Sejauh ini, semua capres bertingkah layaknya anak-anak remaja akil balik berotak kosong dan kebingungan sehingga mereka mencoba segala cara untuk memberikan jawaban yang terdengar enak di kuping tapi kosong secara substansi. Tiga capres yang semuanya hanya jago menyusun wacana? No thanks.
Melihat fakta-fakta di atas, apakah golput bisa disalahkan atas lahirnya pemerintahan yang buruk atau sebaliknya, pemerintahan yang buruklah yang menjadi penyebab utama semakin pesimisnya masyarakat terhadap pemilu dan meningkatnya golput?
Menjelang pemilu 2014, seperti saya katakan di atas, mulai muncul fenomena yang bertujuan menggiring masyarakat ke bilik pemilihan untuk memilih partai dan presiden. Selain kampanye hitam terhadap golput, juga muncul jargon-jargon untuk menjustifikasi kenapa kita “harus” memilih.
Salah satu justifikasi yang paling sering digaungkan adalah “memang tidak ada yang sempurna karena itu pilihlah yang terbaik dari yang terburuk".
Menurut pendapat saya, justifikasi seperti itu adalah sesuatu yang bodoh. The lesser of all evils is still an evil. Jika calon A punya track record pernah korupsi 100 M, calon B 200 M dan calon C 300 M, tetap saja memilih calon A adalah memilih seorang koruptor untuk menjadi pemimpin. Dan begitu dia menjadi pemimpin, hampir bisa dipastikan korupsinya lebih gila dari calon B dan calon C digabung.
Jadi apa harus ada pemimpin yang benar-benar bersih? Ya memang. Hanya orang bodoh yang mau dirinya dipimpin oleh bandit dan memilihnya secara sadar.
Dan sekarang pertanyaannya; kenapa tidak pernah muncul pemimpin bersih yang benar-benar layak dipilih selama ini? Jawabannya bukan di masalah memilih atau tidak, jawabannya ada di dalam masyarakat itu sendiri.
Masyarakat yang brengsek hanya akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang brengsek. Masyarakat yang munafik akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang munafik. Masyarakat yang bermental bandit akan mendudukkan gembong-gembong bandit pada tampuk-tampuk kekuasaan.
Sekarang coba lihat masyarakat Indonesia secara keseluruhan dan nilai sendiri. Lupakan jargon-jargon nasionalisme semu seperti “bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar” dan lain-lain sebab pada kenyataannya masyarakat kita pada saat ini benar-benar sampah.
Di saat bangsa lain sudah mulai membentuk masyarakat madani yang mandiri tanpa harus bergantung pada pemerintah, masyarakat kita, ironisnya di sebagian besar anak mudanya, masih bermental inlander atau budak yang mengharapkan keselamatan dan perubahan dari figur seorang ratu adil atau satria piningit.
Di saat bangsa lain sudah mulai mengaplikasikan nilai-nilai humanisme universal dalam kehidupan sehari-harinya, masyarakat kita masih bisa saling bunuh hanya karena perbedaan cara ibadah. Mental instant juga masih terpatri dalam masyarakat kita dan ini terlihat dari banyaknya buku-buku sampah tentang cara cepat menjadi kaya di deretan best seller toko buku. Sistem pendidikan kita yang hanya berbasis nilai bukan proses juga menumbuhkan mental korup sejak usia dini. Bagaimana mungkin ada pemimpin bersih atau peningkatan kualita kehidupan bisa muncul dari masyarakat sampah seperti ini?
Pada akhirnya yang harus disadari adalah peningkatan kehidupan dan kesejahteraan suatu masyarakat harus dimulai dari individu-individu di dalam masyarakat itu sendiri, bukan pada figur seorang pemimpin. Selama masih banyak individu yang bermental budak, oportunis maupun manja, maka kesejahteraan tidak akan pernah terwujud. Yang menyedihkan adalah individu-individu semacam ini justru semakin menjamur di segmen kelas menengah dan muda, segmen berpendidikan yang diharapkan bisa menjadi penggerak.
Anda boleh memiliki gadget bernilai jutaan dan berkantor di gedung menterang, akan tetapi selama anda masih dengan noraknya mengharapkan perubahan akan datang dari seorang figur yang anda bela habis-habisan seakan dia adalah Tuhan agar banyak pemilih yang memilih dia, maka anda tetap saja bermental seorang budak; seorang pandir yang tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup bahwa perubahan kehidupannya ada di tangannya sendiri.
Kaum golput bukanlah sekumpulan pemalas penyebar pesimisme seperti yang banyak didengung-dengungkan akhir-akhir ini. Sebaliknya, kaum golput adalah orang-orang optimis yang merasa tidak perlu memberikan mandat atas kehidupannya kepada figur-figur bandit. Kaum golput adalah orang-orang mandiri yang merasa tidak perlu menghamba dengan putus asa dan berdoa akan kehadiran sosok ratu adil atau satria piningit. Kami bukan budak dan kami bukan penjilat kekuasaan.
Kemaren tepatnya, hari bersejarah tentang pergulatan nurani antara golput atau tidak, menjadi puncaknya. Ketika Jokowi didaulat menjadi Capres oleh PDI-Perjuangan, harapan akan adanya pemimpin yang benar-benar mengayomi seketika tumbuh, mengingat sampai hari ini hanya ia seoranglah yang tampak bisa menjadi penghapus dahaga kita akan pemimpin yang sebenarnya.
Nasib bangsa ini setidaknya akan ditentukan oleh "Pesta Rakyat 5 tahunan" ini, ditentukan oleh pilihan kita semua, apakah kita ikut memilih atau tidak. Apakah kita hanya akan berdiam diri berpangku tangan menyerahkan nasib dan masa depan kita semua pada politisi-politisi busuk itu? Apakah kita akan saling bergotong royong membantu memberikan harapan kita semua tentang Indonesia lebih baik? Atau kita semua dengan rela menyerahkan bangsa ini pada calon presiden pelanggar HAM, pada calon presiden penculik, pembunuh, dan yang memberangus Timor-Timor itu dan juga pada calon presiden lintah darat penghisap kebahagian warga Sidoarjo itu?
Jadi anak muda, buatlah sejarahmu sendiri. Jangan jadi sekadar pengikut dan tim hore. Masa depan ada di tanganmu sendiri. Tabik!
Jumat, 14 Maret 2014
Rabu, 05 Maret 2014
Elegi
"Cuk, sepurane, aku ngampung nggalau nang tempatmu" ujar seorang kawan pada suatu siang di Surabaya yang selalu panas.
Kawan saya ini jarang sekali galau. Kalaupun galau, ia bukan tipikal yang suka mengumbar kegalauan. Karena itu saya anggap ia bercanda.
"Aku galau sampe pengen mati" tambahnya. Ah, saya jadi tambah yakin ia pasti bercanda.
"Sudah bikin surat wasiat belum?" balas saya.
Tak ada jawaban.
***
Jawaban yang tertunda itu akhirnya muncul selepas jam 8 malam. Ia menemui saya dengan wajah kusut. Mukanya yang gelap makin tambah terlihat menyeramkan. Atau malah mengibakan? Segelas kopi lantas saya hidangkan. Pintu saya buka lebar-lebar. Bunyi deru kendaraan terdengar, sehingga kami tak merasa sendirian.
Lantas mulailah kisah kelam itu dimulai. Kelam itu terwujud dalam kandasnya hubungan cinta sang kawan. Tak usahlah saya ceritakan apa penyebab putusnya. Kisahnya memang getir.
Sang kawan sudah menjalani kisah cintanya selama 2 tahun 2 bulan. Menuju 3 tahun. Ia sudah bersiap menikah. Bahkan ia pernah berkali-kali mengajak sang pacar untuk menikah. Tapi sang pacar yang belum selesai studi menangguhkan permintaan itu.
Yang bikin saya tercenung, beberapa hari sebelum kekelaman itu menyergap, kami berdua duduk santai di balkon tempat tinggal saya sembari minum bir dingin. Kami bercengkrama mengenai hidup, layaknya pria yang sedang kena mid-life crisis. Salah satu sub-tema mid-life crisis adalah pernikahan, dan itu termasuk yang kami obrolkan.
Kawan saya yakin akan menikah dengan sang pacar. Saya pun meyakini hal yang sama. Semua kawan-kawan kami juga meyakini itu. Kawan saya dan pacarnya sungguh serasi. Keluarga pun sudah saling mengenal. Rasa-rasanya kemungkinan putus mereka itu nyaris mencapai 0 persen.
Tapi kemungkinan kecil itu ternyata terjadi beberapa hari kemudian. Saya terhenyak. Ia tergoncang. Ia menambah panjang daftar orang yang patah hati pada tahun 2013. Kalau saya tak salah hitung, ada 6 orang --yang saya kenal-- yang patah hati tahun ini. Termasuk kawan saya itu.
Ia memelankan tempo cerita, lalu menyeruput kopinya pelan.
Saya diam tak banyak ucap. Menggurui dan memberi nasehat basi --macam "sabar ya" atau "nanti pasti dapet gantinya"-- adalah hal yang tak sepantasnya dilakukan dalam momen seperti ini. Mendengarkan ia bercerita adalah perbuatan yang lebih baik. Agar tak terlalu lengang, saya beranjak ke laptop. Mencari lagu, lalu memutarnya.
'Love Hurts' milik Nazareth menjadi lagu pertama yang saya putar. Bahkan rocker dengan dandanan garang pun bisa jadi menye-menye ketika cintanya rantas. Lagu ini selalu menjadi anthem bagi para pria yang cintanya tertumpas.
Love hurts,
Love scars,
Love wounds and marks
Any heart not tough or strong enough
To take a lot of pain, take a lot of pain
"Taek lagune cuk" katanya sembari tersenyum pahit. Untung saya memberi banyak gula pada kopinya, jadi tak dobel pahitnya. Lagu itu terus melantun. Mengiringi cerita kawan saya. Pedih bukan buatan. Tapi memang, patah hati harus dihadapi sendirian. Kau bisa saja berkeluh kesah pada banyak orang. Tapi pada akhirnya, jika ingin sembuh, maka kau harus menghadapinya sendiri.
"Dan dengan caranya masing-masing" kata kawan saya yang lain lagi, via pesan pendek. Kawan saya ini juga termasuk broken heart boy gelombang pertama, bareng saya.
Iya, patah hati memang harus dihadapi sendiri, dengan caranya sendiri. Ada yang traveling, ada yang menulis, ada yang pergi ke Bonbin, ada yang mabuk. Macam-macam jenisnya. Yang saya tahu pasti, cara mengatasi patah hati itu tak bisa disama-ratakan. Cara menyembuhkan patah hati memang harus dengan caranya masing-masing. 1000 orang dengan 1000 cara.
Saya lantas ingat, beberapa hari setelah saya patah hati, saya menyusun beberapa lagu patah hati. Bukan lagu menye-menye, melainkan lagu untuk memberi semangat agar patah hati lekas berlalu. Saya tak sempat menyelesaikannya, pun mempublikasikannya, karena patah hati saya minggat terlalu cepat. Tak disangka, sekarang saya berkesempatan jadi DJ, memutarkan lagu-lagu ini untuk kawan saya.
Karena bosan dengan 'Love Hurts', saya lantas memutarkan lagu yang menempati daftar pertama dalam playlist itu. John Mayer, 'I'm Gonna Find Another You.'
But when my loneliness is through
I'm gonna find another you...
Saya melirik. Muka kawan saya masih tertekuk. Ia tak merespon lagu bernuansa optimis. Maka saya memutarkan lagu lain selepas John Mayer selesai berdendang.
She's gone,
Out of my life.
I was wrong,
I'm to blame,
I was so untrue.
I can't live without her love. (1)
"Taek lagune cuukk" ujar dia sembari tertawa getir.
Ia lantas bercerita, selepas putus, ia merenungkan kenapa hubungannya bisa kandas. Lantas ia merasa bersalah. Sang mantan memakai trik reversed psychology untuk membuat kawan saya merasa bersalah. Padahal yang sebenarnya, sang kawan tak bersalah.
"Lha tak pikir-pikir, kok dadi aku sing ngeroso salah cuk?" ujarnya setengah bertanya. Saya cuma tersenyum saja. Membiarkan ia terus bercerita, saya terus mendengarkannya, menimpalinya, sambil memilih lagu untuknya.
I've been hurt
And I'm in pain
I'm not sure that I'll be fine
I never thought it would end this way (2)
Jani Lane menuliskan lagu itu ketika ia patah hati. Saya pikir, rasa sakit yang sama juga sedang merajah hati kawan saya. Kawan saya, saya, dan kawan-kawan kami, tak ada yang menyangka mereka akan putus. Dengan cara yang tak baik pula. Tipikal putus yang merajah luka. Luka di hati mungkin bisa sembuh, tapi jelas akan meninggalkan bekas luka.
Though it's been a while now
I can still feel so much pain
Like a knife that cuts you the wound heals
But the scar, that scar remains (3)
Bret Michaels juga menuliskan lagu itu ketika ia sedang dalam lara. Lara yang sama jelas sedang menjajah kawan saya. Kopinya sudah tandas, sisa ampas. Sementara di luar, di ruas Casablanca, lampu-lampu masih berpendar.
"Mau bir gak?" tawar saya. Ia menggeleng, memilih untuk terus bercerita.
Kawan saya ini berasal dari keluarga yang mengutamakan pendidikan. Jarena itu, selepas ia lulus, ada tawaran untuk melanjutkan sekolah. Saya ingat, waktu itu kawan saya ingin mengambil jurusan American Studies. Tapi setelah berpikir beberapa saat, ia memilih untuk bekerja. Saya tak tahu apa alasannya. Tapi malam itu ia berkata kalau ia ingin menabung untuk biaya menikah.
"Kalau sudah gini, ya rasanya males mau kerja" ujarnya sembari tersenyum. Masih ada sisa pahit sekecap dua kecap pada senyumnya.
I always thought we'd be together someday
There was nothing that could keep me away
Coulda worked it out somehow
But it's over now... (4)
Saya kembali gemigil. Melihat sendiri rasa sayang yang mampu membuat orang berubah. Dan rasa itu lantas kandas. Padahal kisah itu bukanlah kisah cinta sumir ala remaja baru gede. Kisahnya bukan kisah cinta semacam Aurel Hermansyah. Kisah seperti ini jelas membutuhkan waktu lama untuk saling melupakan, memaafkan, lalu kembali berjalan.
...I can see your face
There was still so much to discover
All the time we shared
Can't be erased
Tapi saya yakin, kawan saya ini cukup tangguh untuk mengatasi rasa patah hatinya. Mungkin ia akan hancur pada awalnya. Kelak, ia akan menertawakan masa ini. Nantinya ia akan memaki saya karena menemaninya melewati masa-masa berat ini. Masa berat yang kelak akan jadi masa yang mengundang tawa malu.
"Kalau udah kayak gini, cari anak yatim saja buat dinikahin. Dapat pahala" katanya. Sembari tertawa. Olala, sudah sedikit hilang rasa pahit itu.
Ia mengaku pertama kali ini merasakan patah hati yang teramat hebat. Ia, sama seperti orang lain yang pernah merasa patah hati, ia jelas mengamini apa kata Patty Smyth dan Don Henley, Sometimes Love Just Ain't Enough.
But there's a danger in loving somebody too much,
and it's sad when you know it's your heart you can't trust.
There's a reason why people don't stay where they are.
Baby, sometimes, love just aint enough.
"Ayo ke bawah beli bir" ajaknya. Saya tersenyum. Ia sepertinya sudah lelah berkesah. Tugas saya pun sudah purna: mendengarkannya. Tinggal ia --dan harus ia-- yang harus berjuang sendirian mengatasi segala pedih yang tersisa.
Selamat berjuang Don Quixote!
Kawan saya ini jarang sekali galau. Kalaupun galau, ia bukan tipikal yang suka mengumbar kegalauan. Karena itu saya anggap ia bercanda.
"Aku galau sampe pengen mati" tambahnya. Ah, saya jadi tambah yakin ia pasti bercanda.
"Sudah bikin surat wasiat belum?" balas saya.
Tak ada jawaban.
***
Jawaban yang tertunda itu akhirnya muncul selepas jam 8 malam. Ia menemui saya dengan wajah kusut. Mukanya yang gelap makin tambah terlihat menyeramkan. Atau malah mengibakan? Segelas kopi lantas saya hidangkan. Pintu saya buka lebar-lebar. Bunyi deru kendaraan terdengar, sehingga kami tak merasa sendirian.
Lantas mulailah kisah kelam itu dimulai. Kelam itu terwujud dalam kandasnya hubungan cinta sang kawan. Tak usahlah saya ceritakan apa penyebab putusnya. Kisahnya memang getir.
Sang kawan sudah menjalani kisah cintanya selama 2 tahun 2 bulan. Menuju 3 tahun. Ia sudah bersiap menikah. Bahkan ia pernah berkali-kali mengajak sang pacar untuk menikah. Tapi sang pacar yang belum selesai studi menangguhkan permintaan itu.
Yang bikin saya tercenung, beberapa hari sebelum kekelaman itu menyergap, kami berdua duduk santai di balkon tempat tinggal saya sembari minum bir dingin. Kami bercengkrama mengenai hidup, layaknya pria yang sedang kena mid-life crisis. Salah satu sub-tema mid-life crisis adalah pernikahan, dan itu termasuk yang kami obrolkan.
Kawan saya yakin akan menikah dengan sang pacar. Saya pun meyakini hal yang sama. Semua kawan-kawan kami juga meyakini itu. Kawan saya dan pacarnya sungguh serasi. Keluarga pun sudah saling mengenal. Rasa-rasanya kemungkinan putus mereka itu nyaris mencapai 0 persen.
Tapi kemungkinan kecil itu ternyata terjadi beberapa hari kemudian. Saya terhenyak. Ia tergoncang. Ia menambah panjang daftar orang yang patah hati pada tahun 2013. Kalau saya tak salah hitung, ada 6 orang --yang saya kenal-- yang patah hati tahun ini. Termasuk kawan saya itu.
Ia memelankan tempo cerita, lalu menyeruput kopinya pelan.
Saya diam tak banyak ucap. Menggurui dan memberi nasehat basi --macam "sabar ya" atau "nanti pasti dapet gantinya"-- adalah hal yang tak sepantasnya dilakukan dalam momen seperti ini. Mendengarkan ia bercerita adalah perbuatan yang lebih baik. Agar tak terlalu lengang, saya beranjak ke laptop. Mencari lagu, lalu memutarnya.
'Love Hurts' milik Nazareth menjadi lagu pertama yang saya putar. Bahkan rocker dengan dandanan garang pun bisa jadi menye-menye ketika cintanya rantas. Lagu ini selalu menjadi anthem bagi para pria yang cintanya tertumpas.
Love hurts,
Love scars,
Love wounds and marks
Any heart not tough or strong enough
To take a lot of pain, take a lot of pain
"Taek lagune cuk" katanya sembari tersenyum pahit. Untung saya memberi banyak gula pada kopinya, jadi tak dobel pahitnya. Lagu itu terus melantun. Mengiringi cerita kawan saya. Pedih bukan buatan. Tapi memang, patah hati harus dihadapi sendirian. Kau bisa saja berkeluh kesah pada banyak orang. Tapi pada akhirnya, jika ingin sembuh, maka kau harus menghadapinya sendiri.
"Dan dengan caranya masing-masing" kata kawan saya yang lain lagi, via pesan pendek. Kawan saya ini juga termasuk broken heart boy gelombang pertama, bareng saya.
Iya, patah hati memang harus dihadapi sendiri, dengan caranya sendiri. Ada yang traveling, ada yang menulis, ada yang pergi ke Bonbin, ada yang mabuk. Macam-macam jenisnya. Yang saya tahu pasti, cara mengatasi patah hati itu tak bisa disama-ratakan. Cara menyembuhkan patah hati memang harus dengan caranya masing-masing. 1000 orang dengan 1000 cara.
Saya lantas ingat, beberapa hari setelah saya patah hati, saya menyusun beberapa lagu patah hati. Bukan lagu menye-menye, melainkan lagu untuk memberi semangat agar patah hati lekas berlalu. Saya tak sempat menyelesaikannya, pun mempublikasikannya, karena patah hati saya minggat terlalu cepat. Tak disangka, sekarang saya berkesempatan jadi DJ, memutarkan lagu-lagu ini untuk kawan saya.
Karena bosan dengan 'Love Hurts', saya lantas memutarkan lagu yang menempati daftar pertama dalam playlist itu. John Mayer, 'I'm Gonna Find Another You.'
But when my loneliness is through
I'm gonna find another you...
Saya melirik. Muka kawan saya masih tertekuk. Ia tak merespon lagu bernuansa optimis. Maka saya memutarkan lagu lain selepas John Mayer selesai berdendang.
She's gone,
Out of my life.
I was wrong,
I'm to blame,
I was so untrue.
I can't live without her love. (1)
"Taek lagune cuukk" ujar dia sembari tertawa getir.
Ia lantas bercerita, selepas putus, ia merenungkan kenapa hubungannya bisa kandas. Lantas ia merasa bersalah. Sang mantan memakai trik reversed psychology untuk membuat kawan saya merasa bersalah. Padahal yang sebenarnya, sang kawan tak bersalah.
"Lha tak pikir-pikir, kok dadi aku sing ngeroso salah cuk?" ujarnya setengah bertanya. Saya cuma tersenyum saja. Membiarkan ia terus bercerita, saya terus mendengarkannya, menimpalinya, sambil memilih lagu untuknya.
I've been hurt
And I'm in pain
I'm not sure that I'll be fine
I never thought it would end this way (2)
Jani Lane menuliskan lagu itu ketika ia patah hati. Saya pikir, rasa sakit yang sama juga sedang merajah hati kawan saya. Kawan saya, saya, dan kawan-kawan kami, tak ada yang menyangka mereka akan putus. Dengan cara yang tak baik pula. Tipikal putus yang merajah luka. Luka di hati mungkin bisa sembuh, tapi jelas akan meninggalkan bekas luka.
Though it's been a while now
I can still feel so much pain
Like a knife that cuts you the wound heals
But the scar, that scar remains (3)
Bret Michaels juga menuliskan lagu itu ketika ia sedang dalam lara. Lara yang sama jelas sedang menjajah kawan saya. Kopinya sudah tandas, sisa ampas. Sementara di luar, di ruas Casablanca, lampu-lampu masih berpendar.
"Mau bir gak?" tawar saya. Ia menggeleng, memilih untuk terus bercerita.
Kawan saya ini berasal dari keluarga yang mengutamakan pendidikan. Jarena itu, selepas ia lulus, ada tawaran untuk melanjutkan sekolah. Saya ingat, waktu itu kawan saya ingin mengambil jurusan American Studies. Tapi setelah berpikir beberapa saat, ia memilih untuk bekerja. Saya tak tahu apa alasannya. Tapi malam itu ia berkata kalau ia ingin menabung untuk biaya menikah.
"Kalau sudah gini, ya rasanya males mau kerja" ujarnya sembari tersenyum. Masih ada sisa pahit sekecap dua kecap pada senyumnya.
I always thought we'd be together someday
There was nothing that could keep me away
Coulda worked it out somehow
But it's over now... (4)
Saya kembali gemigil. Melihat sendiri rasa sayang yang mampu membuat orang berubah. Dan rasa itu lantas kandas. Padahal kisah itu bukanlah kisah cinta sumir ala remaja baru gede. Kisahnya bukan kisah cinta semacam Aurel Hermansyah. Kisah seperti ini jelas membutuhkan waktu lama untuk saling melupakan, memaafkan, lalu kembali berjalan.
...I can see your face
There was still so much to discover
All the time we shared
Can't be erased
Tapi saya yakin, kawan saya ini cukup tangguh untuk mengatasi rasa patah hatinya. Mungkin ia akan hancur pada awalnya. Kelak, ia akan menertawakan masa ini. Nantinya ia akan memaki saya karena menemaninya melewati masa-masa berat ini. Masa berat yang kelak akan jadi masa yang mengundang tawa malu.
"Kalau udah kayak gini, cari anak yatim saja buat dinikahin. Dapat pahala" katanya. Sembari tertawa. Olala, sudah sedikit hilang rasa pahit itu.
Ia mengaku pertama kali ini merasakan patah hati yang teramat hebat. Ia, sama seperti orang lain yang pernah merasa patah hati, ia jelas mengamini apa kata Patty Smyth dan Don Henley, Sometimes Love Just Ain't Enough.
But there's a danger in loving somebody too much,
and it's sad when you know it's your heart you can't trust.
There's a reason why people don't stay where they are.
Baby, sometimes, love just aint enough.
"Ayo ke bawah beli bir" ajaknya. Saya tersenyum. Ia sepertinya sudah lelah berkesah. Tugas saya pun sudah purna: mendengarkannya. Tinggal ia --dan harus ia-- yang harus berjuang sendirian mengatasi segala pedih yang tersisa.
Selamat berjuang Don Quixote!
Banyak jalan untuk memaki.
Ada banyak cara untuk memaki, sebagaimana banyak alasan mengapa kita harus memaki.
Di suatu peradaban yang menjengkelkan, kita bisa muak pada siapa saja: Pada manusia-manusia munafik, pemusik yang bermusik buruk dan hanya joged-joged di tv. Mereka memainkan lagu yang hanya ingin didengarkan, meskipun mereka tak ingin menciptakannya, apalagi menyanyikan.
Kita bisa memaki pada badut-badut politik yang kerjanya korupsi dan main kelamin, kita bisa juga mengacungkan jari tengah ke presiden yang tiap hari seperti orang menstruasi. Atau pada manusia sok suci yang meneriakkan nama tuhan pada siapa yang tidak bayar setoran pada mereka.
Kita bisa memaki pada tukang parkir yang lagaknya seperti preman. Tidak menjaga apapun, tidak menjamin helm hilang atau motor dibawa kabur siapapun. Atau kalau mau agak kritis, kita bisa menyalahkan negara yang tak pernah bisa membuat lapangan pekerjaan yang cukup bagi mereka.
Kita bisa memaki karena omongan anak kemarin sore hanya dianggap iri dengki bagi manusia dekaden yang sudah mapan di kursi malas mereka, sembari menunggu ajal datang menjemput. Mungkin ia akan segera dijebloskannya ke neraka tergelap yang sudah disiapkan bagi manusia tua yang mengalami degradasi dalam segala bidang: tua, miskin bodoh, munafik dan sudah pasti lemah syahwatnya.
Kita bisa memaki pada siapa saja. Pada mini market yang sengaja memakai kelipatan harga 50 rupiah, padahal mereka mustahil punya uang kembalian. Atau kadang-kadang mereka menawarkan kita menyumbang, padahal di pengumuman donatur nanti, uang kita atas nama mereka. Atas nama kepedulian mereka pada kemanusiaan.
Kita bisa memaki pada siapa saja. Juga pada sastrawan tua, miskin, bodoh dan tak punya cara lain selain melacurkan diri.
Kita bisa memakinya dengan cara yang baik, cara yang buruk dan jauh lebih bodoh. Sebab ada seribu satu cara untuk memaki, sebagaimana banyak alasan kenapa kita harus memaki. Atau kita bisa membiarkannya saja. Menganggap mereka tak pernah ada.
Weslah. Gitu aja.
Surabaya, 6 Maret 2014.
*Maaf, tak ada estetika dari kalimat-kalimat ini. Saya sedang tidak peduli.
Di suatu peradaban yang menjengkelkan, kita bisa muak pada siapa saja: Pada manusia-manusia munafik, pemusik yang bermusik buruk dan hanya joged-joged di tv. Mereka memainkan lagu yang hanya ingin didengarkan, meskipun mereka tak ingin menciptakannya, apalagi menyanyikan.
Kita bisa memaki pada badut-badut politik yang kerjanya korupsi dan main kelamin, kita bisa juga mengacungkan jari tengah ke presiden yang tiap hari seperti orang menstruasi. Atau pada manusia sok suci yang meneriakkan nama tuhan pada siapa yang tidak bayar setoran pada mereka.
Kita bisa memaki pada tukang parkir yang lagaknya seperti preman. Tidak menjaga apapun, tidak menjamin helm hilang atau motor dibawa kabur siapapun. Atau kalau mau agak kritis, kita bisa menyalahkan negara yang tak pernah bisa membuat lapangan pekerjaan yang cukup bagi mereka.
Kita bisa memaki karena omongan anak kemarin sore hanya dianggap iri dengki bagi manusia dekaden yang sudah mapan di kursi malas mereka, sembari menunggu ajal datang menjemput. Mungkin ia akan segera dijebloskannya ke neraka tergelap yang sudah disiapkan bagi manusia tua yang mengalami degradasi dalam segala bidang: tua, miskin bodoh, munafik dan sudah pasti lemah syahwatnya.
Kita bisa memaki pada siapa saja. Pada mini market yang sengaja memakai kelipatan harga 50 rupiah, padahal mereka mustahil punya uang kembalian. Atau kadang-kadang mereka menawarkan kita menyumbang, padahal di pengumuman donatur nanti, uang kita atas nama mereka. Atas nama kepedulian mereka pada kemanusiaan.
Kita bisa memaki pada siapa saja. Juga pada sastrawan tua, miskin, bodoh dan tak punya cara lain selain melacurkan diri.
Kita bisa memakinya dengan cara yang baik, cara yang buruk dan jauh lebih bodoh. Sebab ada seribu satu cara untuk memaki, sebagaimana banyak alasan kenapa kita harus memaki. Atau kita bisa membiarkannya saja. Menganggap mereka tak pernah ada.
Weslah. Gitu aja.
Surabaya, 6 Maret 2014.
*Maaf, tak ada estetika dari kalimat-kalimat ini. Saya sedang tidak peduli.
Beli Suara Rakyat
Salah satu dampak Pemilihan Umum (Pemilu) adalah beredarnya banyak uang di tengah masyarakat. Terdapat kecenderungan para kandidat menebar uang dengan harapan bisa mendulang suara kemenangan. Di beberapa daerah berpenduduk miskin, Rp 50 ribu sudah sudah cukup untuk membeli satu suara. Namun di daerah maju, selembar duit merah belum tentu laku!
Kendati begitu, tetap saja banyak orang ingin maju. Alasannya macam-macam, kendati yang jamak –karena ingin menggaet simpati, adalah ingin memajukan daerah, meningkatkan kesejahteraan dan sebagainya. Maka, dipilihlah daerah-daerah kumuh (yang biasanya padat penduduk) sebagai target operasi.
Para kandidat sudah mafhum, mendekati kelas menengah jelas bukan perkara mudah. Mereka yang mampu secara ekonomi cenderung mendahulukan urusan bisnis atau pekerjaan dibanding membuang waktu masuk bilik coblosan. Sedang kaum menengah terpelajar, mereka lebih rasional dalam menentukan pilihan. Itulah realitas yang sangat dihitung seorang kandidat, terutama yang prestasinya tak bagus-bagus amat.
Sosok tanpa prestasi dan reputasi begitulah yang suka menjadikan kaum miskin sebagai obyek. Pura-pura disambangi dan diberi santunan atau sembako, lalu disumbang semen atau aspal untuk perbaikan jalan. Target utamanya bisa foto bersama dengan ekspresi yang diramah-ramahkan, lalu dijadikan modal untuk pamer kebaikan. Syukur ada koran atau televisi yang memberitakan.
Kandidat model demikian sangat tahu, setiap suara punya bobot yang sama. Konglomerat, mahasiwa, atau pemulung sama saja. Matematika ekonomi pun dipertimbangkan, mana yang padat suara diserang, yang kurang potensial bisa diabaikan. Metode serangan pun dipilih yang paling efektif, termasuk dengan cara politik uang.
Sulit benar menemukan kandidat yang benar-benar baik, memiliki visi dan bermoral memadai. Lihat saja buktinya, banyak bupati/walikota, gubernur atau Caleg yang sebelum menjabat tampak sangat dekat dengan rakyat, namun di tengah perjalanan karir, namanya lantas mencuat sebagai penjahat, pengembat uang rakyat.
Jangan mengira, pejabat yang sekilas tampak bersih berarti tak pernah berurusan dengan jaksa atau penyidik KPK. Pada banyak kasus, kekayaan hasil curian selama menjabat mereka sisihkan untuk menyuap oknum polisi, jaksa dan hakim serta untuk membayar oknum-oknum wartawan, sehingga borok mereka tak terpublikasikan. Istilah populernya: situ wisdom, saya diem! (Baca: Anda ‘tahu diri’, saya diam)
Kejahatan yang paling sering dilakukan para incumbent atau pejabat (Eksekutif dan Legislatif) yang mencalonkan kembali, adalah tega menipu rakyatnya. Yang paling sering dijadikan gula-gula atau imng-iming penarik simpati massa adalah pendidikan gratis dan kesehatan gratis! Kadang-kadang, perbaikan jalan pun diklaim sebagai hasil kerja keras mereka untuk rakyatnya. Padahal, sudah seharusnya mereka menjadi pelayan rakyat (atau bahkan bukan wilayah kerja dan wewenang anggota dewan, malah diklaim sebagai hasil kerja mereka).
Kepada kandidat yang demikian, kita layak menyebutnya sebagai pembohong! Pendidikan dan fasilitas kesehatan gratis merupakan kebijakan pemerintah pusat, yang sistem penganggarannya sudah dirancang sedemikian rupa secara lintas departemen, lalu diajukan Menteri Keuangan untuk dibahas dan memperoleh persetujuan di DPR. Karena itu, seorang bupati/walikota hanya tinggal (bahkan harus) menjalankan kebijakan itu. Begitupun dengan anggota dewan yang memang tugasnya "hanya" sebagai pengawas saja.
Ada baiknya, kita mengingatkan saudara, teman, tetangga dan sebanyak mungkin orang yang akan menentukan suara dalam pilkada, pileg, termasuk pemilihan kepala desa. Selain pertimbangan moralitas, visi dan track record calon perlu ditelisik dengan cermat. Jangan mudah percaya pada popularitas semata, termasuk yang dipublikasikan oleh media (massa).
Justru kita harus hati-hati manakala mendapati seorang kandidat yang jor-joran mengumbar iklan, baik di media massa maupun media luar ruang seperti banner, baliho dan aneka poster. Kian banyak iklan, kian besar biaya yang dikeluarkan. Ibarat berdagang, banyaknya pengeluaran cenderung akan dicarikan gantinya bila kelak menjabat. Sangat sedikit ada orang yang mau rugi secara finansial, kecuali dia seorang kaya raya dan berhati mulia.
Lagi pula, banyak kandidat cenderung pamer kebaikan, karena itu mereka menyewa konsultan pencitraan. Harap diingat, banyak tokoh-tokoh politik di republik ini sukses membuat pencitraan, namun namanya kian terpuruk di tengah perjalanan. Ada yang menggangsir duit rakyat, menilap uang sumbangan, hingga mengutak-atik penyelewengan dana bank.
Kian sedikit orang baik yang berkiprah di bidang politik, walau saya yakin masih tersisa orang-orang yang berhati baik. Karena itu, teliti sebelum memilih. Dengan cara saksama, tentunya...
Kendati begitu, tetap saja banyak orang ingin maju. Alasannya macam-macam, kendati yang jamak –karena ingin menggaet simpati, adalah ingin memajukan daerah, meningkatkan kesejahteraan dan sebagainya. Maka, dipilihlah daerah-daerah kumuh (yang biasanya padat penduduk) sebagai target operasi.
Para kandidat sudah mafhum, mendekati kelas menengah jelas bukan perkara mudah. Mereka yang mampu secara ekonomi cenderung mendahulukan urusan bisnis atau pekerjaan dibanding membuang waktu masuk bilik coblosan. Sedang kaum menengah terpelajar, mereka lebih rasional dalam menentukan pilihan. Itulah realitas yang sangat dihitung seorang kandidat, terutama yang prestasinya tak bagus-bagus amat.
Sosok tanpa prestasi dan reputasi begitulah yang suka menjadikan kaum miskin sebagai obyek. Pura-pura disambangi dan diberi santunan atau sembako, lalu disumbang semen atau aspal untuk perbaikan jalan. Target utamanya bisa foto bersama dengan ekspresi yang diramah-ramahkan, lalu dijadikan modal untuk pamer kebaikan. Syukur ada koran atau televisi yang memberitakan.
Kandidat model demikian sangat tahu, setiap suara punya bobot yang sama. Konglomerat, mahasiwa, atau pemulung sama saja. Matematika ekonomi pun dipertimbangkan, mana yang padat suara diserang, yang kurang potensial bisa diabaikan. Metode serangan pun dipilih yang paling efektif, termasuk dengan cara politik uang.
Sulit benar menemukan kandidat yang benar-benar baik, memiliki visi dan bermoral memadai. Lihat saja buktinya, banyak bupati/walikota, gubernur atau Caleg yang sebelum menjabat tampak sangat dekat dengan rakyat, namun di tengah perjalanan karir, namanya lantas mencuat sebagai penjahat, pengembat uang rakyat.
Jangan mengira, pejabat yang sekilas tampak bersih berarti tak pernah berurusan dengan jaksa atau penyidik KPK. Pada banyak kasus, kekayaan hasil curian selama menjabat mereka sisihkan untuk menyuap oknum polisi, jaksa dan hakim serta untuk membayar oknum-oknum wartawan, sehingga borok mereka tak terpublikasikan. Istilah populernya: situ wisdom, saya diem! (Baca: Anda ‘tahu diri’, saya diam)
Kejahatan yang paling sering dilakukan para incumbent atau pejabat (Eksekutif dan Legislatif) yang mencalonkan kembali, adalah tega menipu rakyatnya. Yang paling sering dijadikan gula-gula atau imng-iming penarik simpati massa adalah pendidikan gratis dan kesehatan gratis! Kadang-kadang, perbaikan jalan pun diklaim sebagai hasil kerja keras mereka untuk rakyatnya. Padahal, sudah seharusnya mereka menjadi pelayan rakyat (atau bahkan bukan wilayah kerja dan wewenang anggota dewan, malah diklaim sebagai hasil kerja mereka).
Kepada kandidat yang demikian, kita layak menyebutnya sebagai pembohong! Pendidikan dan fasilitas kesehatan gratis merupakan kebijakan pemerintah pusat, yang sistem penganggarannya sudah dirancang sedemikian rupa secara lintas departemen, lalu diajukan Menteri Keuangan untuk dibahas dan memperoleh persetujuan di DPR. Karena itu, seorang bupati/walikota hanya tinggal (bahkan harus) menjalankan kebijakan itu. Begitupun dengan anggota dewan yang memang tugasnya "hanya" sebagai pengawas saja.
Ada baiknya, kita mengingatkan saudara, teman, tetangga dan sebanyak mungkin orang yang akan menentukan suara dalam pilkada, pileg, termasuk pemilihan kepala desa. Selain pertimbangan moralitas, visi dan track record calon perlu ditelisik dengan cermat. Jangan mudah percaya pada popularitas semata, termasuk yang dipublikasikan oleh media (massa).
Justru kita harus hati-hati manakala mendapati seorang kandidat yang jor-joran mengumbar iklan, baik di media massa maupun media luar ruang seperti banner, baliho dan aneka poster. Kian banyak iklan, kian besar biaya yang dikeluarkan. Ibarat berdagang, banyaknya pengeluaran cenderung akan dicarikan gantinya bila kelak menjabat. Sangat sedikit ada orang yang mau rugi secara finansial, kecuali dia seorang kaya raya dan berhati mulia.
Lagi pula, banyak kandidat cenderung pamer kebaikan, karena itu mereka menyewa konsultan pencitraan. Harap diingat, banyak tokoh-tokoh politik di republik ini sukses membuat pencitraan, namun namanya kian terpuruk di tengah perjalanan. Ada yang menggangsir duit rakyat, menilap uang sumbangan, hingga mengutak-atik penyelewengan dana bank.
Kian sedikit orang baik yang berkiprah di bidang politik, walau saya yakin masih tersisa orang-orang yang berhati baik. Karena itu, teliti sebelum memilih. Dengan cara saksama, tentunya...
Surat Cinta
Kepada Bunga Liar…
Entah apa yang harus tertulis di sini. Huruf-hurufku seakan malu menampakan diri, semenjak ia tahu bahwa akan ada sesosok Bunga Liar yang menjelma jadi gadis cantik, yang akan menyaksikannya berlenggak-lenggok. Gadis cantik, siapakah kamu? Pertanyaan itu bukan hanya huruf-hurufku saja yang mempertanyakan. Tetapi, hatiku, logikaku, rindu dan cemburu berulang kali menanyakan perihal yang sama. Siapa kamu, 4 bulan lalu aku bahkan belum mengenalmu. Ah, takdir ini mempertemukanmu dengan ku, di ruang maya. Dan tiba-tiba aku merasa seperti dekat, merasa mengenalmu jauh lebih lama dari bilangan waktu. Kamu perlahan mengambil paruh hatiku. Adakah barang semenit pikirku lepas dari senyum indah itu? Tidak, tidak gadis cantik. Ia lekat bagai telah terajah di otak kecilku.
Hari per hari, rindu serupa kuncup-kuncup yang kemudian rekah — di pagi, senja, malam. Ah, tak mengenal waktu rupa-rupanya. Seperti sudah menjadi jadwal harianku merindukanmu, gadis cantik. Dan cemburu, oups…, baiklah kuakui aku pernah cemburu dengan kekasih nyatamu. Betapa tidak, beruntungnya ia dapat memilikimu yang tak hanya cantik paras tapi juga hati dan budi. Ia dapat mencium harum wangi parfummu, membelai rambut sepinggangmu yang berponi, mengelus jemari lentikmu, mengajakmu berkencan, ah bahkan dapat mengecup bibir mungilmu, mungkin. Aku cemburu!
Tetapi, sudahlah. Untukku saat ini, anugerah rindu yang telah Tuhan berikan dan kuhibahkan padamu adalah sebaik-baik mencinta. Gadis cantik, aku tak pandai membuat surat cinta dan kurasa kamu pun telah mengetahui itu. Jadi, anggap saja ini surat cinta termanis dariku. Sekalipun tak indah, tolong jangan katakan itu pada huruf-hurufku, nanti ia malu karena tak mampu merayumu.
I Miss You
Entah apa yang harus tertulis di sini. Huruf-hurufku seakan malu menampakan diri, semenjak ia tahu bahwa akan ada sesosok Bunga Liar yang menjelma jadi gadis cantik, yang akan menyaksikannya berlenggak-lenggok. Gadis cantik, siapakah kamu? Pertanyaan itu bukan hanya huruf-hurufku saja yang mempertanyakan. Tetapi, hatiku, logikaku, rindu dan cemburu berulang kali menanyakan perihal yang sama. Siapa kamu, 4 bulan lalu aku bahkan belum mengenalmu. Ah, takdir ini mempertemukanmu dengan ku, di ruang maya. Dan tiba-tiba aku merasa seperti dekat, merasa mengenalmu jauh lebih lama dari bilangan waktu. Kamu perlahan mengambil paruh hatiku. Adakah barang semenit pikirku lepas dari senyum indah itu? Tidak, tidak gadis cantik. Ia lekat bagai telah terajah di otak kecilku.
Hari per hari, rindu serupa kuncup-kuncup yang kemudian rekah — di pagi, senja, malam. Ah, tak mengenal waktu rupa-rupanya. Seperti sudah menjadi jadwal harianku merindukanmu, gadis cantik. Dan cemburu, oups…, baiklah kuakui aku pernah cemburu dengan kekasih nyatamu. Betapa tidak, beruntungnya ia dapat memilikimu yang tak hanya cantik paras tapi juga hati dan budi. Ia dapat mencium harum wangi parfummu, membelai rambut sepinggangmu yang berponi, mengelus jemari lentikmu, mengajakmu berkencan, ah bahkan dapat mengecup bibir mungilmu, mungkin. Aku cemburu!
Tetapi, sudahlah. Untukku saat ini, anugerah rindu yang telah Tuhan berikan dan kuhibahkan padamu adalah sebaik-baik mencinta. Gadis cantik, aku tak pandai membuat surat cinta dan kurasa kamu pun telah mengetahui itu. Jadi, anggap saja ini surat cinta termanis dariku. Sekalipun tak indah, tolong jangan katakan itu pada huruf-hurufku, nanti ia malu karena tak mampu merayumu.
I Miss You
Negeri Dongeng
Adalah salah jika hanya karena punya pulau garam, lantas beranggapan tersedia zat pengasin melimpah. Impor tidak salah, karena poliTikus akan malu jika jutaan rakyat Indonesia mati penyakitan karena kekurangan yodium.
Tak salah pula jika poliTikus meminta tolong pedagang menyelamatkan masa depan bangsa, mendatangkan garam dari seberang, sebab kurang yodium dalam jangka panjang akan melahirkan generasi idiot, makhluk-makhluk kretin yang memalukan.
Seburuk-buruknya tikus, jika mereka berjamaah atau poly, atau lebih dari satu, mereka akan berbagi rasa malu. Ya, poliTikus hanya malu ketika sendiri, tapi berkumpul sesama tikus, mereka menjadi percaya diri. Pasti.
Adalah salah pula jika membiarkan bangsa lain mencibir kita sebagai bangsa fakir, padahal dunia tahu, Indonesia kaya raya. Orang kaya tak boleh bermental miskin. Harga diri bangsa tercoreng jika setiap masa tampil bak dhuafa. Dan, sudah swajarnya kita berterima kasih kepada poliTikus, yang memberi solusi cerdas nan jitu, agar kita menyesuaikan Euro 2, standar hidup bangsa kaya lainnya, yang mesti beralih konsumsi Pertamax.
Pakai premium, apalagi yang bersubsidi, hanya akan mengoyak harga diri. Seolah-olah rakyat tak mampu beli, padahal tanah sangat luas terhampar, dengan aneka kekayaan terpendam di dalamnya. Sekali lagi, poliTikus mengajarkan kepada kita, agar tidak menjalani hidup sia-sia. Kita bangsa kaya, mak harus setara dengan manusia Eropa, apalagi Amerika. Begitu katanya, menurut poliTikus Indonesia Raya.
Sebagai bangsa kaya raya, poliTikus mengajari kita, agar rajin berutang. Bukan karena miskin, dan karenanya justru harus bangga, sebab itu menunjukkan kemampuan bayar cicilan kita. Makanya, Bank Dunia selalu bangga dengan Indonesia Raya, yang terus tumbuh, maju dan berhasil membuat rakyatnya kian sejahtera. Hadiah selalu diberikan, sebagai negara yang kemakmurannya terus meningkat, sehingga terus sanggup membayar bunga dari plafon utang yang kian meningkat. Karenanya, itu pantas dirayakan. Demikian nasihat poliTikus di pusat pemerintahan.
PoliTikus memang hebat. Selalu mampu membuat setiap warganya malu mengaku miskin, tidak mampu, dan sikap-sikap seputar itu. Pertumbuhan ekonomi nyatanya selalu diumumkan melaju, yang harus kita baca sebagai bukti sukses dari semua strategi jitu mengemudikan perahu.
Andai bukan bangsa kaya, mana mungkin Indonesia Raya membantu perekonomian bangsa negara-negara yang merasa maju dan mampu? Amerika tak akan kaya kalau tidak dipinjami bumi emas di Papua. Inggris pun tak tertolong jika pengusaha-pengusaha mereka tidak kita kasihani, lantas kita beri kesempatan menyedot minyak dan memperdagangkan air kita.
Australia bukanlah apa-apa jika Indonesia Raya tak mengirim ribuan pelajar dan mahasiswanya belajar di sana. Maka jangan heran jika legislator Indonesia Raya melakukan studi banding kemiskinan di negeri yang konon lebih bangga punya Kanguru dibanding Aborigin.
Singapura? Ahaaa…. Andai tak banyak tikus penggangsir kas negara yang menyimpan duitnya di sana, akan jadi apa bangsa mereka? David saja dijadikan tumbal tanpa pembelaan negara, sebab poliTikus Indonesia Raya sangat santun, cerdas dan beretika, sehingga tak mau ikut campur urusan rumah tangga negara tetangga, apalagi masih bersaudara. Luhur nian pekerti poliTikus Indonesia Raya.
Andai para rohaniwan tak berkawan dengan poliTikus, pastilah mereka akan giat melakukan kompor-kompor, menyuruh umat marah kepada pemerintahnya. Bisa saja ulama dan tokoh agama akan mengobarkan permusuhan kepada umaro, yang telah bekerja tanpa lelah dan keluh kesah, tak pernah menyerah, lantaran semua dilakukan demi rakyat, agar kian tenteram, tertib, dan terus dikenal dunia sebagai negeri loh jinawi, tenteram raharja, mulia sepanjang masa.
Sungguh benar dan pantas dipuji pekerti para poliTikus negeri ini. Uang Rp 6,7 trilyun dihibahkan untuk warganya yang sedang papa, dengan cara sedemikian sistemik. Century hanyalah nama yang dipinjam untuk segera dilupakan. Sama seperti halnya nama ‘wisma atlet’ atau ‘Hambalang’ yang sengaja diciptakan untuk tajuk, sebuah judul opera sabun. Terbukti, lakonnya digemari televisi, ditayangkan setiap hari, tanpa kenal waktu. Koran dan Internet pun gemar dan gencar mengulas.demi tiras, sebab pembaca dan penonton sinetron enggan berpaling dari aktor dan aktris yang itu-itu jua.
Jika ada rombongan orang berjubah dengan jenggot sebagai asesoris menggertak dan menyerang, jangan pernah meyakini itu sebagai aksi sungguhan. Percayalah saja pada poliTikus, sebab merekalah penulis naskah skenario yang merangkap sutradara tontonan sinetron religi itu, yang selalu mengatakan mereka adalah orang-orang baik, yang sedang melakukan syiar agama.
Indonesia Raya adalah negeri serba mungkin. Semua yang tak mungkin terjadi di mana-mana, apalagi di negeri yang mengedepankan akal seperti Amerika dan Eropa atau bangsa relijius seperti Arab dan Italia, bisa terjadi di sini, di Nusantara.
Cobalah percaya niat baik poliTikus, yang selalu berjuang meraih kehormatannya dengan nyawer sembako, semen dan uang jajan setiap lima tahun. Semua ikhlas dilakukan sebagai bentuk tali asih, tanda sayang dan kecintaan kepada sesama.
Jika di antara kita masih ada yang percaya pada keadilan dan tertib hukum, segerakan membawanya ke rumah sakit jiwa. Jangan lupa minta digenapkan dengan penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pencaksilat agar layak memperoleh serifikat kewarasan.
Adalah bahaya nyata yang akan mengancam masa depan dan keutuhan NKRI-R, Negara Kesatuan Republik Indonesia Raya, jika sampai ada yang meyakini bahwa semua hal tersebut di atas merupakan kenyataan.
Padahal, semua itu hanyalah sebuah cerita karangan, atau dongeng pengantar tidur, di mana kesamaan nama, tempat, dan waktu hanyalah kebetulan belaka. Beda dengan negeri sebelah, yang dengan Pancasila-nya telah membuat bangsanya maju dengan sebenar-benarnya.
Tak salah pula jika poliTikus meminta tolong pedagang menyelamatkan masa depan bangsa, mendatangkan garam dari seberang, sebab kurang yodium dalam jangka panjang akan melahirkan generasi idiot, makhluk-makhluk kretin yang memalukan.
Seburuk-buruknya tikus, jika mereka berjamaah atau poly, atau lebih dari satu, mereka akan berbagi rasa malu. Ya, poliTikus hanya malu ketika sendiri, tapi berkumpul sesama tikus, mereka menjadi percaya diri. Pasti.
Adalah salah pula jika membiarkan bangsa lain mencibir kita sebagai bangsa fakir, padahal dunia tahu, Indonesia kaya raya. Orang kaya tak boleh bermental miskin. Harga diri bangsa tercoreng jika setiap masa tampil bak dhuafa. Dan, sudah swajarnya kita berterima kasih kepada poliTikus, yang memberi solusi cerdas nan jitu, agar kita menyesuaikan Euro 2, standar hidup bangsa kaya lainnya, yang mesti beralih konsumsi Pertamax.
Pakai premium, apalagi yang bersubsidi, hanya akan mengoyak harga diri. Seolah-olah rakyat tak mampu beli, padahal tanah sangat luas terhampar, dengan aneka kekayaan terpendam di dalamnya. Sekali lagi, poliTikus mengajarkan kepada kita, agar tidak menjalani hidup sia-sia. Kita bangsa kaya, mak harus setara dengan manusia Eropa, apalagi Amerika. Begitu katanya, menurut poliTikus Indonesia Raya.
Sebagai bangsa kaya raya, poliTikus mengajari kita, agar rajin berutang. Bukan karena miskin, dan karenanya justru harus bangga, sebab itu menunjukkan kemampuan bayar cicilan kita. Makanya, Bank Dunia selalu bangga dengan Indonesia Raya, yang terus tumbuh, maju dan berhasil membuat rakyatnya kian sejahtera. Hadiah selalu diberikan, sebagai negara yang kemakmurannya terus meningkat, sehingga terus sanggup membayar bunga dari plafon utang yang kian meningkat. Karenanya, itu pantas dirayakan. Demikian nasihat poliTikus di pusat pemerintahan.
PoliTikus memang hebat. Selalu mampu membuat setiap warganya malu mengaku miskin, tidak mampu, dan sikap-sikap seputar itu. Pertumbuhan ekonomi nyatanya selalu diumumkan melaju, yang harus kita baca sebagai bukti sukses dari semua strategi jitu mengemudikan perahu.
Andai bukan bangsa kaya, mana mungkin Indonesia Raya membantu perekonomian bangsa negara-negara yang merasa maju dan mampu? Amerika tak akan kaya kalau tidak dipinjami bumi emas di Papua. Inggris pun tak tertolong jika pengusaha-pengusaha mereka tidak kita kasihani, lantas kita beri kesempatan menyedot minyak dan memperdagangkan air kita.
Australia bukanlah apa-apa jika Indonesia Raya tak mengirim ribuan pelajar dan mahasiswanya belajar di sana. Maka jangan heran jika legislator Indonesia Raya melakukan studi banding kemiskinan di negeri yang konon lebih bangga punya Kanguru dibanding Aborigin.
Singapura? Ahaaa…. Andai tak banyak tikus penggangsir kas negara yang menyimpan duitnya di sana, akan jadi apa bangsa mereka? David saja dijadikan tumbal tanpa pembelaan negara, sebab poliTikus Indonesia Raya sangat santun, cerdas dan beretika, sehingga tak mau ikut campur urusan rumah tangga negara tetangga, apalagi masih bersaudara. Luhur nian pekerti poliTikus Indonesia Raya.
Andai para rohaniwan tak berkawan dengan poliTikus, pastilah mereka akan giat melakukan kompor-kompor, menyuruh umat marah kepada pemerintahnya. Bisa saja ulama dan tokoh agama akan mengobarkan permusuhan kepada umaro, yang telah bekerja tanpa lelah dan keluh kesah, tak pernah menyerah, lantaran semua dilakukan demi rakyat, agar kian tenteram, tertib, dan terus dikenal dunia sebagai negeri loh jinawi, tenteram raharja, mulia sepanjang masa.
Sungguh benar dan pantas dipuji pekerti para poliTikus negeri ini. Uang Rp 6,7 trilyun dihibahkan untuk warganya yang sedang papa, dengan cara sedemikian sistemik. Century hanyalah nama yang dipinjam untuk segera dilupakan. Sama seperti halnya nama ‘wisma atlet’ atau ‘Hambalang’ yang sengaja diciptakan untuk tajuk, sebuah judul opera sabun. Terbukti, lakonnya digemari televisi, ditayangkan setiap hari, tanpa kenal waktu. Koran dan Internet pun gemar dan gencar mengulas.demi tiras, sebab pembaca dan penonton sinetron enggan berpaling dari aktor dan aktris yang itu-itu jua.
Jika ada rombongan orang berjubah dengan jenggot sebagai asesoris menggertak dan menyerang, jangan pernah meyakini itu sebagai aksi sungguhan. Percayalah saja pada poliTikus, sebab merekalah penulis naskah skenario yang merangkap sutradara tontonan sinetron religi itu, yang selalu mengatakan mereka adalah orang-orang baik, yang sedang melakukan syiar agama.
Indonesia Raya adalah negeri serba mungkin. Semua yang tak mungkin terjadi di mana-mana, apalagi di negeri yang mengedepankan akal seperti Amerika dan Eropa atau bangsa relijius seperti Arab dan Italia, bisa terjadi di sini, di Nusantara.
Cobalah percaya niat baik poliTikus, yang selalu berjuang meraih kehormatannya dengan nyawer sembako, semen dan uang jajan setiap lima tahun. Semua ikhlas dilakukan sebagai bentuk tali asih, tanda sayang dan kecintaan kepada sesama.
Jika di antara kita masih ada yang percaya pada keadilan dan tertib hukum, segerakan membawanya ke rumah sakit jiwa. Jangan lupa minta digenapkan dengan penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pencaksilat agar layak memperoleh serifikat kewarasan.
Adalah bahaya nyata yang akan mengancam masa depan dan keutuhan NKRI-R, Negara Kesatuan Republik Indonesia Raya, jika sampai ada yang meyakini bahwa semua hal tersebut di atas merupakan kenyataan.
Padahal, semua itu hanyalah sebuah cerita karangan, atau dongeng pengantar tidur, di mana kesamaan nama, tempat, dan waktu hanyalah kebetulan belaka. Beda dengan negeri sebelah, yang dengan Pancasila-nya telah membuat bangsanya maju dengan sebenar-benarnya.
Separatisme Kekinian
Bhineka Tunggal Ika kini hanya menjadi sebuah slogan yang nyaris kehilangan maknanya. Aktualisasi pemaknaan “berbeda-beda tetapi tetap satu jua” menjadi amat langka dewasa ini. Masyarakat justru menggunakan perbedaan sebagai senjata penghakiman bahwa suatu kelompok lebih baik daripada kelompok lainnya.
Perbedaan yang seharusnya menjadi motivasi peningkatan integritas bangsa beralih fungsi seiring dengan maraknya medornitas pemikiran yang dipengaruhi oleh rasa ingin bersaing. Persaingan antarkelompok itu mulai memberangus rasa kebersatuan.
Fenomena seperti ini terlihat jelas di banyak institusi pendidikan tinggi. Perbedaan cara pandang prematur mengakibatkan munculnya kelompok-kelompok mahasiswa yang mulai memisahkan diri dari mayoritas. Sebuah bentuk separatisme yang dilandasi ego bahwa mereka lebih baik ketimbang para mahasiswa lainnya.
Mereka mungkin tidak dengan sengaja memisahkan diri dari mayoritas. Tetapi, dengan alih-alih bahwa ideologi prematur mereka tidak sejalan dengan kebanyakan, mereka mulai membuat jarak. Beberapa menganggap ini masalah sepele, hanya sekedar soal memilih teman nongkrong. Padahal ini adalah bentuk awal dari perpecahan integritas dalam sebuah institusi pendidikan.
Anggap saja ini sebagai fenomena sosial yang tak terhindarkan, tapi toh tetap dapat diminimalisir. Mungkin banyak yang lupa bahwa selalu ada hal penting di balik sesuatu yang dianggap sepele. Ada banyak hal luar biasa yang dimiliki oleh para mahasiswa yang dianggap remeh oleh mahasiswa lainnya yang merasa lebih superior. Sayangnya, keengganan mencari tahu sudah mengakar lebih dalam. Kalau sudah begini, siapa yang salah dan siapa yang benar? Mari kita telaah soal pengelompokan mahasiswa ini dengan pembagian sebaga berikut; Akademisi, Organisator, dan Anak Gaul.
Kelompok Akademisi yang dimaksud adalah mereka yang beorientasi pada nilai. Ada yang menyebut mereka sebagai mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang). Tujuan mereka ke kampus hanya untuk belajar demi mendapatkan nilai yang memuaskan. Satu hal yang mereka lupa; kampus bukanlah sekedar tempat belajar, tetapi juga tempat interaksi sosial.
Kelompok kedua, Organisator, adalah mereka yang bergelut dalam kelembagaan kampus. Oke, sebut saja mereka mahasiswa kura-kura (kuliah-rapat, kuliah-rapat). Beberapa dari mereka sudah mempunyai pengalaman organisasi sebelumnya. Beberapa lainnya, seperti kesetanan, mengikuti hampir semua organisasi yang mungkin mereka ikuti sebagai bentuk pertunjukan eksistensi. Bersosialisasi dengan banyak orang mungkin adalah salah satu cara pencapaian aktualisasi diri, tapi bukan berarti mengesampingkan tugas utama seorang mahasiswa; belajar. Sesungguhnya, organisator yang baik adalah yang memiliki kontrol diri dan manajemen waktu yang baik. Menjadi organisator seharusnya bukan alasan untuk menunda kelulusan setahun atau dua tahun lebih lama.
Kelompok ketiga disebut Anak Gaul. Mereka adalah para mahasiswa yang tidak terlalu berorientasi pada setinggi apa nilai yang mereka dapatkan dalam setiap mata kuliah. Mereka juga tidak gila organisasi. Kelompok ini disebut gaul dengan ditandai bagaimana cara mereka berpenampilan. Mereka selalu mengikuti arus tren penampilan dan hiburan. Dua kelompok yang disebut di awal menganggap kelompok ini sebagai kaum hedonis. Menurut saya, tahu wawasan kekinian dan tahu bagaimana menyikapinya bukan melulu hedonis. Kecuali jika mereka menjadikan kekinian tersebut sebagai orientasi utama dalam segala hal.
Ketiga kelompok itu sudah dipastikan saling menganggap remeh satu sama lain. Menganggap kelompoknya selalu lebih baik ketimbang kelompok lain. Kelompok akademisi menganggap kelompok organisator membuang terlalu banyak waktu di luar kelas dan itu bukan hal yang seharusnya dilakukan mahasiswa. Kelompok organisator menyikapi kelompok anak gaul sebagai orang-orang yang tidak bisa apa-apa selain berpenampilan menarik. Sementara, penampilan bukanlah segalanya. Kelompok anak gaul berpendapat bahwa kelompok akademisi adalah sekumpulan orang aneh yang anti-sosial dan ingin sekali mengingatkan mereka bahwa manusia itu makhluk sosial, tetapi mereka terlalu gengsi untuk berinteraksi dengan orang-orang di luar lingkarannya.
Pengelompokan ini bukanlah hal yang baik untuk dipertahankan. Para mahasiswa cukup dewasa berpikir bahwa integritas adalah pilar yang seharusnya tidak bercabang. Bagaimana caranya? Mereka bisa belajar menghargai perbedaan untuk mencapai rasa kebersatuan yang utuh di bawah nama institusi pendidikan mereka. Mereka juga bisa beradaptasi dengan lebih baik lagi. Tidak ada salahnya menjadi seorang orginastor yang baik asal tidak melipakan perihal akademis dan tetap bisa mengikuti pergaulan. Ini akan menjadi kombinasi yang baik bukan?
Perbedaan yang seharusnya menjadi motivasi peningkatan integritas bangsa beralih fungsi seiring dengan maraknya medornitas pemikiran yang dipengaruhi oleh rasa ingin bersaing. Persaingan antarkelompok itu mulai memberangus rasa kebersatuan.
Fenomena seperti ini terlihat jelas di banyak institusi pendidikan tinggi. Perbedaan cara pandang prematur mengakibatkan munculnya kelompok-kelompok mahasiswa yang mulai memisahkan diri dari mayoritas. Sebuah bentuk separatisme yang dilandasi ego bahwa mereka lebih baik ketimbang para mahasiswa lainnya.
Mereka mungkin tidak dengan sengaja memisahkan diri dari mayoritas. Tetapi, dengan alih-alih bahwa ideologi prematur mereka tidak sejalan dengan kebanyakan, mereka mulai membuat jarak. Beberapa menganggap ini masalah sepele, hanya sekedar soal memilih teman nongkrong. Padahal ini adalah bentuk awal dari perpecahan integritas dalam sebuah institusi pendidikan.
Anggap saja ini sebagai fenomena sosial yang tak terhindarkan, tapi toh tetap dapat diminimalisir. Mungkin banyak yang lupa bahwa selalu ada hal penting di balik sesuatu yang dianggap sepele. Ada banyak hal luar biasa yang dimiliki oleh para mahasiswa yang dianggap remeh oleh mahasiswa lainnya yang merasa lebih superior. Sayangnya, keengganan mencari tahu sudah mengakar lebih dalam. Kalau sudah begini, siapa yang salah dan siapa yang benar? Mari kita telaah soal pengelompokan mahasiswa ini dengan pembagian sebaga berikut; Akademisi, Organisator, dan Anak Gaul.
Kelompok Akademisi yang dimaksud adalah mereka yang beorientasi pada nilai. Ada yang menyebut mereka sebagai mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang). Tujuan mereka ke kampus hanya untuk belajar demi mendapatkan nilai yang memuaskan. Satu hal yang mereka lupa; kampus bukanlah sekedar tempat belajar, tetapi juga tempat interaksi sosial.
Kelompok kedua, Organisator, adalah mereka yang bergelut dalam kelembagaan kampus. Oke, sebut saja mereka mahasiswa kura-kura (kuliah-rapat, kuliah-rapat). Beberapa dari mereka sudah mempunyai pengalaman organisasi sebelumnya. Beberapa lainnya, seperti kesetanan, mengikuti hampir semua organisasi yang mungkin mereka ikuti sebagai bentuk pertunjukan eksistensi. Bersosialisasi dengan banyak orang mungkin adalah salah satu cara pencapaian aktualisasi diri, tapi bukan berarti mengesampingkan tugas utama seorang mahasiswa; belajar. Sesungguhnya, organisator yang baik adalah yang memiliki kontrol diri dan manajemen waktu yang baik. Menjadi organisator seharusnya bukan alasan untuk menunda kelulusan setahun atau dua tahun lebih lama.
Kelompok ketiga disebut Anak Gaul. Mereka adalah para mahasiswa yang tidak terlalu berorientasi pada setinggi apa nilai yang mereka dapatkan dalam setiap mata kuliah. Mereka juga tidak gila organisasi. Kelompok ini disebut gaul dengan ditandai bagaimana cara mereka berpenampilan. Mereka selalu mengikuti arus tren penampilan dan hiburan. Dua kelompok yang disebut di awal menganggap kelompok ini sebagai kaum hedonis. Menurut saya, tahu wawasan kekinian dan tahu bagaimana menyikapinya bukan melulu hedonis. Kecuali jika mereka menjadikan kekinian tersebut sebagai orientasi utama dalam segala hal.
Ketiga kelompok itu sudah dipastikan saling menganggap remeh satu sama lain. Menganggap kelompoknya selalu lebih baik ketimbang kelompok lain. Kelompok akademisi menganggap kelompok organisator membuang terlalu banyak waktu di luar kelas dan itu bukan hal yang seharusnya dilakukan mahasiswa. Kelompok organisator menyikapi kelompok anak gaul sebagai orang-orang yang tidak bisa apa-apa selain berpenampilan menarik. Sementara, penampilan bukanlah segalanya. Kelompok anak gaul berpendapat bahwa kelompok akademisi adalah sekumpulan orang aneh yang anti-sosial dan ingin sekali mengingatkan mereka bahwa manusia itu makhluk sosial, tetapi mereka terlalu gengsi untuk berinteraksi dengan orang-orang di luar lingkarannya.
Pengelompokan ini bukanlah hal yang baik untuk dipertahankan. Para mahasiswa cukup dewasa berpikir bahwa integritas adalah pilar yang seharusnya tidak bercabang. Bagaimana caranya? Mereka bisa belajar menghargai perbedaan untuk mencapai rasa kebersatuan yang utuh di bawah nama institusi pendidikan mereka. Mereka juga bisa beradaptasi dengan lebih baik lagi. Tidak ada salahnya menjadi seorang orginastor yang baik asal tidak melipakan perihal akademis dan tetap bisa mengikuti pergaulan. Ini akan menjadi kombinasi yang baik bukan?
Langganan:
Komentar (Atom)