Kangean
merupakan salah satu pulau yang terdapat di Kepulauan Kangean yang masih
menjadi bagian dari Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa timur, terletaak di sebelah
timur Pulau Madura. Mempunyai luas keseluruhan 188 km2. Pulau Kangean terbagi
menjadi dua kecamatan yaitu kecamatan Arjasa yang mewakili Kangean bagian barat
serta kecamatan Kangayan mewakili Kangean bagian timur yang sekaligus merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan
Arjasa. Berdasarkan data survei tahun 2012 kecamatan Arjasa mempunyai jumlah
penduduk sebanyak 60.592 jiwa yang terbagi menjadi 19 desa. (Kecamatan Arjasa
dalam angka 2013)
Jumlah penduduk yang tidak mencukupi
menyebabkan Kangean tidak pernah memiliki pemerintahan sendiri. Sejak zaman
dahulu Kangean telah berada di bawah kekuasaan Sumenep, sebuah kerajaan
(sekarang Kabupaten) di ujung timur Madura. Nama Arjasa diduga diambil dari nama
raja pertama Sumenep Wiraja Arya, yang naik tahta pada tahun 1269. Tampaknya
berbagai kebijakan politik dan pembangunan pemerintah di masa lalu hingga masa
kini telah mengabaikan keberadaan Kangean, banyak kebijakan-kebijakan
pemerintah Sumenep yang cenderung menganaktirikan Pulau Kangean. Hal ini tentu
sangat berpengaruh terhadap perkembangan Kangean dari masa ke masa.
Catatan sejarah
tentang Kepulauan Kangean. Ada banyak versi cerita yang berkembang dalam
masyarakat tentang bagaimana sejarah pulau ini, baik itu mengenai asal penduduk
maupun sejak kapan Kangean mulai di tempati. Salah satunya adalah cerita
masyarakat yang mengatakan bahwasanya Kepulauan Kangean merupakan tempat
pembuangan narapidana yang mendapat hukuman dari Raja Sumenep dan kemudian
diasingkan ke Kangean. Namun tidak ada literatur maupun kepustakaan yang
menjelaskan dengan pasti mengenai sejarah pulau ini.
Berdasarkan penelitian yang pernah
dilakukan oleh Charles Illouz dan Philippe Grange dari Prancis antara tahun
2002-2006 tentang Kepulauan Kangean, sangatlah sulit diketahui sejak kapan
kepulauan ini mulai dihuni sebagai tempat tinggal dan bukan sekedar tempat
persinggahan singkat untuk memperoleh kebutuhan hidup. Tidak ada prasasti atau
peninggalan apapun yang dapat menujukkan
kapan pastinya kepulauan Kangean mulai dihuni.
Di Arjasa (Kangean) penduduk
menceritakan kedatangan komunitas Tionghoa beranggotakan 1000 masyarakat ke
pulau Kangean pada pertengahan abad XVIII. Mereka juga menceritidakan pada masa
itu etnis Madura sudah merupakan komunitas terbesar di pulau Kangean. Hal ini
mungkin ada hubungannya dengan kedatangan masyarakat Tionghoa ke Madura yang
melarikan diri dari pembataian yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda
pada tahun 1740 di Batavia (Charles dan Grange, 2013:22).
Pertama-tama pada saat masyarakat
Sulawesi datang, masyarakat Madura telah menempati pulau-pulau terbesar di
Kepulauan Kangean (pulau Kangean) serta mengelolah menjadi lahan pertanian.
Yang tersisa hanya pulau-pulau yang terletak lebih ke arah timur, berukuran
kecil, seringkali tidak memiliki sumber air tawar, dan oleh karenanya tidak bisa
dijadikan lahan pertanian sehingga ditinggalkan oleh masyarakat Madura. Namun
masyarakat Sulawesi terutama etnis Bajo adalah masyarakat laut yang terkenal
dengan cara hidup mereka di laut, jadi mereka mampu menempati pulau-pulau kecil
tersebut (Charles dan Grange, 2013:23).
Terlihat dengan jelas adanya
pembagian secara geografis dan demografis dari Kepulauan Kangean. Di bagian
barat, terdapat Pulau Kangean yang luas dan berbukit-bukit dangan mayoritas
penduduk yang berasal dari Pulau Madura. Di bagian timur (Kecamatan Sapeken),
terlihat banyak pulau-pulau karang kecil yang terutama dihuni oleh “suku
pelaut” dari Sulawesi seperti suku Bugis, Bajo, Mandar, Buton (Charles dan
Grange: 2013:33).
Fakta bahwa penduduk Kangean sangat
beragam menunjukkan bahwa Kepulauan Kangean mulai dihuni secara “permanen” dan
dalam jumlah yang cukup signifikan tidak begitu kuno, barangkali sekitar tiga
atau empat abad yang lalu, meskipun pulau ini telah didiami sejak zaman
prasejarah. Di Kangean semua penduduk beragama islam yang telah dianut sejak
zaman dahulu kala dan pernikahan menjadi faktor pemersatu berbagai komunitas
tanpa adanya ketegangan sosial, sehingga pola kehidupan dan tradisi yang ada di
Kangean sarat akan nilai-nilai islam. Namun proses ini belum berjalan efektif
khususnya antara pulau Kangean yang berpola agraris dan pulau-pulau bagian
timur yang berpola maritim. (Charles dan Grange, 2013:33).
Terdapat dua bahasa terbesar yang
menjadi media masyarakat Kangean dalam berkomunikasi, dua bahasa ini
dikelompokkan menurut dua komunitas etnis besar; komunitas Madura dan komunitas
Sulawesi (Sulaiman: 2015). Di tingkat kepulauan, mayoritas ujung barat
(Kangean) menggunakan salah satu dialek Madura seperti iye-enje’ enggi- bunten, sedangkan ujung timur (pulau-Sulau
Sapeken) menggunakan bahasa yang berasal dari Sulawesi seperti Bajo, Bugis,
Mandar.
Sebagaimana di Madura, masyarakat
Kangean merupakan pemeluk agama islam yang cukup fanatik, bahkan agama islam
menjadi satu-satunya agama yang ada di Kangean. Masyarakat Kangean tergolong
sangat baik dalam menjalankan ajaran Islam. Hal ini terlihat dari
kegiatan-kegiatan kegaamaan seperti diadakannya pengajian-pengajian rutin di
setiap desa. Ada pengajian khusus untuk ibu-ibu yang sering disebut pengajian “dibak” karena di pengajian itu mereka
membaca dibaiyah atau barzanji, dan ada juga pengajian khusus
untuk kalangan laki-laki dewasa.
Sementara itu
anak-anak tidak ketinggalan juga dari kecil sudah dibekali agama islam seperti
diadakannya Madrasah Diniyah (sekolah
keagamaan) biasanya waktu pelaksanaanya di siang hari sesudah mereka pulang
dari Sekolah Dasar, ada juga sistem belajar mengaji al-Qur’an di surau yang
sudah turun-temurun dilakukan. Pada saat anak tesebut sudah khatam al-Qur’an
maka orang tuanya akan mengadakan acara khataman Qur’an atau di sebut juga penganten sunnat.
Apabila ada
perempuan atau remaja menggunakan baju ketat, hingga terlihat lekuk tubuhnya,
maka ia dikatakan bukan perempuan baik-baik, sebaliknya bila perempuan itu
berpakian sopan maka ia adalah perempuan baik-baik. hal ini tentu dipengaruhi
oleh adanya budaya luar yang masuk ke Kangean, dan juga semakin meningkatnya
industrialisasi di Kangean. Kepercayaan terhadap tradisi yang berbau ritual
keagamaan juga masih ada di Kangean, seperti diadakannya “rabbe’en” atau acara kirim-kiriman doa untuk orang yang sudah
meninggal melalui makanan yang dimintai doa kepada kiai kampung setiap malam Jum’at
karena mereka yang hidup mempunyai kepercayaan bahwa setiap malam Jum’at orang
yang sudah meninggal akan naik ke rumahnya di dunia, dan makanan yang disajikan
adalah makanan kesukaan almarhum atau almarhumah semasa hidupnya.
Jika dalam masyarakat Madura, kiai atau ustadz
paling dihormati dibandingkan dengan golongan sosial yang lain. Begitu juga di
Kangean, seorang kiai memiliki penghormatan sosial dari masyarakatnya. Kiai
akan lebih dihormati kalau ia memiliki kharisma dan kharamah karena kelebihan ilmu agamanya tersebut. Apa yang
dikatakan akan dituruti dan di aksanakan masyarakat. Jadi, di Kangean, dasar
penghormatan terhadap seseorang berturut-turut adalah kemampuan agamanya,
ilmunya (ilmu dunia), kemudian hartanya.
Selain kiai,
seorang perempuan khususnya seorang istri juga dipandang tinggi bagi masyarakat
Kangean. Dalam perspektif orang Kangean, istri merupakan simbol kehormatan
rumah tangga atau laki-laki. Kaum perempuan Kangean memiliki nilai khusus dalam
masyarakat dan kebudayaan Kangean. Nilai khusus tersebut berwujud adanya
perhatian yang lebih kepada anak-anak perempuan dari pada anak laki-laki.
Perhatian yang khusus dapat dilihat pada
unsur-unsur kebudayaan Madura, seperti struktur pemukimannya, sistem pewarisan,
dan sosialisasi. Integrasi atas unsur-unsur tersebut sekurang-kurangnya dapat
dipakai untuk mengidentifikasi kedudukan perempuan dalam keluarga. Pola-pola
pemukiman tradisional orang Madura terwujud dalam taneyan lanjhang (halaman panjang). Deretan rumah yang terbangun
dalam kesatuan permukinan itu diperuntukkan kepada anak-anak perempuan.
Masing-masing penghuninya terikat oleh hubungan kekerabatan. Jika anak-anak
perempuan itu menikah, suami akan menetap di rumah yang telah disediakan oleh
orang tua perempuan (matrilokal).
Sebaliknya, anak laki-laki akan keluar rumah setelah mereka menikah dan menetap
di rumah yang telah disediakan oleh orang tua istrinya.
Adapun dalam
dimensi sossial pendidikan, realitas kultural masyarakat Kangean tidak jauh
berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Pendidikan kini menjadi barang penting
yang harus diusahakan, dan didapatkan guna bekal di masa tua. Hal ini bisa
dilihat dari tinggnya partisipasi masyarakat Kangean dalam dunia pendidikan,
mulai dari tingkat SD, SMP, SMA dan di Perguruan Tinggi. di tingakat sekolah
menengah pertama misalkan, beberapa anggota masyarakat Kangean memilih untuk
menyekolahkan anaknya di luar Kangean, bahkan sampai ke kota-kota besar di
Pulau Jawa seperti Surabaya, Malang dan Jogjakarta, demikian atas pertimbangan
demi mendapatkan penmdidikan yang lebih berkualitas daripada yang tersedia di
Kangean.
Berkaitan dengan
pendidikan ini, Pada umumnya masyarakat Kangean yang telah menyelesaikan
pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) memilih untuk tidak menikah
maupun bekerja, mereka memilih untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi
yang ada di berbagai kota besar di seluruh Indonesia. Mahasiswa Kangean banyak
memilih perguruan tinggi terkenal di Surabaya, Malang, dan Jogjakarta, misalnya
seperti Unair, ITS, Unesa, UM, UB, dan UGM. Jurusan-jurusan yang menjadi
favorit biasanya jurusan kesehatan, baik itu dokter, perawat, bidan maupun
tenaga medis lainnya. Jurusan lain yang juga banyak peminatnya adalah jurusan
kependidikan dan teknik.
Dilihat dari berbagai tradisi dan
budaya, jelas Kangean tidak berbeda jauh dengan Madura, walaupun mengalami
sedikit pergeseran tentang pelaksanaan dan nilai-nilai yang terkandung di dalam
budaya asli di Madura. Akan tetapi budaya seperti carok dan Kerapan Sapi (di Kangean Kerapan Kerbau) yang sudah
menjadi identitas Madura tidak sulit ditemui di Kangean, bahkan masih menjadi
tontonan yang menarik perhatian banyak masyarakat di sana. Ciri lain yang dapat ditemui di lapangan bahwa masyarakat
Kangean ramah terhadap masyarakat yang tidak menyakitinya dan sebaliknya akan
jahat pada orang yang dianggap menyakitinya. Selain itu masyarakat Kangean
sangat menjunjung tinggi harga diri. Hal ini tentu dapat melambangkan karakter
Madura yang cenderung keras, tegas, dan berani.
Perbedaan yang dapat terlihat dengan
jelas antara Kangean dan Madura (Sumenep) umumnya terletak pada minimnya
kehadiran pemerintah di sana. Pemerintah daerah (Kabupaten Sumenep) sebagai
induk yang berkewajiban untuk menyediakan sarana-prasarana yang dapat menunjuang
serta memperbaiki kualitas hidup masyarakat Kangean telah gagal . Hidup di
Kangean adalah hidup tanpa induk, tanpa kehadiran pemerintah.
Fasilitas-fasilitas publik yang menjadi tugas pemerintah untuk menyediakan fasilitas
bagi warganya sangat minim, untuk menuju Kangean dari pelabuhan Kalianget
(Madura) saja dibutuhkan waktu selama 10-11 jam perjalanan laut dengan kapal
yang sangat memprihatinkan. Tidak jelas antara kapal penumpang atau kapal
barang, karena di kapal yang disediakan ini manusia dicampur dengan barang dan
hewan yang akan dibawa berlayar ke Kangean. Selain itu, daya angkut kapal yang
kecil, fasilitas di kapal yang tanpa ruang untuk penumpang, serta minimnya
standar keselamatan menjadi bagian sehari-hari dari aktifitas kapal yang
berlayar ke Kangean. Sebenarnya ada kapal khusus untuk penumpang, namun
kapasitasnya kecil dan terbatas, harganya mahal, serta tidak bisa berlayar
setiap saat karena harus menyesuaikan dengan kondisi alam, bila sedang musim
ombak besar maka dipastikan tidak akan berlayar. Tentu saja ini menghambat
mobilitas dan ketersediaan kebutuhan masyarakat Kangean. Seperti yang
diketahui, kebutuhan pokok masyarakat Kangean terutama pada komoditas berupa
kebutuhan dapur sepenuhnya dipasok dari Sumenep, bila kapal tidak berlayar
tentu saja harga-harga kebutuhan pokok di Kangean akan melonjak tajam.
Tidak usah berharap akan adanya
fasilitas-fasilitas maupun layanan publik layaknya di kota, pelayanan dasar
seperti kapal, listrik, sarana pendidikan dan sarana kesehatan saja masih
minim. Listrik misalnya hanya bisa dinikmati di malam hari, itu pun bila tidak
terjadi pemadaman bergilir. Akibat seringnya terjadi pemadaman bergilir, kini
masyarakat Kangean mulai beralih pada usaha untuk memenuhi kebutuhan listrik
secara mandiri, dengan memanfaatkan tenaga surya maupun menggunakan mesin Diesel yang dimiliki secara pribadi.
Harga bensin di Kangean berada di kisaran 10 ribu, bila musim ombak dan pasokan
minim akan seketika naik berkali-kali lipat. Sarana kesehatan berupa Puskesmas hanya
melayani pelayanan-pelayanan minor, bila
dalam kondisi darurat misalnya proses kelahiran yang membutuhkan pelayanan
lebih lengkap harus dibawa ke kota Sumenep, berlayar menggunakan perahu kecil
dengan sistem sewa yang mahal dan jarak tempuh yang jauh serta resiko lainnya.
Pada dasarnya masyarakat Kangean sadar dengan
kondisi daerahnya yang jauh dari jangkauan, mereka tidak mempermasalahkan
harga, yang dibutuhkan mereka hanyalah pada kepastian dan kestabilan pasokan
kebutuhan-kebutuhan, hadirnya fasilitas-fasilitas dan pelayanan dasar baik
berupa listrik, kapal, jalan raya serta fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Ketidakhadiran Pemerintah Daerah Sumenep
dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Kangean berdampak pada tidak
harmonisnya hubungan antara masyarakat Kangean dengan Pemerintah Daerah Sumenep.
Melalui berbagai organisasi kedaerahan seperti Kesatuan Mahasiswa Kangean
(KMIK), Panitia Persiapan Kabupaten Kepulauan Sumenep (PK2S) dan Ikatan
Mahasiswa Kangean Surabaya (IMKS) yang banyak digalang oleh pemuda dan
mahasiswa, masyarakat Kangean menyerukan perjuangan untuk melepaskan diri dan
mendirikan kabupaten baru, Kabupaten Kepulauan Sumenep. Dengan menjadi kabupaten sendiri, nasib
daerah-daerah terpinggirkan akan berada di tangan mereka sendiri, tidak lagi
bergantung pada Sumenep yang hanya bisa mengambil dan menikmati kekayaan dari
Kangean tanpa usaha untuk memberikan timbal balik keuntungan. Memisahkan diri
dari Kabupaten Sumenep menjadi harapan dan usaha masyarakat dalam melakukan
perubahan dan perbaikan di Kangean.
Wacana dan aspirasi mengenai usaha
memisahkan diri dari Kabupaten Sumenep ini banyak disuarakan di media sosial Facebook dan Twitter. Hadirnya jaringan internet beberapa tahun terakhir ini di
Kangean benar-benar dimanfaatkan masyarakat Kangean untuk menggelorakan wacana
pemisahan ini. Postingan-postingan tulisan maupun pernyataan tentang isu
memisahkan dan ketimpangan Kangean dengan Sumenep selalu memantik diskusi dan
perhatian yang besar di media sosial, terutama Facebook. Dulu sebelum adanya internet, diskusi dan wacana
disebarkan secara do to dor, dari
perkumpulan ke perkumpulan lainnya. Kini masyarakat Kangean telah terbantu
dengan adanya internet, diskusi bisa dilakukan jarak jauh, terus menerus, dan
penyebarannya lebih cepat dan mudah. Facebook benar-benar telah menjadi ruang
baru bagi berlangsungnya interaksi dan diskusi-diskusi yang berkaitan dengan
isu memisahkan diri Kabupaten Sumenep.
Berbicara mengenai perkembangan teknologi, di
Kangean mulai banyak kegiatan masyarakat dilakukan dengan memanfaatkan
keberadaan teknologi, cara-cara tradisional yang dulunya menggunakan alat-alat
konvensional kini telah terjadi pergeseran, digantikan oleh keberadaan
alat-alat modern beserta segala produknya, seperti alat-alat pertanian berbasis
mekanik (traktor, mesin panen, mesin penggiling, dan mesin pengering). Begitu
pun dalam sektor ekonomi kelautan, masyarakat yang dulunya menggunakan
alat-alat tangkap tradisional untuk mencari dan mendapatkan ikan kini telah
berganti menggunakan bermacam-macam teknologi yang lebih modern.
Di sektor pendidikan, kini mulai banyak
pendidikan yang berbasis teknologi. Proses pembelajaran di kelas mulai
memanfaatkan keberadaan teknologi, baik untuk mencari bahan ajar, proses
belajar-mengajar di kelas serta Ujian Nasional berbasis komputer seperti yang
terjadi di Ujian Nasional tahun 2017 ini. Di sektor rumah tangga juga mulai
digunakan berbagai produk teknologi yang dapat membantu memudahkan urusan rumah
tangga, misalnya keberadaan mesin penanak nasi, setrika listrik, kulkas, tv,
bahkan pada jaringan internet yang kini sudah dapat dinikmati oleh semua
kalangan.
PoatScriptum: Tulisan ini hanyalah sebagian cuplikan dari tesis yang berjudul Perubahan Perilaku Konsumsi dan Kontestasi Tanda di Dunia Maya pada Kalangan Perempuan Kangean oleh Akh. Mardani Abdullah. Sengaja dipost di sini sebagai bahan tambahan referensi tentang kekangeanan. Terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar