Kurang lebih empat bulan menjelang pemilihan umum 2014, popularitas
Jokowi semakin tak terbendung dalam survei terbaru yang diadakan oleh
Harian Kompas. Dalam survei tersebut Jokowi mendapatkan dukungan publik
sebanyak 32, 5 persen. Popularitasnya bahkan mampu mengerek suara
partainya – PDIP – mengungguli partai lain.
Angka yang didapatkan Jokowi juga jauh meninggalkan tokoh-tokoh
politik lainnya seperti Prabowo dan Aburizal Bakrie yang masing-masing
mendapat 15, 1 dan 8, 8persen. Artinya, jika pemilu dilakukan hari ini,
hampir bisa dipastikan Jokowi akan memenangi gelanggang pertandingan
dengan mutlak.
Terlepas dari pertanyaan seputar metodologi survei, mengapa Jokowi
yang beberapa tahun lalu “bukan siapa-siapa” kemudian bisa mendapatkan
kepercayaan masyarakat seperti ini?
Fenomena ini sebenarnya tak terlalu mengherankan jika kita melihat
satu gejala deparpolisasi dalam langgam politik di Indonesia pasca 1998.
Partai-partai politik di Indonesia bisa dikatakan telah kehilangan
akarnya di masyarakat. Terjadi penurunan besar-besaran angka
partisanship dari pemilu ke pemilu. Partisanship merupakan perasaan
kedekatan atau identifikasi terhadap partai tertentu.
Studi Mujani dan Liddle Personality, Party and Voter (2010)
menunjukkan bahwa di tahun 2004, angka partisanship di Indonesia berada
pada kisaran 60 %. Angka ini terus menurun dan pada tahun 2009 menjadi
hanya sekitar 22 %. Jatuhnya identitas partai secara signifikan tersebut
bisa diidentifikasi sebagai bentuk kekecewaan masyarakat terhadap
partai politik di Indonesia.
Gejala deparpolisasi juga sekaligus menegaskan fenomena yang disebut
sebagai personalisasi politik. Figur politik atau kandidat menjadi
lebih penting dari partai politik. Ideologi dan cleavages sosial tidak
lagi memadai untuk menjelaskan perilaku memilih. Gejala yang merupakan
konsekuensi logis dari modernisasi kampanye politik. Bagi publik, figur
dianggap sebagai representasi gagasan dan partai politik tidak lagi
menjadi satu institusi yang penting untuk menyalurkan pilihan politik.
Dalam kata lain, perhatian publik tersedot pada diskusi tentang
“siapa”, bukan “apa” dan “bagaimana” platform politik yang diusung oleh
kandidat maupun partai politik. Rekam jejak kandidat berujung pada
besaran popularitas kandidat akan menjadi faktor determinan dalam angka
keterpilihannya. Orang berada di atas gagasan. Citra individu melampaui
substansi.
Pilihan politik warga dalam setiap pemilihan umum kemudian tidak
lagi mencerminkan “an expression of solidarity with one’s group and its
institutions” namun telah menjadi “an expression of one’s opinions”
(Swanson dan Mancini, 1996:250).
Sementara level partai politik, fenomena personalisasi politik
menjadi salah satu pemacu partai-partai politik untuk menjadi catch-all
party. Partai-partai memilih untuk melepaskan diri dari “jualan
ideologi”. Mereka berubah menjadi partai terbuka yang bicara tentang
banyak program untuk memperebutkan ceruk suara sebesar-besarnya.
Di tahun 2004 dan 2009 bahkan para calon anggota legislatif dan
calon presiden habis-habisan memoles citra untuk menarik pemilih.
Pupuran bedak citra dilakukan melalui gencarnya iklan politik yang
ditampilkan baik di televisi maupun media cetak. Dalam era ketika
ideologi dan cleavages tidak lagi menjadi penentu utama dalam perilaku
memilih, angka swing voters atau undecided voters membesar. Ceruk inilah
yang coba dimasuki melalui iklan-iklan politik tadi.
Iklan politik dengan watak artifisialnya memperlihatkan
kecenderungan dari ketiadaan gradasi platform politik partai yang jelas
dan membedakan diri satu sama lain. Hampir semua partai bergerak ke
tengah. Kampanye menjadi ajang untuk mengumbar janji-janji populis.
Akhirnya, kita hanya akan melihat identifikasi samar-samar yang
menjadikan partai politik berada di pihak penguasa maupun oposisi
meskipun tidak ada perbedaan gagasan yang jelas.
Partai politik juga mulai mengakomodasi figur-figur populer dalam
setiap pemilihan umum. Apalagi sejak keberadaan rezim pilkada di
Indonesia. Figur-figur tersebut yang sebagian besar berasal dari luar
partai pelan-pelan menggusur kader partai yang berkualitas namun tidak
populer. Pada akhirnya, masuknya selebritis – dengan popularitasnya yang
menjulang – ke ranah politik menjadi hal yang tak terhindarkan.
Popularitas ini tentu mengggiurkan partai politik yang berharap
memperoleh insentif elektoral dari keputusan untuk memasukkan kalangan
selebritis ke dalam tubuh partai.
Sisi negatifnya, personalisasi politik mengubah gelanggang elektoral
menjadi kontestasi antar figur. Seiring menguatnya pencitraan,
“serangan” maupun polemik antar kandidat tidak lagi berada dalam ranah
ide tetapi personal. Kampanye negatif, pembunuhan karakter, sampai
pencemaran nama baik menjadi metode yang dianggap wajar untuk memperoleh
kemenangan. Kita melihat bagaimana modus personalisasi politik ini
bekerja dalam melesatnya suara Jokowi dalam sejumlah survei sampai
sejauh ini.
Melesatnya popularitas Jokowi nampak menakutkan bagi sejumlah
politisi. Ketakutan tersebut yang barangkali membuat mereka panik dan
buru-buru menolak wacana pencapresan. Jokowi sama sekali belum
memberikan keputusan apakah ia akan maju sebagai calon presiden atau
tidak. Namun, hari-hari ini jamak kita dengar mereka yang menolak
pencapresan Jokowi.
Dalihnya berbagai macam dari mulai tuntutan agar sang gubernur
menuntaskan tugasnya di Jakarta sampai minimnya pengalaman Jokowi
memimpin negara. Yang berbahaya, dalam era personalisasi politik, desain
kampanye dengan pembelahan sosial ihwal suku, ras, dan agama yang
semakin kerap dimunculkan. Belum memutuskan maju saja serangan kepada
Jokowi sudah begitu kencang. Bayangkan jika ia memutuskan maju sekarang,
bisa jadi setiap langkahnya akan dianggap sebagai bentuk pencitraan.
Dalam leksikon ilmu politik, gejala personalisasi politik ini memang
tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara yang demokrasinya
sudah dewasa, gejala semacam ini pun terjadi. Artinya, berbagai resiko
yang menyertai gejala ini adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari
namun bisa diminimalisir sisi negatifnya.
Menjelang 2014, kita berharap tokoh-tokoh politik tersebut tidak
menggunakan retorika politik yang bermusuhan. Sembari elemen masyarakat
sipil juga mesti mengawal agar proses regenerasi kepemimpinan termasuk
berbagai diskursusnya berada dalam koridor untuk mewujudkan
kesejahteraan masyarakat. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar