Anggap saja kata-kata yang pernah kau ucapkan padaku dengan sumpah dan
jari teracung ke langit itu benar berasal dari hatimu: kau sudah tak ada
perasaan lagi dengan perempuan berkerudung itu. Perempuan yang jika
diingat selalu menimbulkan senyum pilu dari bibirmu yang hitam.
Di dunia ini, wajar ada cinta yang tak bisa diselamatkan. Untuk
hal-hal seperti itu, sepatutnya kita mengucinya ke dalam peti besi,
melarungnya ke laut, dan meleburkan kuncinya dalam api. Biar ia jadi
pedang atau perisai besi. Ya, ada hal-hal yang harusnya dibuang jauh dan
tak perlu diingat lagi, kecuali untuk ditertawakan.
Iya, tertawakan saja kenangan-kenangan yang kau pahat di tapal waktumu.
Tertawakan saja tentang kau yang jatuh cinta dengan perempuan berkerudung itu.
Tertawakan saja tentang bagaimana paniknya dirimu ketika perempuan
berkerudung itu kecelakaan dan kau mendadak lari dari kelas, seperti
berusaha menyelamatkannya. Padahal pelajaran jam pertama adalah
pelajaran Bu Ismi, guru Matematika yang terkenal galak itu.
Tertawakan saja tentang bagaimana perempuan itu terkekeh ketika aku
mempelorotkan celanamu hingga tampak celana dalammu yang lantas
disebutnya sebagai "toblerone".
Tertawakan saja tentang bagaimana uang saku untuk rokok kau barter
dengan sekuntum bunga yang lantas sia-sia karena perempuan itu pulang
kampung.
Tertawakan saja tentang bagaimana kamu marah ketika aku dan Nyet
menghina perempuan yang kau sayang itu dengan sebutan "pentol" hingga ia
tersedu.
Tertawakan saja tentang kami, kawan-kawanmu, yang menganggap cinta
adalah pertempuran di medan perang, dan sepeda motor adalah senjata. Kau
kalah telak, terkangkang oleh seorang pria dari kelas sebelah. Padahal
senjatamu lebih bagus ketimbang senjatanya. Itu bukti terkadang cinta
dan perang tidak mengenal rupa, pula senjata.
Tertawakan saja tentang bagaimana kau merayu perempuan itu dengan
sebutan "Bintang" dan kau bernyanyi lagu Peterpan "Aku dan Bintang" di
Bandealit yang sunyi. Hanya ada suara sumbangmu, genjrengan gitarmu dan
cekikik genit perempuan itu. Entah dia senang atau sedih.
Dan masih banyak lagi hal-hal tentang perempuan itu yang hanya layak
kau tertawakan, tapi tidak untuk kau jadikan sedu sedan. Karena aku
percaya, kau sudah jauh berlari meninggalkan masa lampau. Masa yang
memang sering kita kenang, tapi sekali lagi, tidak untuk disesali. Cukup
dikenang lalu kemudian ditertawakan.
Jangan bersedih karena cinta yang gagal kau selamatkan. Karena kau lelaki, kelak akan sendiri. Itu kata Iwan Fals.
Ditulis dg rindu yang berkecamuk untuk Didi.
Minggu, 09 Februari 2014
Mode Ngampus, Mode buat ke Kampus (Kajian terhadap Busana Kuliah Mahasiswa FIS UNESA selama 2013-2014)
Ini tulisan terbaru saya. Sampai akhir tahun ini saya melakukan kajian
absurd, karena pusing dengan skripsi yang tak beres-beres. Nah hasilnya
seperti yang….satu ini…….
Dulu waktu masih SD saya selalu ngebet pengen jadi mahasiswa. Saya bosan berseragam putih merah, gak ada variasi. Nah setiap kali bertemu mas dan mbak mahasiswa, saya selalu melihat sosok-sosok keren, sosok-sosok tanpa seragam. Kini saya sudah mahasiswa, sudah hampir mantan mahasiswa malah.
Saya beruntung kuliah di kampus yang gak terlalu mementingkan urusan outfit, tidak seperti fakultas belakang yang kudu ini itu buat jadi sukses. Anda mau sukses, pakailah kemeja berkerah, sepatu dan bla..bla..bla.
Fakultas saya, apalagi jurusan saya termasuk cuek untuk urusan seperti itu. Dosen-dosen jurusan saya saja sebagian besar ber-jeans dan ada yang ber t-shirt saat mengajar. Ibarat bus, mesin lebih penting daripada body.
Makanya, di fakultas saya ada bermacam-macam mahasiswa dengan segala dandanannya. Nah seperti biasa, saya akan membuat klasifikasi sontoloyo. Kali ini tentang 5 mazhab mode terbesar di kampus saya. Ini sekadar hiburan ringan kala revisi skripsi saja, tak ada maksud buat melecehkan kelompok tertentu kok.
1. Mode Mushola
Jam sholat dzuhur biasanya dipenuhi makhluk-makhluk lapar yang menjejali kantin. Tapi mereka justru memenuhi mushola untuk dzhuran dan bercengkerama setelah menghadap Sang Pencipta. Ya, merekalah aktifis mushola kampus.
Dandanannya mudah dikenal, sekaligus bertahan dari tahun ke tahun. Meski tren celana pipa menjamur, para ikhwan setia dengan celana bahan sebatas mata kaki serta gamis panjang bagi kaum akhwat.
Meski kaos dengan warna jedar-jeder mencolok mata sedang mewabah, mereka setia dengan jaket kebanggaan bertuliskan nama organisasi, biasanya kalo gak KAMMI ya HMI, atau jaket Save-Save-an seperti Save Palestine, Save Ukhuwah. Dan satu lagi, mereka (kaum ikhwan) lebih memilih bersandal ketimbang bersepatu kets. Gak tau kenapa, mungkin karena anti pakai Converse yang produk Amerika. Tapi kan kita bisa nginjak Amerika sekaligus bergaya dengan pakai Converse, ya to?
2. Mode Mapala
Saya selalu beranggapan anak-anak mapala (mahasiswa pecinta alam) itu cool. Lupakan rambut gondrong bau matahari yang jarang dikeramas oleh Suster Keramas. Lupakan wajah dekil dan badan bau yang jarang tersentuh air. Lupakan sisa bau alkohol yang masih menempel hasil mabuk semalam. Bagi saya mereka tetap cool dengan kemeja flannel, celana jeans belel, dan sepatu atau sandal yang biasa dipakai untuk naik gunung. Sama seperti geng Mola, anak-anak Mala seperti kebal pada perubahan mode mutakhir khas anak-anak gaul jaman sekarang.
3. Kerudung Gawul
Berbeda dengan akhwat-akhwat yang identik dengan gamis serta jilbab panjang, para Kawul-ers muda ini mencoba mengkompromikan perintah agama dengan tuntutan mode. Kudungan tapi gak ketinggalan. Ketinggalan mode maksudnya.
Nah jadinya ya seperti begini. Kerudung untuk menutup kepala yang sesuai agama Islam memang termasuk bagian aurat. Lalu atasannya biasanya kaos lengan panjang (umumnya kaos adeknya yang dipakai). Kalau tak ada kaos lengan panjang ya kaos lengan pendek tapi ditambahi sambungan (pipa kali disambung). Itu yang umum ya. Nah bawahannya jeans. Jeans kalo longgar kan lucu ? nah dipakailah jeans model pensil yang membuat kaki terlihat mirip lemper. Atau yang lebih mutakhir sesuai tuntutan kemajuan peradaban dunia. Celana legging, yang sering dipakai buat latihan senam, yang betul-betul full pressed body, dijadikan sebagai pentup bagian bawah.
Nah sekarang bandingkan antara Mola-ers dangan Kawul-ers dengan metode analogi bangun datar. Mola-ers adalah persegi panjang. Dari atas sampai bawah baju yang mereka kenakan ya longgar-longgar, lurus dan sama sampai bawah. Nah kalo Kawul-ers adalah segitiga sama kaki terbalik. Atas longgar, makin kebawah makin sempit.
4. Mas-mas Klimis
Awalnya saya kira mereka mau sidang skripsi. Kemeja, celana bahan atau jeans (tapi bukan blue-jeans), dan sepatu pantovel. Tapi kok ya tiap hari sidang terus. Ternyata mereka adalah penganut sekte Mas Klimis. Kalau kebanyakan teman-teman saya (dan saya) kuliah dengan kostum standar (kaos, jeans dan sepatu kets), maka mas-mas klimis seperti mau sidang skripsi tadi. Kalau kami datang ke ruang kelas dengan muka kucel, rambut kusut dan aroma khas belum mandi hasil begadang garap tugas, maka mas klimis datang dengan muka segar, badan wangi dan rambut berdiri yang mengkilat. Oh ya, hobi mereka adalah merapikan baju setiap kali lewat di kaca kelas yang gelap. Beda dengan kami, mengintip apakah ada makhluk manis di balik kaca gelap
5. Etalase
Pengen lihat seisi distro di Royal? lihat makhluk ini. Ingin menengok Garlick, Smith, Cosmic, berkenalanlah dengan mereka…..
Ada yang mau nambahin ? :D
Dulu waktu masih SD saya selalu ngebet pengen jadi mahasiswa. Saya bosan berseragam putih merah, gak ada variasi. Nah setiap kali bertemu mas dan mbak mahasiswa, saya selalu melihat sosok-sosok keren, sosok-sosok tanpa seragam. Kini saya sudah mahasiswa, sudah hampir mantan mahasiswa malah.
Saya beruntung kuliah di kampus yang gak terlalu mementingkan urusan outfit, tidak seperti fakultas belakang yang kudu ini itu buat jadi sukses. Anda mau sukses, pakailah kemeja berkerah, sepatu dan bla..bla..bla.
Fakultas saya, apalagi jurusan saya termasuk cuek untuk urusan seperti itu. Dosen-dosen jurusan saya saja sebagian besar ber-jeans dan ada yang ber t-shirt saat mengajar. Ibarat bus, mesin lebih penting daripada body.
Makanya, di fakultas saya ada bermacam-macam mahasiswa dengan segala dandanannya. Nah seperti biasa, saya akan membuat klasifikasi sontoloyo. Kali ini tentang 5 mazhab mode terbesar di kampus saya. Ini sekadar hiburan ringan kala revisi skripsi saja, tak ada maksud buat melecehkan kelompok tertentu kok.
1. Mode Mushola
Jam sholat dzuhur biasanya dipenuhi makhluk-makhluk lapar yang menjejali kantin. Tapi mereka justru memenuhi mushola untuk dzhuran dan bercengkerama setelah menghadap Sang Pencipta. Ya, merekalah aktifis mushola kampus.
Dandanannya mudah dikenal, sekaligus bertahan dari tahun ke tahun. Meski tren celana pipa menjamur, para ikhwan setia dengan celana bahan sebatas mata kaki serta gamis panjang bagi kaum akhwat.
Meski kaos dengan warna jedar-jeder mencolok mata sedang mewabah, mereka setia dengan jaket kebanggaan bertuliskan nama organisasi, biasanya kalo gak KAMMI ya HMI, atau jaket Save-Save-an seperti Save Palestine, Save Ukhuwah. Dan satu lagi, mereka (kaum ikhwan) lebih memilih bersandal ketimbang bersepatu kets. Gak tau kenapa, mungkin karena anti pakai Converse yang produk Amerika. Tapi kan kita bisa nginjak Amerika sekaligus bergaya dengan pakai Converse, ya to?
2. Mode Mapala
Saya selalu beranggapan anak-anak mapala (mahasiswa pecinta alam) itu cool. Lupakan rambut gondrong bau matahari yang jarang dikeramas oleh Suster Keramas. Lupakan wajah dekil dan badan bau yang jarang tersentuh air. Lupakan sisa bau alkohol yang masih menempel hasil mabuk semalam. Bagi saya mereka tetap cool dengan kemeja flannel, celana jeans belel, dan sepatu atau sandal yang biasa dipakai untuk naik gunung. Sama seperti geng Mola, anak-anak Mala seperti kebal pada perubahan mode mutakhir khas anak-anak gaul jaman sekarang.
3. Kerudung Gawul
Berbeda dengan akhwat-akhwat yang identik dengan gamis serta jilbab panjang, para Kawul-ers muda ini mencoba mengkompromikan perintah agama dengan tuntutan mode. Kudungan tapi gak ketinggalan. Ketinggalan mode maksudnya.
Nah jadinya ya seperti begini. Kerudung untuk menutup kepala yang sesuai agama Islam memang termasuk bagian aurat. Lalu atasannya biasanya kaos lengan panjang (umumnya kaos adeknya yang dipakai). Kalau tak ada kaos lengan panjang ya kaos lengan pendek tapi ditambahi sambungan (pipa kali disambung). Itu yang umum ya. Nah bawahannya jeans. Jeans kalo longgar kan lucu ? nah dipakailah jeans model pensil yang membuat kaki terlihat mirip lemper. Atau yang lebih mutakhir sesuai tuntutan kemajuan peradaban dunia. Celana legging, yang sering dipakai buat latihan senam, yang betul-betul full pressed body, dijadikan sebagai pentup bagian bawah.
Nah sekarang bandingkan antara Mola-ers dangan Kawul-ers dengan metode analogi bangun datar. Mola-ers adalah persegi panjang. Dari atas sampai bawah baju yang mereka kenakan ya longgar-longgar, lurus dan sama sampai bawah. Nah kalo Kawul-ers adalah segitiga sama kaki terbalik. Atas longgar, makin kebawah makin sempit.
4. Mas-mas Klimis
Awalnya saya kira mereka mau sidang skripsi. Kemeja, celana bahan atau jeans (tapi bukan blue-jeans), dan sepatu pantovel. Tapi kok ya tiap hari sidang terus. Ternyata mereka adalah penganut sekte Mas Klimis. Kalau kebanyakan teman-teman saya (dan saya) kuliah dengan kostum standar (kaos, jeans dan sepatu kets), maka mas-mas klimis seperti mau sidang skripsi tadi. Kalau kami datang ke ruang kelas dengan muka kucel, rambut kusut dan aroma khas belum mandi hasil begadang garap tugas, maka mas klimis datang dengan muka segar, badan wangi dan rambut berdiri yang mengkilat. Oh ya, hobi mereka adalah merapikan baju setiap kali lewat di kaca kelas yang gelap. Beda dengan kami, mengintip apakah ada makhluk manis di balik kaca gelap
5. Etalase
Pengen lihat seisi distro di Royal? lihat makhluk ini. Ingin menengok Garlick, Smith, Cosmic, berkenalanlah dengan mereka…..
Ada yang mau nambahin ? :D
Jokowi dan Politik
Kurang lebih empat bulan menjelang pemilihan umum 2014, popularitas
Jokowi semakin tak terbendung dalam survei terbaru yang diadakan oleh
Harian Kompas. Dalam survei tersebut Jokowi mendapatkan dukungan publik
sebanyak 32, 5 persen. Popularitasnya bahkan mampu mengerek suara
partainya – PDIP – mengungguli partai lain.
Angka yang didapatkan Jokowi juga jauh meninggalkan tokoh-tokoh politik lainnya seperti Prabowo dan Aburizal Bakrie yang masing-masing mendapat 15, 1 dan 8, 8persen. Artinya, jika pemilu dilakukan hari ini, hampir bisa dipastikan Jokowi akan memenangi gelanggang pertandingan dengan mutlak.
Terlepas dari pertanyaan seputar metodologi survei, mengapa Jokowi yang beberapa tahun lalu “bukan siapa-siapa” kemudian bisa mendapatkan kepercayaan masyarakat seperti ini?
Fenomena ini sebenarnya tak terlalu mengherankan jika kita melihat satu gejala deparpolisasi dalam langgam politik di Indonesia pasca 1998. Partai-partai politik di Indonesia bisa dikatakan telah kehilangan akarnya di masyarakat. Terjadi penurunan besar-besaran angka partisanship dari pemilu ke pemilu. Partisanship merupakan perasaan kedekatan atau identifikasi terhadap partai tertentu.
Studi Mujani dan Liddle Personality, Party and Voter (2010) menunjukkan bahwa di tahun 2004, angka partisanship di Indonesia berada pada kisaran 60 %. Angka ini terus menurun dan pada tahun 2009 menjadi hanya sekitar 22 %. Jatuhnya identitas partai secara signifikan tersebut bisa diidentifikasi sebagai bentuk kekecewaan masyarakat terhadap partai politik di Indonesia.
Gejala deparpolisasi juga sekaligus menegaskan fenomena yang disebut sebagai personalisasi politik. Figur politik atau kandidat menjadi lebih penting dari partai politik. Ideologi dan cleavages sosial tidak lagi memadai untuk menjelaskan perilaku memilih. Gejala yang merupakan konsekuensi logis dari modernisasi kampanye politik. Bagi publik, figur dianggap sebagai representasi gagasan dan partai politik tidak lagi menjadi satu institusi yang penting untuk menyalurkan pilihan politik.
Dalam kata lain, perhatian publik tersedot pada diskusi tentang “siapa”, bukan “apa” dan “bagaimana” platform politik yang diusung oleh kandidat maupun partai politik. Rekam jejak kandidat berujung pada besaran popularitas kandidat akan menjadi faktor determinan dalam angka keterpilihannya. Orang berada di atas gagasan. Citra individu melampaui substansi.
Pilihan politik warga dalam setiap pemilihan umum kemudian tidak lagi mencerminkan “an expression of solidarity with one’s group and its institutions” namun telah menjadi “an expression of one’s opinions” (Swanson dan Mancini, 1996:250).
Sementara level partai politik, fenomena personalisasi politik menjadi salah satu pemacu partai-partai politik untuk menjadi catch-all party. Partai-partai memilih untuk melepaskan diri dari “jualan ideologi”. Mereka berubah menjadi partai terbuka yang bicara tentang banyak program untuk memperebutkan ceruk suara sebesar-besarnya.
Di tahun 2004 dan 2009 bahkan para calon anggota legislatif dan calon presiden habis-habisan memoles citra untuk menarik pemilih. Pupuran bedak citra dilakukan melalui gencarnya iklan politik yang ditampilkan baik di televisi maupun media cetak. Dalam era ketika ideologi dan cleavages tidak lagi menjadi penentu utama dalam perilaku memilih, angka swing voters atau undecided voters membesar. Ceruk inilah yang coba dimasuki melalui iklan-iklan politik tadi.
Iklan politik dengan watak artifisialnya memperlihatkan kecenderungan dari ketiadaan gradasi platform politik partai yang jelas dan membedakan diri satu sama lain. Hampir semua partai bergerak ke tengah. Kampanye menjadi ajang untuk mengumbar janji-janji populis. Akhirnya, kita hanya akan melihat identifikasi samar-samar yang menjadikan partai politik berada di pihak penguasa maupun oposisi meskipun tidak ada perbedaan gagasan yang jelas.
Partai politik juga mulai mengakomodasi figur-figur populer dalam setiap pemilihan umum. Apalagi sejak keberadaan rezim pilkada di Indonesia. Figur-figur tersebut yang sebagian besar berasal dari luar partai pelan-pelan menggusur kader partai yang berkualitas namun tidak populer. Pada akhirnya, masuknya selebritis – dengan popularitasnya yang menjulang – ke ranah politik menjadi hal yang tak terhindarkan. Popularitas ini tentu mengggiurkan partai politik yang berharap memperoleh insentif elektoral dari keputusan untuk memasukkan kalangan selebritis ke dalam tubuh partai.
Sisi negatifnya, personalisasi politik mengubah gelanggang elektoral menjadi kontestasi antar figur. Seiring menguatnya pencitraan, “serangan” maupun polemik antar kandidat tidak lagi berada dalam ranah ide tetapi personal. Kampanye negatif, pembunuhan karakter, sampai pencemaran nama baik menjadi metode yang dianggap wajar untuk memperoleh kemenangan. Kita melihat bagaimana modus personalisasi politik ini bekerja dalam melesatnya suara Jokowi dalam sejumlah survei sampai sejauh ini.
Melesatnya popularitas Jokowi nampak menakutkan bagi sejumlah politisi. Ketakutan tersebut yang barangkali membuat mereka panik dan buru-buru menolak wacana pencapresan. Jokowi sama sekali belum memberikan keputusan apakah ia akan maju sebagai calon presiden atau tidak. Namun, hari-hari ini jamak kita dengar mereka yang menolak pencapresan Jokowi.
Dalihnya berbagai macam dari mulai tuntutan agar sang gubernur menuntaskan tugasnya di Jakarta sampai minimnya pengalaman Jokowi memimpin negara. Yang berbahaya, dalam era personalisasi politik, desain kampanye dengan pembelahan sosial ihwal suku, ras, dan agama yang semakin kerap dimunculkan. Belum memutuskan maju saja serangan kepada Jokowi sudah begitu kencang. Bayangkan jika ia memutuskan maju sekarang, bisa jadi setiap langkahnya akan dianggap sebagai bentuk pencitraan.
Dalam leksikon ilmu politik, gejala personalisasi politik ini memang tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara yang demokrasinya sudah dewasa, gejala semacam ini pun terjadi. Artinya, berbagai resiko yang menyertai gejala ini adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari namun bisa diminimalisir sisi negatifnya.
Menjelang 2014, kita berharap tokoh-tokoh politik tersebut tidak menggunakan retorika politik yang bermusuhan. Sembari elemen masyarakat sipil juga mesti mengawal agar proses regenerasi kepemimpinan termasuk berbagai diskursusnya berada dalam koridor untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Semoga.
Angka yang didapatkan Jokowi juga jauh meninggalkan tokoh-tokoh politik lainnya seperti Prabowo dan Aburizal Bakrie yang masing-masing mendapat 15, 1 dan 8, 8persen. Artinya, jika pemilu dilakukan hari ini, hampir bisa dipastikan Jokowi akan memenangi gelanggang pertandingan dengan mutlak.
Terlepas dari pertanyaan seputar metodologi survei, mengapa Jokowi yang beberapa tahun lalu “bukan siapa-siapa” kemudian bisa mendapatkan kepercayaan masyarakat seperti ini?
Fenomena ini sebenarnya tak terlalu mengherankan jika kita melihat satu gejala deparpolisasi dalam langgam politik di Indonesia pasca 1998. Partai-partai politik di Indonesia bisa dikatakan telah kehilangan akarnya di masyarakat. Terjadi penurunan besar-besaran angka partisanship dari pemilu ke pemilu. Partisanship merupakan perasaan kedekatan atau identifikasi terhadap partai tertentu.
Studi Mujani dan Liddle Personality, Party and Voter (2010) menunjukkan bahwa di tahun 2004, angka partisanship di Indonesia berada pada kisaran 60 %. Angka ini terus menurun dan pada tahun 2009 menjadi hanya sekitar 22 %. Jatuhnya identitas partai secara signifikan tersebut bisa diidentifikasi sebagai bentuk kekecewaan masyarakat terhadap partai politik di Indonesia.
Gejala deparpolisasi juga sekaligus menegaskan fenomena yang disebut sebagai personalisasi politik. Figur politik atau kandidat menjadi lebih penting dari partai politik. Ideologi dan cleavages sosial tidak lagi memadai untuk menjelaskan perilaku memilih. Gejala yang merupakan konsekuensi logis dari modernisasi kampanye politik. Bagi publik, figur dianggap sebagai representasi gagasan dan partai politik tidak lagi menjadi satu institusi yang penting untuk menyalurkan pilihan politik.
Dalam kata lain, perhatian publik tersedot pada diskusi tentang “siapa”, bukan “apa” dan “bagaimana” platform politik yang diusung oleh kandidat maupun partai politik. Rekam jejak kandidat berujung pada besaran popularitas kandidat akan menjadi faktor determinan dalam angka keterpilihannya. Orang berada di atas gagasan. Citra individu melampaui substansi.
Pilihan politik warga dalam setiap pemilihan umum kemudian tidak lagi mencerminkan “an expression of solidarity with one’s group and its institutions” namun telah menjadi “an expression of one’s opinions” (Swanson dan Mancini, 1996:250).
Sementara level partai politik, fenomena personalisasi politik menjadi salah satu pemacu partai-partai politik untuk menjadi catch-all party. Partai-partai memilih untuk melepaskan diri dari “jualan ideologi”. Mereka berubah menjadi partai terbuka yang bicara tentang banyak program untuk memperebutkan ceruk suara sebesar-besarnya.
Di tahun 2004 dan 2009 bahkan para calon anggota legislatif dan calon presiden habis-habisan memoles citra untuk menarik pemilih. Pupuran bedak citra dilakukan melalui gencarnya iklan politik yang ditampilkan baik di televisi maupun media cetak. Dalam era ketika ideologi dan cleavages tidak lagi menjadi penentu utama dalam perilaku memilih, angka swing voters atau undecided voters membesar. Ceruk inilah yang coba dimasuki melalui iklan-iklan politik tadi.
Iklan politik dengan watak artifisialnya memperlihatkan kecenderungan dari ketiadaan gradasi platform politik partai yang jelas dan membedakan diri satu sama lain. Hampir semua partai bergerak ke tengah. Kampanye menjadi ajang untuk mengumbar janji-janji populis. Akhirnya, kita hanya akan melihat identifikasi samar-samar yang menjadikan partai politik berada di pihak penguasa maupun oposisi meskipun tidak ada perbedaan gagasan yang jelas.
Partai politik juga mulai mengakomodasi figur-figur populer dalam setiap pemilihan umum. Apalagi sejak keberadaan rezim pilkada di Indonesia. Figur-figur tersebut yang sebagian besar berasal dari luar partai pelan-pelan menggusur kader partai yang berkualitas namun tidak populer. Pada akhirnya, masuknya selebritis – dengan popularitasnya yang menjulang – ke ranah politik menjadi hal yang tak terhindarkan. Popularitas ini tentu mengggiurkan partai politik yang berharap memperoleh insentif elektoral dari keputusan untuk memasukkan kalangan selebritis ke dalam tubuh partai.
Sisi negatifnya, personalisasi politik mengubah gelanggang elektoral menjadi kontestasi antar figur. Seiring menguatnya pencitraan, “serangan” maupun polemik antar kandidat tidak lagi berada dalam ranah ide tetapi personal. Kampanye negatif, pembunuhan karakter, sampai pencemaran nama baik menjadi metode yang dianggap wajar untuk memperoleh kemenangan. Kita melihat bagaimana modus personalisasi politik ini bekerja dalam melesatnya suara Jokowi dalam sejumlah survei sampai sejauh ini.
Melesatnya popularitas Jokowi nampak menakutkan bagi sejumlah politisi. Ketakutan tersebut yang barangkali membuat mereka panik dan buru-buru menolak wacana pencapresan. Jokowi sama sekali belum memberikan keputusan apakah ia akan maju sebagai calon presiden atau tidak. Namun, hari-hari ini jamak kita dengar mereka yang menolak pencapresan Jokowi.
Dalihnya berbagai macam dari mulai tuntutan agar sang gubernur menuntaskan tugasnya di Jakarta sampai minimnya pengalaman Jokowi memimpin negara. Yang berbahaya, dalam era personalisasi politik, desain kampanye dengan pembelahan sosial ihwal suku, ras, dan agama yang semakin kerap dimunculkan. Belum memutuskan maju saja serangan kepada Jokowi sudah begitu kencang. Bayangkan jika ia memutuskan maju sekarang, bisa jadi setiap langkahnya akan dianggap sebagai bentuk pencitraan.
Dalam leksikon ilmu politik, gejala personalisasi politik ini memang tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara yang demokrasinya sudah dewasa, gejala semacam ini pun terjadi. Artinya, berbagai resiko yang menyertai gejala ini adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari namun bisa diminimalisir sisi negatifnya.
Menjelang 2014, kita berharap tokoh-tokoh politik tersebut tidak menggunakan retorika politik yang bermusuhan. Sembari elemen masyarakat sipil juga mesti mengawal agar proses regenerasi kepemimpinan termasuk berbagai diskursusnya berada dalam koridor untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Semoga.
Laskar (sok) Suci
Jika ada orang yang dilarang
melakukan ritual sesuai keyakinan mereka, pastilah perintah itu berasal
dari pimpinan lembaga bernama Laskar Suci. Pun jika ada sekelompok orang
yang sedang diskusi keilmuan lantas dibubarkan karena tidak diskusi di
kampus pastilah pelakunya anggota laskar suci. Demikian juga jika ada
orang menenggak minuman keras lantas tubuhnya ditebas, hampir bisa
dipastikan pelakunya adalah anggota Laskar Suci. Polisi? Mereka memilih
ngumpet, sembunyi karena malu, sebab merasa kalah suci, kalah religius
dibanding anggota laskar.
Jadi, maklumi saja jika polisi tampak tak berarti. Kasihani saja, atau jika ada waktu, ajari saja mereka memahami makna rangkaian kata dalam kita-kitab pidana dan perdata. Syukur jika berkenan, berikan pemahaman tentang hak asasi, khususnya untuk manusia. Tolong, jangan menyinggung deklarasi universal Perserikatan Bangsa-bangsa. Terlalu berat bagi mereka.
Laskar Suci, terbukti lebih mengerti cara bekerja yang benar, memberi pelajaran kepada orang-orang yang dianggap mengotori kesalehan sosial, sebab suka menenggak alkohol di sembarang tempat. Laskar Suci tahu, mabuk pun harus dilakukan dengan cara dan pemilihan tempat yang dibenarkan, yakni yang tak dipertontonkan. Mereka tak ingin aksi minum-minum memicu orang lain meniru.
Laskar Suci hanya membolehkan peminum alkohol mabuk di restoran, klub malam atau rumah hiburan yang telah mereka sertifikasi, dengan cara menarik royalti atas seluruh keuntungan dari penjualan alkohol kemasan. Semua anggota laskar itu tahu, bahwa meminum air beralkohol itu merupakan bentuk pamer kemewahan. Dan, karena segala bentuk tindakan mempertontonkan kemewahan, berarti kesombongan dan menyakiti perasaan kaum miskin, yang bahkan minum teh atau kopi pun tidak mampu.
Sebab itulah mereka mencegah tindakan-tindakan yang mengarah kepada unjuk kesombongan.
Laskar Suci adalah penyelamat kedaulatan negara. Diadakannya hukum atau aturan negara, sejatinya untuk menciptakan harmoni. Sebuah tatanan, di mana antara manusia satu dengan yang lain tidak boleh menyakiti. Dan polisi (juga jaksa dan hakim), yang diberi wewenang mengawal hukum kelewat sering absen, maka tampillah Laskar Suci.
Sukses di satu tempat, Laskar Suci menginspirasi individu-individu kurang kerjaan di lain tempat, untuk membentuk laskar serupa. Tujuannya sama, meski bentuk aksinya bervariasi di berbagai penjuru kota dan pelosok desa. Tergantung kecerdasan dan derajad kreativitas pemimpin/inisiatornya.
Keberhasilan demi keberhasilan yang ditunjukkan laskar-laskar suci, yang dipublikasikan seragam oleh semua media massa maupun media sosial, membuat kian kecut polisi. Nyali anggotanya kian menciut, apalagi ketika mereka tahu banyak orang di sekitarnya terlibat perkara-perkara kusut.
Sementara, Laskar Suci selalu rajin mencatat kekurangan demi kekurangan polisi, lalu mereka kelola menjadi senjata untuk memojokkan kegagalan demi kegagalan polisi menjalankan mandat konsitusinya untuk menjaga ketertiban sosial, berbangsa dan negara. Singkat kata, dipakailah jurus pamungkas: kerja sama!
Polisi dan Laskar Suci saling berbagi. Ya rejeki, ya eksistensi. Keduanya sama-sama manusiawi.
Saya memilih tidak mau membayangkan bagaimana masa depan sebuah negeri, ketika polisinya diam-diam mengakui dirinya sudah tak suci lagi. Tempat-tempat judi atau lokasi-lokasi jualan whiski yang telah lama mereka lindungi secara diam-diam ternyata ketahuan Laskar Suci, maka ujung-ujungnya menjadi sesuatu yang pasti: harus kompromi.
Jadi, tak usah heran lagi jika Laskar Suci mengibarkan bendera kelewat tinggi. Kita hanya bisa berharap, polisi berani menggergaji tiang yang dipakai Laskar Suci mengibarkan panji-panjii supremasi tirani. Walaupun hal itu kini seakan merupakan keniscayaan, sebaiknya kita tak putus harapan.
Mari kita doakan keberanian rakyat teraniaya, atau tindakan warga yang terintimidasi lantas melawan aksi-aksi polisional Laskar Suci, membuat polisi jadi sadar akan kewajiban konstitusionalnya menjaga da menciptakan ketertiban sosial. Jika ada sebagian rakyat yang brutal, maklumi saja. Persetan dengan HAM dan taik kucing lainnya.
Sesekali, rakyat boleh mengekpresikan kekecewaannya, dengan caranya sendiri pula. Salah sendiri polisi kelewat sering absen dan minder kepada Laskar-laskar Suci, yang ke mana-mana selalu membawa petikan ayat kitab suci, namun sejatinya masih takut mati. Saya yakin, semua anggota dan pimpinan Laskar Suci paham, mati sahid yang mereka pahami tetaplah sesuatu yang suci sejati. Sementara, mereka tetap sadar bahwa hati dan tindakannya masih kotor senantiasa.
FUCK YOU FPI!!
Jadi, maklumi saja jika polisi tampak tak berarti. Kasihani saja, atau jika ada waktu, ajari saja mereka memahami makna rangkaian kata dalam kita-kitab pidana dan perdata. Syukur jika berkenan, berikan pemahaman tentang hak asasi, khususnya untuk manusia. Tolong, jangan menyinggung deklarasi universal Perserikatan Bangsa-bangsa. Terlalu berat bagi mereka.
Laskar Suci, terbukti lebih mengerti cara bekerja yang benar, memberi pelajaran kepada orang-orang yang dianggap mengotori kesalehan sosial, sebab suka menenggak alkohol di sembarang tempat. Laskar Suci tahu, mabuk pun harus dilakukan dengan cara dan pemilihan tempat yang dibenarkan, yakni yang tak dipertontonkan. Mereka tak ingin aksi minum-minum memicu orang lain meniru.
Laskar Suci hanya membolehkan peminum alkohol mabuk di restoran, klub malam atau rumah hiburan yang telah mereka sertifikasi, dengan cara menarik royalti atas seluruh keuntungan dari penjualan alkohol kemasan. Semua anggota laskar itu tahu, bahwa meminum air beralkohol itu merupakan bentuk pamer kemewahan. Dan, karena segala bentuk tindakan mempertontonkan kemewahan, berarti kesombongan dan menyakiti perasaan kaum miskin, yang bahkan minum teh atau kopi pun tidak mampu.
Sebab itulah mereka mencegah tindakan-tindakan yang mengarah kepada unjuk kesombongan.
Laskar Suci adalah penyelamat kedaulatan negara. Diadakannya hukum atau aturan negara, sejatinya untuk menciptakan harmoni. Sebuah tatanan, di mana antara manusia satu dengan yang lain tidak boleh menyakiti. Dan polisi (juga jaksa dan hakim), yang diberi wewenang mengawal hukum kelewat sering absen, maka tampillah Laskar Suci.
Sukses di satu tempat, Laskar Suci menginspirasi individu-individu kurang kerjaan di lain tempat, untuk membentuk laskar serupa. Tujuannya sama, meski bentuk aksinya bervariasi di berbagai penjuru kota dan pelosok desa. Tergantung kecerdasan dan derajad kreativitas pemimpin/inisiatornya.
Keberhasilan demi keberhasilan yang ditunjukkan laskar-laskar suci, yang dipublikasikan seragam oleh semua media massa maupun media sosial, membuat kian kecut polisi. Nyali anggotanya kian menciut, apalagi ketika mereka tahu banyak orang di sekitarnya terlibat perkara-perkara kusut.
Sementara, Laskar Suci selalu rajin mencatat kekurangan demi kekurangan polisi, lalu mereka kelola menjadi senjata untuk memojokkan kegagalan demi kegagalan polisi menjalankan mandat konsitusinya untuk menjaga ketertiban sosial, berbangsa dan negara. Singkat kata, dipakailah jurus pamungkas: kerja sama!
Polisi dan Laskar Suci saling berbagi. Ya rejeki, ya eksistensi. Keduanya sama-sama manusiawi.
Saya memilih tidak mau membayangkan bagaimana masa depan sebuah negeri, ketika polisinya diam-diam mengakui dirinya sudah tak suci lagi. Tempat-tempat judi atau lokasi-lokasi jualan whiski yang telah lama mereka lindungi secara diam-diam ternyata ketahuan Laskar Suci, maka ujung-ujungnya menjadi sesuatu yang pasti: harus kompromi.
Jadi, tak usah heran lagi jika Laskar Suci mengibarkan bendera kelewat tinggi. Kita hanya bisa berharap, polisi berani menggergaji tiang yang dipakai Laskar Suci mengibarkan panji-panjii supremasi tirani. Walaupun hal itu kini seakan merupakan keniscayaan, sebaiknya kita tak putus harapan.
Mari kita doakan keberanian rakyat teraniaya, atau tindakan warga yang terintimidasi lantas melawan aksi-aksi polisional Laskar Suci, membuat polisi jadi sadar akan kewajiban konstitusionalnya menjaga da menciptakan ketertiban sosial. Jika ada sebagian rakyat yang brutal, maklumi saja. Persetan dengan HAM dan taik kucing lainnya.
Sesekali, rakyat boleh mengekpresikan kekecewaannya, dengan caranya sendiri pula. Salah sendiri polisi kelewat sering absen dan minder kepada Laskar-laskar Suci, yang ke mana-mana selalu membawa petikan ayat kitab suci, namun sejatinya masih takut mati. Saya yakin, semua anggota dan pimpinan Laskar Suci paham, mati sahid yang mereka pahami tetaplah sesuatu yang suci sejati. Sementara, mereka tetap sadar bahwa hati dan tindakannya masih kotor senantiasa.
FUCK YOU FPI!!
Langganan:
Komentar (Atom)