Selasa, 05 September 2017

Relitas Kultural Mayarakat Kangean

Kangean merupakan salah satu pulau yang terdapat di Kepulauan Kangean yang masih menjadi bagian dari Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa timur, terletaak di sebelah timur Pulau Madura. Mempunyai luas keseluruhan 188 km2. Pulau Kangean terbagi menjadi dua kecamatan yaitu kecamatan Arjasa yang mewakili Kangean bagian barat serta kecamatan Kangayan mewakili Kangean bagian timur yang sekaligus merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Arjasa. Berdasarkan data survei tahun 2012 kecamatan Arjasa mempunyai jumlah penduduk sebanyak 60.592 jiwa yang terbagi menjadi 19 desa. (Kecamatan Arjasa dalam angka 2013)
Jumlah penduduk yang tidak mencukupi menyebabkan Kangean tidak pernah memiliki pemerintahan sendiri. Sejak zaman dahulu Kangean telah berada di bawah kekuasaan Sumenep, sebuah kerajaan (sekarang Kabupaten) di ujung timur Madura. Nama Arjasa diduga diambil dari nama raja pertama Sumenep Wiraja Arya, yang naik tahta pada tahun 1269. Tampaknya berbagai kebijakan politik dan pembangunan pemerintah di masa lalu hingga masa kini telah mengabaikan keberadaan Kangean, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah Sumenep yang cenderung menganaktirikan Pulau Kangean. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap perkembangan Kangean dari masa ke masa.
Catatan sejarah tentang Kepulauan Kangean. Ada banyak versi cerita yang berkembang dalam masyarakat tentang bagaimana sejarah pulau ini, baik itu mengenai asal penduduk maupun sejak kapan Kangean mulai di tempati. Salah satunya adalah cerita masyarakat yang mengatakan bahwasanya Kepulauan Kangean merupakan tempat pembuangan narapidana yang mendapat hukuman dari Raja Sumenep dan kemudian diasingkan ke Kangean. Namun tidak ada literatur maupun kepustakaan yang menjelaskan dengan pasti mengenai sejarah pulau ini.
Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Charles Illouz dan Philippe Grange dari Prancis antara tahun 2002-2006 tentang Kepulauan Kangean, sangatlah sulit diketahui sejak kapan kepulauan ini mulai dihuni sebagai tempat tinggal dan bukan sekedar tempat persinggahan singkat untuk memperoleh kebutuhan hidup. Tidak ada prasasti atau peninggalan apapun yang dapat menujukkan  kapan pastinya kepulauan Kangean mulai dihuni.
Di Arjasa (Kangean) penduduk menceritakan kedatangan komunitas Tionghoa beranggotakan 1000 masyarakat ke pulau Kangean pada pertengahan abad XVIII. Mereka juga menceritidakan pada masa itu etnis Madura sudah merupakan komunitas terbesar di pulau Kangean. Hal ini mungkin ada hubungannya dengan kedatangan masyarakat Tionghoa ke Madura yang melarikan diri dari pembataian yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1740 di Batavia (Charles dan Grange, 2013:22).
Pertama-tama pada saat masyarakat Sulawesi datang, masyarakat Madura telah menempati pulau-pulau terbesar di Kepulauan Kangean (pulau Kangean) serta mengelolah menjadi lahan pertanian. Yang tersisa hanya pulau-pulau yang terletak lebih ke arah timur, berukuran kecil, seringkali tidak memiliki sumber air tawar, dan oleh karenanya tidak bisa dijadikan lahan pertanian sehingga ditinggalkan oleh masyarakat Madura. Namun masyarakat Sulawesi terutama etnis Bajo adalah masyarakat laut yang terkenal dengan cara hidup mereka di laut, jadi mereka mampu menempati pulau-pulau kecil tersebut (Charles dan Grange, 2013:23).
Terlihat dengan jelas adanya pembagian secara geografis dan demografis dari Kepulauan Kangean. Di bagian barat, terdapat Pulau Kangean yang luas dan berbukit-bukit dangan mayoritas penduduk yang berasal dari Pulau Madura. Di bagian timur (Kecamatan Sapeken), terlihat banyak pulau-pulau karang kecil yang terutama dihuni oleh “suku pelaut” dari Sulawesi seperti suku Bugis, Bajo, Mandar, Buton (Charles dan Grange: 2013:33).
Fakta bahwa penduduk Kangean sangat beragam menunjukkan bahwa Kepulauan Kangean mulai dihuni secara “permanen” dan dalam jumlah yang cukup signifikan tidak begitu kuno, barangkali sekitar tiga atau empat abad yang lalu, meskipun pulau ini telah didiami sejak zaman prasejarah. Di Kangean semua penduduk beragama islam yang telah dianut sejak zaman dahulu kala dan pernikahan menjadi faktor pemersatu berbagai komunitas tanpa adanya ketegangan sosial, sehingga pola kehidupan dan tradisi yang ada di Kangean sarat akan nilai-nilai islam. Namun proses ini belum berjalan efektif khususnya antara pulau Kangean yang berpola agraris dan pulau-pulau bagian timur yang berpola maritim. (Charles dan Grange, 2013:33).
Terdapat dua bahasa terbesar yang menjadi media masyarakat Kangean dalam berkomunikasi, dua bahasa ini dikelompokkan menurut dua komunitas etnis besar; komunitas Madura dan komunitas Sulawesi (Sulaiman: 2015). Di tingkat kepulauan, mayoritas ujung barat (Kangean) menggunakan salah satu dialek Madura seperti iye-enje’ enggi- bunten, sedangkan ujung timur (pulau-Sulau Sapeken) menggunakan bahasa yang berasal dari Sulawesi seperti Bajo, Bugis, Mandar.
Sebagaimana di Madura, masyarakat Kangean merupakan pemeluk agama islam yang cukup fanatik, bahkan agama islam menjadi satu-satunya agama yang ada di Kangean. Masyarakat Kangean tergolong sangat baik dalam menjalankan ajaran Islam. Hal ini terlihat dari kegiatan-kegiatan kegaamaan seperti diadakannya pengajian-pengajian rutin di setiap desa. Ada pengajian khusus untuk ibu-ibu yang sering disebut pengajian “dibak” karena di pengajian itu mereka membaca dibaiyah atau barzanji, dan ada juga pengajian khusus untuk kalangan laki-laki dewasa.
Sementara itu anak-anak tidak ketinggalan juga dari kecil sudah dibekali agama islam seperti diadakannya Madrasah Diniyah (sekolah keagamaan) biasanya waktu pelaksanaanya di siang hari sesudah mereka pulang dari Sekolah Dasar, ada juga sistem belajar mengaji al-Qur’an di surau yang sudah turun-temurun dilakukan. Pada saat anak tesebut sudah khatam al-Qur’an maka orang tuanya akan mengadakan acara khataman Qur’an atau di sebut juga penganten sunnat.
Apabila ada perempuan atau remaja menggunakan baju ketat, hingga terlihat lekuk tubuhnya, maka ia dikatakan bukan perempuan baik-baik, sebaliknya bila perempuan itu berpakian sopan maka ia adalah perempuan baik-baik. hal ini tentu dipengaruhi oleh adanya budaya luar yang masuk ke Kangean, dan juga semakin meningkatnya industrialisasi di Kangean. Kepercayaan terhadap tradisi yang berbau ritual keagamaan juga masih ada di Kangean, seperti diadakannya “rabbe’en” atau acara kirim-kiriman doa untuk orang yang sudah meninggal melalui makanan yang dimintai doa kepada kiai kampung setiap malam Jum’at karena mereka yang hidup mempunyai kepercayaan bahwa setiap malam Jum’at orang yang sudah meninggal akan naik ke rumahnya di dunia, dan makanan yang disajikan adalah makanan kesukaan almarhum atau almarhumah semasa hidupnya.
 Jika dalam masyarakat Madura, kiai atau ustadz paling dihormati dibandingkan dengan golongan sosial yang lain. Begitu juga di Kangean, seorang kiai memiliki penghormatan sosial dari masyarakatnya. Kiai akan lebih dihormati kalau ia memiliki kharisma dan kharamah karena kelebihan ilmu agamanya tersebut. Apa yang dikatakan akan dituruti dan di aksanakan masyarakat. Jadi, di Kangean, dasar penghormatan terhadap seseorang berturut-turut adalah kemampuan agamanya, ilmunya (ilmu dunia), kemudian hartanya.
Selain kiai, seorang perempuan khususnya seorang istri juga dipandang tinggi bagi masyarakat Kangean. Dalam perspektif orang Kangean, istri merupakan simbol kehormatan rumah tangga atau laki-laki. Kaum perempuan Kangean memiliki nilai khusus dalam masyarakat dan kebudayaan Kangean. Nilai khusus tersebut berwujud adanya perhatian yang lebih kepada anak-anak perempuan dari pada anak laki-laki. Perhatian yang  khusus dapat dilihat pada unsur-unsur kebudayaan Madura, seperti struktur pemukimannya, sistem pewarisan, dan sosialisasi. Integrasi atas unsur-unsur tersebut sekurang-kurangnya dapat dipakai untuk mengidentifikasi kedudukan perempuan dalam keluarga. Pola-pola pemukiman tradisional orang Madura terwujud dalam taneyan lanjhang (halaman panjang). Deretan rumah yang terbangun dalam kesatuan permukinan itu diperuntukkan kepada anak-anak perempuan. Masing-masing penghuninya terikat oleh hubungan kekerabatan. Jika anak-anak perempuan itu menikah, suami akan menetap di rumah yang telah disediakan oleh orang tua perempuan (matrilokal). Sebaliknya, anak laki-laki akan keluar rumah setelah mereka menikah dan menetap di rumah yang telah disediakan oleh orang tua istrinya.
Adapun dalam dimensi sossial pendidikan, realitas kultural masyarakat Kangean tidak jauh berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Pendidikan kini menjadi barang penting yang harus diusahakan, dan didapatkan guna bekal di masa tua. Hal ini bisa dilihat dari tinggnya partisipasi masyarakat Kangean dalam dunia pendidikan, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA dan di Perguruan Tinggi. di tingakat sekolah menengah pertama misalkan, beberapa anggota masyarakat Kangean memilih untuk menyekolahkan anaknya di luar Kangean, bahkan sampai ke kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Surabaya, Malang dan Jogjakarta, demikian atas pertimbangan demi mendapatkan penmdidikan yang lebih berkualitas daripada yang tersedia di Kangean.
Berkaitan dengan pendidikan ini, Pada umumnya masyarakat Kangean yang telah menyelesaikan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) memilih untuk tidak menikah maupun bekerja, mereka memilih untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang ada di berbagai kota besar di seluruh Indonesia. Mahasiswa Kangean banyak memilih perguruan tinggi terkenal di Surabaya, Malang, dan Jogjakarta, misalnya seperti Unair, ITS, Unesa, UM, UB, dan UGM. Jurusan-jurusan yang menjadi favorit biasanya jurusan kesehatan, baik itu dokter, perawat, bidan maupun tenaga medis lainnya. Jurusan lain yang juga banyak peminatnya adalah jurusan kependidikan dan teknik.
Dilihat dari berbagai tradisi dan budaya, jelas Kangean tidak berbeda jauh dengan Madura, walaupun mengalami sedikit pergeseran tentang pelaksanaan dan nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya asli di Madura. Akan tetapi budaya seperti carok dan Kerapan Sapi (di Kangean Kerapan Kerbau) yang sudah menjadi identitas Madura tidak sulit ditemui di Kangean, bahkan masih menjadi tontonan yang menarik perhatian banyak masyarakat di sana. Ciri lain yang  dapat ditemui di lapangan bahwa masyarakat Kangean ramah terhadap masyarakat yang tidak menyakitinya dan sebaliknya akan jahat pada orang yang dianggap menyakitinya. Selain itu masyarakat Kangean sangat menjunjung tinggi harga diri. Hal ini tentu dapat melambangkan karakter Madura yang cenderung keras, tegas, dan berani.
Perbedaan yang dapat terlihat dengan jelas antara Kangean dan Madura (Sumenep) umumnya terletak pada minimnya kehadiran pemerintah di sana. Pemerintah daerah (Kabupaten Sumenep) sebagai induk yang berkewajiban untuk menyediakan sarana-prasarana yang dapat menunjuang serta memperbaiki kualitas hidup masyarakat Kangean telah gagal . Hidup di Kangean adalah hidup tanpa induk, tanpa kehadiran pemerintah. Fasilitas-fasilitas publik yang menjadi tugas pemerintah untuk menyediakan fasilitas bagi warganya sangat minim, untuk menuju Kangean dari pelabuhan Kalianget (Madura) saja dibutuhkan waktu selama 10-11 jam perjalanan laut dengan kapal yang sangat memprihatinkan. Tidak jelas antara kapal penumpang atau kapal barang, karena di kapal yang disediakan ini manusia dicampur dengan barang dan hewan yang akan dibawa berlayar ke Kangean. Selain itu, daya angkut kapal yang kecil, fasilitas di kapal yang tanpa ruang untuk penumpang, serta minimnya standar keselamatan menjadi bagian sehari-hari dari aktifitas kapal yang berlayar ke Kangean. Sebenarnya ada kapal khusus untuk penumpang, namun kapasitasnya kecil dan terbatas, harganya mahal, serta tidak bisa berlayar setiap saat karena harus menyesuaikan dengan kondisi alam, bila sedang musim ombak besar maka dipastikan tidak akan berlayar. Tentu saja ini menghambat mobilitas dan ketersediaan kebutuhan masyarakat Kangean. Seperti yang diketahui, kebutuhan pokok masyarakat Kangean terutama pada komoditas berupa kebutuhan dapur sepenuhnya dipasok dari Sumenep, bila kapal tidak berlayar tentu saja harga-harga kebutuhan pokok di Kangean akan melonjak tajam.
Tidak usah berharap akan adanya fasilitas-fasilitas maupun layanan publik layaknya di kota, pelayanan dasar seperti kapal, listrik, sarana pendidikan dan sarana kesehatan saja masih minim. Listrik misalnya hanya bisa dinikmati di malam hari, itu pun bila tidak terjadi pemadaman bergilir. Akibat seringnya terjadi pemadaman bergilir, kini masyarakat Kangean mulai beralih pada usaha untuk memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri, dengan memanfaatkan tenaga surya maupun menggunakan mesin Diesel yang dimiliki secara pribadi. Harga bensin di Kangean berada di kisaran 10 ribu, bila musim ombak dan pasokan minim akan seketika naik berkali-kali lipat. Sarana kesehatan berupa Puskesmas hanya melayani pelayanan-pelayanan minor, bila dalam kondisi darurat misalnya proses kelahiran yang membutuhkan pelayanan lebih lengkap harus dibawa ke kota Sumenep, berlayar menggunakan perahu kecil dengan sistem sewa yang mahal dan jarak tempuh yang jauh serta resiko lainnya.
 Pada dasarnya masyarakat Kangean sadar dengan kondisi daerahnya yang jauh dari jangkauan, mereka tidak mempermasalahkan harga, yang dibutuhkan mereka hanyalah pada kepastian dan kestabilan pasokan kebutuhan-kebutuhan, hadirnya fasilitas-fasilitas dan pelayanan dasar baik berupa listrik, kapal, jalan raya serta fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Ketidakhadiran Pemerintah Daerah Sumenep dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Kangean berdampak pada tidak harmonisnya hubungan antara masyarakat Kangean dengan Pemerintah Daerah Sumenep. Melalui berbagai organisasi kedaerahan seperti Kesatuan Mahasiswa Kangean (KMIK), Panitia Persiapan Kabupaten Kepulauan Sumenep (PK2S) dan Ikatan Mahasiswa Kangean Surabaya (IMKS) yang banyak digalang oleh pemuda dan mahasiswa, masyarakat Kangean menyerukan perjuangan untuk melepaskan diri dan mendirikan kabupaten baru, Kabupaten Kepulauan Sumenep.  Dengan menjadi kabupaten sendiri, nasib daerah-daerah terpinggirkan akan berada di tangan mereka sendiri, tidak lagi bergantung pada Sumenep yang hanya bisa mengambil dan menikmati kekayaan dari Kangean tanpa usaha untuk memberikan timbal balik keuntungan. Memisahkan diri dari Kabupaten Sumenep menjadi harapan dan usaha masyarakat dalam melakukan perubahan dan perbaikan di Kangean.
Wacana dan aspirasi mengenai usaha memisahkan diri dari Kabupaten Sumenep ini banyak disuarakan di media sosial Facebook dan Twitter. Hadirnya jaringan internet beberapa tahun terakhir ini di Kangean benar-benar dimanfaatkan masyarakat Kangean untuk menggelorakan wacana pemisahan ini. Postingan-postingan tulisan maupun pernyataan tentang isu memisahkan dan ketimpangan Kangean dengan Sumenep selalu memantik diskusi dan perhatian yang besar di media sosial, terutama Facebook. Dulu sebelum adanya internet, diskusi dan wacana disebarkan secara do to dor, dari perkumpulan ke perkumpulan lainnya. Kini masyarakat Kangean telah terbantu dengan adanya internet, diskusi bisa dilakukan jarak jauh, terus menerus, dan penyebarannya lebih cepat dan mudah. Facebook benar-benar telah menjadi ruang baru bagi berlangsungnya interaksi dan diskusi-diskusi yang berkaitan dengan isu memisahkan diri Kabupaten Sumenep.
 Berbicara mengenai perkembangan teknologi, di Kangean mulai banyak kegiatan masyarakat dilakukan dengan memanfaatkan keberadaan teknologi, cara-cara tradisional yang dulunya menggunakan alat-alat konvensional kini telah terjadi pergeseran, digantikan oleh keberadaan alat-alat modern beserta segala produknya, seperti alat-alat pertanian berbasis mekanik (traktor, mesin panen, mesin penggiling, dan mesin pengering). Begitu pun dalam sektor ekonomi kelautan, masyarakat yang dulunya menggunakan alat-alat tangkap tradisional untuk mencari dan mendapatkan ikan kini telah berganti menggunakan bermacam-macam teknologi yang lebih modern.
Di sektor pendidikan, kini mulai banyak pendidikan yang berbasis teknologi. Proses pembelajaran di kelas mulai memanfaatkan keberadaan teknologi, baik untuk mencari bahan ajar, proses belajar-mengajar di kelas serta Ujian Nasional berbasis komputer seperti yang terjadi di Ujian Nasional tahun 2017 ini. Di sektor rumah tangga juga mulai digunakan berbagai produk teknologi yang dapat membantu memudahkan urusan rumah tangga, misalnya keberadaan mesin penanak nasi, setrika listrik, kulkas, tv, bahkan pada jaringan internet yang kini sudah dapat dinikmati oleh semua kalangan.

PoatScriptum: Tulisan ini hanyalah sebagian cuplikan dari tesis yang berjudul Perubahan Perilaku Konsumsi dan Kontestasi Tanda di Dunia Maya pada Kalangan Perempuan Kangean oleh Akh. Mardani Abdullah. Sengaja dipost di sini sebagai bahan tambahan referensi tentang kekangeanan. Terimakasih.