinya. Bahkan orang-orang semulia Pandawa pun tak ketinggalan menolak ajakan bertanding dari Karna dengan satu alasan penuh penghinaan: dia dan Pandawa tidak berangkat dari golongan yang sederajat.

Sampai di sini, rasanya kita perlu rehat dari dongeng yang aku tahu bakal membosankan bagimu. Aku baru sadar, kau yang merasa terhormat dan istimewa takkan peduli pada hal-hal semacam itu. Toh pada dasarnya kau tidak pernah merasakan bagaimana menyedihkannya diremehkan. Harta dan kedudukan telah purna kaugenggam sejak dulu. Kau telah memiliki semua yang dibutuhkan agar tidak memperoleh tatapan sengit dari orang-orang yang gemar melecehkan.

Biar bagaimanapun kita sama-sama mengerti, propaganda mengenai dihapusnya konsep kasta dalam dunia modern adalah omong kosong belaka. Manusia selalu menemukan hal yang dapat dipergunakan untuk membedakan dirinya dengan manusia lain, untuk merasa eksklusif dan jauh lebih baik dari golongan di luar dirinya. Merasa gagah di antara para pengangguran, memarahi pengemis yang mengganggu di trotoar jalan, atau bahkan menyombongkan diri di hadapan kawan. Bukankah kau sendiri gemar melakukannya?

Tidak apa-apa. Aku yakin banyak orang, termasuk aku, tak luput dari dosa macam ini. Tetapi belakangan aku merasa kau (juga aku sendiri) perlu diingatkan, mereka yang rendah, yang hina di mata kita, juga memiliki harga diri. Jika kau coba-coba lukai, hati mereka akan tersakiti. Dan kita semua tau sakit hati berkawan akrab dengan perasaan bernama dendam.

Bedanya, sakit hati hanya terasa untuk sejenak. Namun dendam bisa berlangsung sangat lama. Dia mempunyai usia seperti kura-kura yang kaupunya.

Di padang Kurusetra yang banjir darah, Karna berdiri tegak. Menggeram. Memandang ke perkemahan Pandawa dengan penuh amarah. Saat itu sudah dia lupakan sakit hati yang pernah dia terima. Sudah dia persetankan hina dan cela dari Pandawa kepada dirinya, si anak kusir. Tapi dendam telah membatu dan harus dia lampiaskan perasaan itu Tak dia hiraukan apakah Pandawa sedang memperjuangkan haknya dan Kurawa sedang melanggengkan kelaliman. Dia tetap kukuh membela Kurawa, membela Duryudana; satu-satunya orang yang mau menghargainya. Bahkan jika itu berarti dia harus berada di pihak yang berseberangan dengan ibu dan keluarga kandungnya.

Kau perlu ingat sekali lagi: dendam telah membatu.

Tak perlu kita lanjutkan kelanjutan kisah itu. Tak penting bagimu. Aku hanya ingin bilang kalau kau tengah berhadapan dengan orang yang memelihara dendam macam Karna, berhati-hatilah. Dia akan memburu tanpa lelah. Dia seperti anjing yang siap memangsamu ketika kau lengah. Dan kautahu dia, anjing itu, adalah aku.

Kamu dan Luka

Setiap orang berhak bahagia. Juga kamu.

Kamu boleh mengaku penyuka perih. Manusia yang mengakrabi luka dan kegetiran. Tapi tiap tiap manusia memiliki takdir untuk bahagia dan kebahagiaan itu diawali dengan menghargai diri sendiri. Kamu tahu? Tidak ada luka yang tidak bisa sembuh, ia meninggalkan bekas, tapi ia bisa disembuhkan. Mungkin kamu sesekali akan merasakan ngilu. Tapi siapa yang tidak? Siapa yang tidak pernah terluka? Bahkan saat makan ice cream kau pun bisa mengalami flu, itu luka yang lain bukan?

Kebahagiaan itu bukan anugerah tuhan. Ia hasil dari persamaan matematik yang kelewat sederhana untuk dimengerti filsafat. Kamu hanya perlu bersikap baik, punya akal sehat dan tidak terlalu banyak berpikir. Luka hadir dari usaha mengingat kenangan yang tidak perlu. Kamu tahu itu, kita paham ini, tapi kamu si penyuka luka lebih gemar mengikis tubuhmu sendiri untuk menyesapi borok itu sendirian.

Kamu tahu bahwa aku pernah berharap untuk mencintaimu dengan sempurna. Tapi kita berdua tahu. Tidak pernah ada cinta yang benar benar adiluhung. Selalu ada sumbing dan bopeng muka perasaan yang kita sebut cinta. Namun ini tak berarti kamu boleh menjadi egois dan memenuhi kesenangan sendiri dengan sepuas-puasnya. Kamu adalah cerminan hidup orang lain atas dirimu sendiri. Kamu tak memiliki hak merebut kebahagiaan orang lain untuk kebahagiaanmu sendiri.

Pada akhirnya akan ada sunyi yang kita rasakan sendiri. Kesunyian itu merebut kebahagiaanmu. Tapi percayalah, akan ada bagian lain dari dirimu yang tahan menghadapinya. Setiap sepi mendewasakanmu. Pelan-pelan ia mengajarimu untuk tegak berdiri sendiri dan menjadi dewasa dengan sebaik-baiknya. Kesunyian itu membentuk hidupmu, menciptakanmu dari tanah liat yang basah, buruk rupa dan tak berbentuk menjadi kehidupan yang lain.

Cinta tidak menyakiti, tapi tentu saat mencintai kita bisa merasakan sakit. Tidak ada kehendak menyakiti dalam cinta, kamu tahu itu. Lebih dari siapapun di dunia, kamu tahu bahwa tak ada orang lain yang berhak merebut pasangan orang lain. Tapi kamu tahu aku tak punya kesadaran demikian. Kita belajar untuk berdiri dan berlari, tapi seringkali kita dibiarkan jatuh untuk belajar bangkit sendiri. Luka tak bisa dihindari, tapi kita, kamu dan aku bisa memilih untuk tidak melukai orang lain.

Kini aku hanya mampu merindukanmu diam diam. Kita belajar bicara tanpa bahasa. Kata-kata sudah terlampau tengik untuk bisa dipercaya. Aku mencintaimu dengan segala keburukan dan kedhaifanku. Manusia bisa jadi lemah, tapi ia bisa memilih untuk belajar kuat demi yang dicintai. Aku memilih untuk jadi lemah dan bodoh. Kamu bisa mengerti ini. Maka belajarlah untuk tidak menjadi bodoh sayangku. Kamu punya pilihan untuk tidak menyakiti.

Post Scriptum: Tulisan ini dibuat sebagai hadiah dari Cici untuk Ay yang berulang tahun tepat hari ini dan juga untuk wisuda Ay minggu kemarin. Ay segalanya buat Cici. #ketjupbasah hahaha.

Prasasti Duka

Yang punah bersama pengkhianatan adalah cinta, juga harapan. Yang mati dari cinta adalah kasih sayang. Di antaranya lahir kebencian juga dendam. Tapi apa yang lebih menyedihkan daripada jatuh cinta lantas ditinggalkan? Barangkali tak ada yang lebih paham dari ombak-ombak yang membawa buih pada tepian pantai. Namun apa guna bersajak dan berbahasa dengan indah ketika hati yang kau harapkan bisa menjadi pelabuhan, berubah menjadi medan laga pertempuran?

Barangkali luka itu sudah terlalu, hingga segala sapa adalah peringatan perang, dan segala perhatian adalah dusta.

Pernahkah kuceritakan padamu tentang perigi yang kering di samping rumah? Tentang yang tak berguna kala bukan waktunya? Perigi yang megganggu kala kemarau, dengan segala debu dan sampah yang ada di dalamnya. Tapi kita tahu, tak segala hal mesti berguna setiap saat dan tak semua hal mesti bermanfaat setiap waktu. Perigi yang kubenci itu toh tetap melaksanakan tugasnya menghalau genangan air saat musim hujan. Juga menjauhkan segala kotoran dan sisa cairan yang tak dibutuhkan. Ia tetap bekerja meski aku membencinya.

Apa yang lebih menerima dari mendung? Segalanya dibuat muram dan kelam tanpa pilihan. Hidup menyedian pentas yang tak bisa kita pilih lakonnya. Barangkali demikian titah yang disenyapkan Yang Maha kepada tiap hidup. Aku belajar menuliskan duka dengan kata-kata yang barangkali sudah bosan dan muak kau baca. Aku menulis dengan apa yang aku pahami sebagai kebencian, luka juga pengharapan. Kau boleh membenciku hari ini, esok dan seterusnya. Tapi tiap akhir babak ada lakon yang akan kita hadapi bersama. Pengadilan.

Kau tahu aku tak pernah meminta agar lakon ini dipentaskan bersamamu. Aku hanya jatuh cinta, lantas percakapan itu mengalir. Seperti juga perigi yang aku benci keberadaannya saat kemarau. Tak ada yang tersisa dari kita kecuali segala kebencian yang menumpuk. Tak ada lagi sisa doa, gelak tawa dan tegur sapa. Kita sepasang kesunyian yang menyekam bara untuk terbakar sendirian.

Takdir membawa kita di persimpangan yang menakik jarak kita semakin jauh. Kukira begitu baiknya. Kita merawat luka masing-masing untuk belajar bahwa setiap perasaan, cinta juga benci, adalah kesementaraan. Luka adalah fana, demikian pula kebahagiaan. Yang abadi adalah menunggu.