Sejauh ini, semua capres bertingkah layaknya anak-anak remaja akil balik berotak kosong dan kebingungan sehingga mereka mencoba segala cara untuk memberikan jawaban yang terdengar enak di kuping tapi kosong secara substansi. Tiga capres yang semuanya hanya jago menyusun wacana? No thanks.
Melihat fakta-fakta di atas, apakah golput bisa disalahkan atas lahirnya pemerintahan yang buruk atau sebaliknya, pemerintahan yang buruklah yang menjadi penyebab utama semakin pesimisnya masyarakat terhadap pemilu dan meningkatnya golput?
Menjelang pemilu 2014, seperti saya katakan di atas, mulai muncul fenomena yang bertujuan menggiring masyarakat ke bilik pemilihan untuk memilih partai dan presiden. Selain kampanye hitam terhadap golput, juga muncul jargon-jargon untuk menjustifikasi kenapa kita “harus” memilih.
Salah satu justifikasi yang paling sering digaungkan adalah “memang tidak ada yang sempurna karena itu pilihlah yang terbaik dari yang terburuk".
Menurut pendapat saya, justifikasi seperti itu adalah sesuatu yang bodoh. The lesser of all evils is still an evil. Jika calon A punya track record pernah korupsi 100 M, calon B 200 M dan calon C 300 M, tetap saja memilih calon A adalah memilih seorang koruptor untuk menjadi pemimpin. Dan begitu dia menjadi pemimpin, hampir bisa dipastikan korupsinya lebih gila dari calon B dan calon C digabung.
Jadi apa harus ada pemimpin yang benar-benar bersih? Ya memang. Hanya orang bodoh yang mau dirinya dipimpin oleh bandit dan memilihnya secara sadar.
Dan sekarang pertanyaannya; kenapa tidak pernah muncul pemimpin bersih yang benar-benar layak dipilih selama ini? Jawabannya bukan di masalah memilih atau tidak, jawabannya ada di dalam masyarakat itu sendiri.
Masyarakat yang brengsek hanya akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang brengsek. Masyarakat yang munafik akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang munafik. Masyarakat yang bermental bandit akan mendudukkan gembong-gembong bandit pada tampuk-tampuk kekuasaan.
Sekarang coba lihat masyarakat Indonesia secara keseluruhan dan nilai sendiri. Lupakan jargon-jargon nasionalisme semu seperti “bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar” dan lain-lain sebab pada kenyataannya masyarakat kita pada saat ini benar-benar sampah.
Di saat bangsa lain sudah mulai membentuk masyarakat madani yang mandiri tanpa harus bergantung pada pemerintah, masyarakat kita, ironisnya di sebagian besar anak mudanya, masih bermental inlander atau budak yang mengharapkan keselamatan dan perubahan dari figur seorang ratu adil atau satria piningit.
Di saat bangsa lain sudah mulai mengaplikasikan nilai-nilai humanisme universal dalam kehidupan sehari-harinya, masyarakat kita masih bisa saling bunuh hanya karena perbedaan cara ibadah. Mental instant juga masih terpatri dalam masyarakat kita dan ini terlihat dari banyaknya buku-buku sampah tentang cara cepat menjadi kaya di deretan best seller toko buku. Sistem pendidikan kita yang hanya berbasis nilai bukan proses juga menumbuhkan mental korup sejak usia dini. Bagaimana mungkin ada pemimpin bersih atau peningkatan kualita kehidupan bisa muncul dari masyarakat sampah seperti ini?
Pada akhirnya yang harus disadari adalah peningkatan kehidupan dan kesejahteraan suatu masyarakat harus dimulai dari individu-individu di dalam masyarakat itu sendiri, bukan pada figur seorang pemimpin. Selama masih banyak individu yang bermental budak, oportunis maupun manja, maka kesejahteraan tidak akan pernah terwujud. Yang menyedihkan adalah individu-individu semacam ini justru semakin menjamur di segmen kelas menengah dan muda, segmen berpendidikan yang diharapkan bisa menjadi penggerak.
Anda boleh memiliki gadget bernilai jutaan dan berkantor di gedung menterang, akan tetapi selama anda masih dengan noraknya mengharapkan perubahan akan datang dari seorang figur yang anda bela habis-habisan seakan dia adalah Tuhan agar banyak pemilih yang memilih dia, maka anda tetap saja bermental seorang budak; seorang pandir yang tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup bahwa perubahan kehidupannya ada di tangannya sendiri.
Kaum golput bukanlah sekumpulan pemalas penyebar pesimisme seperti yang banyak didengung-dengungkan akhir-akhir ini. Sebaliknya, kaum golput adalah orang-orang optimis yang merasa tidak perlu memberikan mandat atas kehidupannya kepada figur-figur bandit. Kaum golput adalah orang-orang mandiri yang merasa tidak perlu menghamba dengan putus asa dan berdoa akan kehadiran sosok ratu adil atau satria piningit. Kami bukan budak dan kami bukan penjilat kekuasaan.
Kemaren tepatnya, hari bersejarah tentang pergulatan nurani antara golput atau tidak, menjadi puncaknya. Ketika Jokowi didaulat menjadi Capres oleh PDI-Perjuangan, harapan akan adanya pemimpin yang benar-benar mengayomi seketika tumbuh, mengingat sampai hari ini hanya ia seoranglah yang tampak bisa menjadi penghapus dahaga kita akan pemimpin yang sebenarnya.
Nasib bangsa ini setidaknya akan ditentukan oleh "Pesta Rakyat 5 tahunan" ini, ditentukan oleh pilihan kita semua, apakah kita ikut memilih atau tidak. Apakah kita hanya akan berdiam diri berpangku tangan menyerahkan nasib dan masa depan kita semua pada politisi-politisi busuk itu? Apakah kita akan saling bergotong royong membantu memberikan harapan kita semua tentang Indonesia lebih baik? Atau kita semua dengan rela menyerahkan bangsa ini pada calon presiden pelanggar HAM, pada calon presiden penculik, pembunuh, dan yang memberangus Timor-Timor itu dan juga pada calon presiden lintah darat penghisap kebahagian warga Sidoarjo itu?
Jadi anak muda, buatlah sejarahmu sendiri. Jangan jadi sekadar pengikut dan tim hore. Masa depan ada di tanganmu sendiri. Tabik!
Baccarat, poker, and casino | Wolverione | The Wire
BalasHapusOur gambling tips, 메리트카지노 poker, and worrione casino tips are posted kadangpintar weekly, daily, weekly and monthly, and include all relevant and exclusive